Diposkan pada Uncategorized

Surat Untuk Februari

Sesungguhnya, untuk Oktober.

.

Okta, kau adalah perempuan paling cantik. Setidaknya, begitulah yang ibumu katakan tiap kali kau pamit pergi sekolah. Ibumu tahu kenapa kulitmu gosong. Karena kau bahagia di bawah sana bersama peniup peluit dan tiang itu. Ibumu tahu kenapa geligimu tidak rapi dan belum pula kau rapikan. Karena Okta kecil tak puas bermain ayunan sambil duduk, juga uang untuk merapikan geligimu selalu saja kau berpura-pura lupa dan malah kau belikan cerita tak guna. Sehingga, mana ada yang mau padamu. Tapi Okta, itu semua cuma perihal uang dan prioritas.

.

Okta, kau akan telalu lebih dan terlalu kurang di luar sana. Kau akan terlalu baik juga terlalu egois. Kau akan terlalu cerdas juga terlalu bodoh. Jika kini yang lebih pandai darimu meretakkan tulang rusukmu sendiri, sehingga tiap tarikan nafas terasa seperti kiamat kecilmu, maka belajarlah ikhlas. Bukan kah pernah kau baca cerita soal Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh? Katanya, renjana harus membebaskan. Seperti ibumu.

.

Kau tumbuh bukan dengan curiga ibumu. Kau dibebaskan ke mana saja. Katanya, ia sangat percaya padamu. Dan apa yang didapatnya? Kesetiaanmu.

.

Tapi Okta, sungguh, mungkin hanya seorang ibu yang bisa seikhlas itu. Sedang gadis seusiamu selalu menuntut hak milikmu sendiri. Tapi belajarlah. Kau sangat tahu dengan jelas bahwa malammu bisa saja berbohong, bisa saja menipumu, bisa saja membodohimu, dan kau bukannya tak negatif pula tak curiga. Kau hanya harus percaya. Entah percaya pada apa. Kau hanya harus percaya; pada malammu, janji yang tertiup, atau jika (mungkin, mungkin) memang malam sudaj bosan dan tak sabar dan segera ingin pergi bertemu fajar, kau hanya harus percaya.

.

Okta, aku adalah kau di lima tahun mendatang. Aku tidak akan memberi tahumu apa yang akan kau alami sampai bertemu denganku. Kau hanya perlu melakukan usaha terbaikmu.

.

Tabik.

.

.

ps: bukan untuk ikut Surat untuk Februari 2018 yang diadakan Komunitas Pecandu Buku arena sudah lewat.

Iklan
Diposkan pada Uncategorized

Entah

Pagi itu kau memintaku mengabadikanmu

Esoknya, kita duduk canggung

Di pengujung jalan, kau memintanya lagi

Betapa kita lupa pada pundak sendiri

.

Kadang aku ingin kembali

Pada pagi di mana namamu paling atas

Dan malam hari pun

Atau ketika dengan ikhlas kau kirim lembayung yang kau setubuhi

.

Kini,

Entah kita semakin dewasa

Atau

Kita sibuk pada entah

Diposkan pada Uncategorized

Cerita Sungai dan Awan

Tak akan selamanya memang

Awan menghujani Sungai

Bahkan pada bumi tertropis sekalipun

//

Akan ada kemarau yang panjang

Tapi Sungai menunggu

Sampai penghujan tiba

//

Sungai bisa menunggu

Bahkan jika kemarau menjadi paceklik

Atau air Sungai tak lagi mengalir

//

Sungai tak bisa memaksa langit menurunkan hujan

Atau memaksa angin agar Awan menghujaninya lagi

Sungai hanya memiliki satu kemutlakan, menunggu

//

Meskipun jika sebenernya Awan tak sudi lagi menghujaninya

Sungai hanya akan berpikir bahwa

Mungkin dengan kemarau panjang,

air hujan pertama yang menyentuh keringnya Sungai akan sangat disyukuri

//

Meskipun jika sebenernya bukan begitu

Meskipun jika sebenernya bukan begitu

Sungai harus terus berbaik sangka

Diposkan pada Uncategorized

Tiga Belas

Tak pernah kuingat pernah menambah pengembang kue di pelupuk mata

Tahu-tahu sudah mengembang saja

Tak pernah kuingat pula pernah mengoleskannya pewarna

Tahu-tahu sudah membiru saja

//

Selebar apa pun nganga

Dengan seluruh perasan air yang tumpah dan menyumbat

Dan suara gemeretak yang tak terdengar

Kau tak pernah tahu

//

Bukan soal yang terkikis

Karena ombak kencang

Bukan pula yang tumbang dan tumbuh

Tapi kenapa

//

Akan lebih jelas jika yang abu diakui

Jangan dimulai putih

Berhenti hitam

Lalu abu seakan tak pernah ada

//

Karena yang memaksa masuk lebih sering yang abu

Disusul kenapa

Lalu hitam

Dan bengkak

//

Lagi

Diposkan pada Uncategorized

Sepuluh

Sepuluh kali Luna muncul

Kini malam perlahan pudar

Mungkin ia bosan menatap lama wajah Nut dan mendengarnya mengeluh

Atau kebingungan ketika Nut marah

Dan semua usaha manis yang ia berikan tak pernah Nut simpan baik

Nut lupa siapa dia sebelum malam mendekap

Hanya kumpulan debu kosmik yang kosong

Dan setelah malam mulai memudar

Ia harus tau bahwa ia tetap begitu

Lara Nut tumpah kala malam berputar

Atau kala malam diam menikmati suatu tempat

Sudah bosankah malam melihat Nut setiap saat?

Salah apa?

Sepuluh kali Luna muncul

Akan ada kah yang ke sebelas?

Diposkan pada Uncategorized

Kau dan Aku yang Tak Pernah Lantang Kita Sebut Kita

Tereselimutkan dingin sudah malam, Tuan

Desir napasnya menembus kulit

Riuh di bawah sini, Tuan

Tapi sepi tetap saja menggerayangi

Kau bicara soal rindu

Kau bicara soal kau dan aku yang tak pernah lantang kita sebut kita

Lewat bait senandung melantun

Dan aku paham lama kemudian

Tuan, kau bisa katakan jutaan kali tentang rindu dan renjanamu

Dan aku akan begitu saja percaya karena aku sudah memilikinya sebelum malam

Kau juga bisa dengan begitu saja pergi, meninggalkam jutaan pertanyaan

Dan aku hanya bisa mengubur pertanyaan itu dalam-dalam

Katamu, jangan berisik

Jangan biarkan angin mendengar tentang kau dan aku 

Mereka akan menyampaikannya menjadi gema atau gaung yang terpotong

Simpan saja sakit dan bahagia ini untuk kita berdua

Tuan, aku tak menuntut hari ini dengan lantang kau akan sebut kau dan aku kita
Karena persetan dengan itu

Selama semua sisa renjanamu milikku, bagiku cukup

Jika ingin pergi, tinggalkanlah beberapa kata jika kecup dan peluk terlalu mewah

Agar pertanyaan terjawab tuntas dan kau akan bebas

Meski luka akan tetap meretas

Tentang kau dan aku yang tak pernah lantang kita sebut kita

Bandung, 29 Juli 2017

7.27 AM

Diposkan pada #jumblingjuly2017, Uncategorized

Gelap

Lampu sudah dimatikan. Dian terlentang berbalut selimut. Menarik napas berat sambil menahan sakit. Matanya masih terjaga. Semuanya tampak sama. Tak ada yang membedakan mana lemari mana dinding. Mana jaket yang digantung mana sesuatu yang bergelantungan. Itulah mengapa kita nyaris selalu takut dalam gelap. Karena kemampuan yang kita agungkan kala siang tak berguna dalam gelap.
Dian selalu berpikir yang aneh-aneh tiap gelap datang. Mungkinkah suatu entitas dari alam lain sedang berdiam diri di bawah ranjang tempat tidurnya? Atau ada sesuatu yang sedang memperhatikannya tanpa ia sadari? Atau tiba-tiba saja di dalam selimutnya sesuatu yang menyeramkan ikut bersembunyi.

Tapi, sudah beberapa bulan ini gelap tak membuatnya begitu takut. Bunyi mesin di sampingnya lah yang membuatnya takut. Bagaimana jika bunyinya berhenti? Jika itu terjadi, maka ia akan pergi menuju entah ke mana. Mungkin gelap. Mungkin terang. Tak ada yang tahu. Karena yang sudah tiba di sana tidak bisa mengabari yang di sini apakah di sana gelap atau terang.