Diposkan pada Uncategorized

Cerita Sungai dan Awan

Tak akan selamanya memang

Awan menghujani Sungai

Bahkan pada bumi tertropis sekalipun

//

Akan ada kemarau yang panjang

Tapi Sungai menunggu

Sampai penghujan tiba

//

Sungai bisa menunggu

Bahkan jika kemarau menjadi paceklik

Atau air Sungai tak lagi mengalir

//

Sungai tak bisa memaksa langit menurunkan hujan

Atau memaksa angin agar Awan menghujaninya lagi

Sungai hanya memiliki satu kemutlakan, menunggu

//

Meskipun jika sebenernya Awan tak sudi lagi menghujaninya

Sungai hanya akan berpikir bahwa

Mungkin dengan kemarau panjang,

air hujan pertama yang menyentuh keringnya Sungai akan sangat disyukuri

//

Meskipun jika sebenernya bukan begitu

Meskipun jika sebenernya bukan begitu

Sungai harus terus berbaik sangka

Iklan
Diposkan pada Uncategorized

Tiga Belas

Tak pernah kuingat pernah menambah pengembang kue di pelupuk mata

Tahu-tahu sudah mengembang saja

Tak pernah kuingat pula pernah mengoleskannya pewarna

Tahu-tahu sudah membiru saja

//

Selebar apa pun nganga

Dengan seluruh perasan air yang tumpah dan menyumbat

Dan suara gemeretak yang tak terdengar

Kau tak pernah tahu

//

Bukan soal yang terkikis

Karena ombak kencang

Bukan pula yang tumbang dan tumbuh

Tapi kenapa

//

Akan lebih jelas jika yang abu diakui

Jangan dimulai putih

Berhenti hitam

Lalu abu seakan tak pernah ada

//

Karena yang memaksa masuk lebih sering yang abu

Disusul kenapa

Lalu hitam

Dan bengkak

//

Lagi

Diposkan pada Uncategorized

Sepuluh

Sepuluh kali Luna muncul

Kini malam perlahan pudar

Mungkin ia bosan menatap lama wajah Nut dan mendengarnya mengeluh

Atau kebingungan ketika Nut marah

Dan semua usaha manis yang ia berikan tak pernah Nut simpan baik

Nut lupa siapa dia sebelum malam mendekap

Hanya kumpulan debu kosmik yang kosong

Dan setelah malam mulai memudar

Ia harus tau bahwa ia tetap begitu

Lara Nut tumpah kala malam berputar

Atau kala malam diam menikmati suatu tempat

Sudah bosankah malam melihat Nut setiap saat?

Salah apa?

Sepuluh kali Luna muncul

Akan ada kah yang ke sebelas?

Diposkan pada Uncategorized

Kau dan Aku yang Tak Pernah Lantang Kita Sebut Kita

Tereselimutkan dingin sudah malam, Tuan

Desir napasnya menembus kulit

Riuh di bawah sini, Tuan

Tapi sepi tetap saja menggerayangi

Kau bicara soal rindu

Kau bicara soal kau dan aku yang tak pernah lantang kita sebut kita

Lewat bait senandung melantun

Dan aku paham lama kemudian

Tuan, kau bisa katakan jutaan kali tentang rindu dan renjanamu

Dan aku akan begitu saja percaya karena aku sudah memilikinya sebelum malam

Kau juga bisa dengan begitu saja pergi, meninggalkam jutaan pertanyaan

Dan aku hanya bisa mengubur pertanyaan itu dalam-dalam

Katamu, jangan berisik

Jangan biarkan angin mendengar tentang kau dan aku 

Mereka akan menyampaikannya menjadi gema atau gaung yang terpotong

Simpan saja sakit dan bahagia ini untuk kita berdua

Tuan, aku tak menuntut hari ini dengan lantang kau akan sebut kau dan aku kita
Karena persetan dengan itu

Selama semua sisa renjanamu milikku, bagiku cukup

Jika ingin pergi, tinggalkanlah beberapa kata jika kecup dan peluk terlalu mewah

Agar pertanyaan terjawab tuntas dan kau akan bebas

Meski luka akan tetap meretas

Tentang kau dan aku yang tak pernah lantang kita sebut kita

Bandung, 29 Juli 2017

7.27 AM

Diposkan pada #jumblingjuly2017, Uncategorized

Gelap

Lampu sudah dimatikan. Dian terlentang berbalut selimut. Menarik napas berat sambil menahan sakit. Matanya masih terjaga. Semuanya tampak sama. Tak ada yang membedakan mana lemari mana dinding. Mana jaket yang digantung mana sesuatu yang bergelantungan. Itulah mengapa kita nyaris selalu takut dalam gelap. Karena kemampuan yang kita agungkan kala siang tak berguna dalam gelap.
Dian selalu berpikir yang aneh-aneh tiap gelap datang. Mungkinkah suatu entitas dari alam lain sedang berdiam diri di bawah ranjang tempat tidurnya? Atau ada sesuatu yang sedang memperhatikannya tanpa ia sadari? Atau tiba-tiba saja di dalam selimutnya sesuatu yang menyeramkan ikut bersembunyi.

Tapi, sudah beberapa bulan ini gelap tak membuatnya begitu takut. Bunyi mesin di sampingnya lah yang membuatnya takut. Bagaimana jika bunyinya berhenti? Jika itu terjadi, maka ia akan pergi menuju entah ke mana. Mungkin gelap. Mungkin terang. Tak ada yang tahu. Karena yang sudah tiba di sana tidak bisa mengabari yang di sini apakah di sana gelap atau terang. 

Diposkan pada Uncategorized

Diet Berat Badannya Udah, Diet Plastiknya Udah Belum? 

Halo. Masih di Bulan Ramadhan nih. Biasanya kalau lagi di bulan ini semangat buat berbuat baiknya meningkat drastis. Nah, selain berbuat baik sama sesama, yuk kita berbuat baik juga buat bumi kita, tempat kita tinggal sekarang dan satu-satunya rumah yang kita punya dan cuma ada satu di Bima Sakti. 

“Aku mau ikut berkontribusi buat lingkungan, tapi masalah lingkungan  apa yang mau aku bantu buat dikurangi?”

Banyak. Banget. Tapi, daripada pusing, kenapa nggak coba dari masalah sampah plastik. Hampir semua kemasan bahan makanan yang kita beli mengandung bahan plastik, kan? Kalau di bumi ini sekarang ada sekitar 6 atau 7 milyar jiwa, dan setiap jiwa menghasilkan satu kilogram sampah setiap harinya, bayangkan berapa berat sampah bumi tiap hari? 
Belum lagi sampah plastik susah diurai di lingkungan, kan? Butuh puluhan sampai ratusan tahun biar mereka bisa terurai. Mereka juga bakal menyumbat saluran air dan bikin banjir. Dan proses pembuatan plastik butuh banyak barrel minyak. Ya, minyak buat bahan bakar aja sekarang udah susah. 

Jadi, apa yang bisa kita lakukan? 

Dulu mama saya selalu ingat kata-kata salah seorang pewarta agama. Kita kenal dia dengan nama AA Gym. Katanya, “Mulailah dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil dan mulai dari saat ini.” 

Nah, sama saja. Kita bisa mulai dari diri kita sendiri. Sebelum kita bicara sama orang lain, kita kasih contoh konkret terlebih dahulu. Saya menulis ini juga sama. Saya mempraktikannya pada diri sendiri terlebih dahulu. Butuh waktu memang. Saya memulai dari hal paling kecil. Misalnya, kalau beli gorengan dekat rumah, bawa wadah sendiri. Kalau misalnya belinya di tempat lain, di kampus misalnya, saya selalu menolak buat pakai kantung plastik. Kecuali memang bawaannya sangat banyak. Tapi, belanja camilan di warung bakal sebanyak apa sih? Kalau ke mini market, saya sering meminta buat nggak usah pakai kantung plastik. Saya suka bawa tas kalau bepergian. Jadi saya masukkan tas langsung. Sesederhana itu kita bisa mulai. 

Mungkin kalian bakal berpikir apa pengaruhnya? Cuma satu orang diantara ribuan orang yang menolak buat pakai plastik di mini market atau di tempat mana pun dia belanja. Tapi coba pikir lagi. Kalau seminggi kita bisa belanja lebih dari 20 kali menggunakan kantung plastik, berapa banyak kantung plastik yang kita hemat dalam setahun? Sekitar 1040 lembar kantung plastik. Dari satu orang. 

Selain itu, kita bisa bawa tumbler ke mana-mana. Tak perlu membeli air mineral yang dikemas dalam botol plastik. Saya sempat malas buat membawa tumbler tapi akhirnya dengan sedikit paksaan mulai bawa tumbler lagi. 
Banyak hal yang bisa kita lakukan. Apapun. Asal kita lebih peka dan mau. Mungkin kalian bakal pesimis duluan. Penduduk bumi banyak, tapi cuma kita doang yang mau peduli buat lingkungan. Jangan takut. Perubahan butuh waktu. Dan dengan kita tinggal diam, itu bukan solusi. 

Yuk, mulai sekarang, ubah niat baik kita jadi aksi baik. Salam lestari! 

Diposkan pada Uncategorized

Senja dan Malam 

Di awal tahun 2016, mendengar kata Lombok dan Gili Trawangan adalah hal yang membuat telinga Rara sensitif. Betapa liburan akhir tahun itu ia harus menyaksikan si penjual ginjal liburan menyusuri tempat-tempat wisata di jawa, menyusuri pantai Bali sampai Lombok. Sedang ia? Ia harus diam di rumah, mengurus keponakan dan keluar hanya untuk suatu komunitas yang sedang ia geluti. Dengan uang jajan yang pas-pasan. 

Rara tahu adalah suatu hal nekat untuk mengiriminya pesan terlebih dahulu. Karena Rara sudah yakin, peluang pesannya hanya akan dibaca tanpa dibalas adalah 90 persen. Sisanya adalah keberuntungan. Di tengah basa-basi seperti antara pewawancara dan narasumber, ia meminta suatu oleh-oleh. 
“Mau oleh-oleh apa?”

“Eh, bercanda kok.”

“….”

“Tapi, kalo ga ngerepotin. Mau nitip foto senja. Di pantai mana pun. Kalo ke pantai lagi, ya?”

“Kalo sempet ya.”

Bahkan sampai lulus pun, foto senja itu tak pernah datang. Senja selalu cantik di mata Rara. Jika sedang luang, ia sering menikmati senja di loteng rumahnya dan tersenyum sendiri. Berharap suatu hari bisa menikmati senja yang indah di suatu pantai bersama seseorang yang mengagumi senja pula. Tak pernah ia berani menyebut nama. Tapi jika si penjual ginjal mau repot-repot mengabadikan satu saja senja, dia akan bahagia bukan main. Tapi senja itu tak pernah datang. Itulah mengapa ia memanggil si penjual ginjal dengan sebutan senja. Agar ia selalu ingat, bahwa senja yang ia titipkan tak pernah kembali. 

Hari berganti minggu. Dan seterusnya sampai ia mengenal sang malam. Seseorang yang bisa memeluk malam. Suatu ketika ketika sang malam mengiriminya suatu foto senja yang amat cantik. Tanpa pernah ia pinta sebelumnya. Tanpa sang malam ketahui, itu adalah hal paling sederhana di dunia yang membuatnya tidak kepalang senang. Hal biasa saja yang membuatnya mau menyimpan senja itu di saku celana dan membukanya ketika sendu. Yang mungkin menurut sang malam itu hanyalah hal biasa. Tak ada yang perlu dikenang. Tak ada yang berbeda. Seperti seorang teman yang membelikan makanan. Seperti itu. 
Karena sang malam juga, Lombok dan Gili Trawangan bukan lagi tentang si penjual ginjal. Rara menikmati senja duduk menatap senja, juga punggung malam. Jika Rara bisa bicara, ia hanya ingin mengucapkan terima kasih bahwa malam sudah menyembuhkannya. Meskipun ia tak pernah menyadarinya. Biar. Toh selama semuanya baik-baik saja, Rara baik-baik saja.