Diposkan pada #jumblingjuly2017

Hilang

Reina duduk menopang dagu ke luar jendela ketika ia duduk di suatu meja perpustakaan yang menghadap bagian belakang gedung perpustakaan yang hijau dan tidak terlalu ramai. Buku cerita dengam tokoh utama Cormoran Strike itu terbuka di dua pertiga bagiannya. Di luar adalah cuaca favorit Reina; pagi yang dingin namun cerah dengan sinar matahari yang menyentuh dedaunan hijau dan suara khasnya. Itu semua membawanya kembali pada hari itu; hari di mana Reina dan Byzan duduk berdua di tempat itu dan menertawakan cerita masa lalu masing-masing.
Saat itu juga, Reina sadar. Kini, beberapa tempat tak dilihatnya dengan cara yang sama lagi. Ada banyak sudut yang menjadi mesin waktunya. Dan yang sebentar lagi mungkin hanya bisa ia kenang.
Rena terkadang berlebihan. Over thinking. Bagaimana kalau nanti semua sudut itu jadi sepi? Bagaimana kalau nanti semuanya hilang? Bagaimana kalau nanti Byzan sudah tidak mau berteman dengannya lagi? Bagaimana kalau…
Byzan pernah bilang, “Takut itu hal yang nggak nyata, Rei.”
Karena kalau sudah nyata bukan takut lagi, kan, namanya? Reina memikirkan ini selalu. Apa mungkin kita takut kehilangan pada sesuatu yang… Apa? Sesuatu yang “memiliki” adalah kata yang terlalu kasar. Mungkin, seperti takut kehilangan sepatu kesukaan kita di etalase toko? Kita bahkan belum membelinya, tapi sudah takut hilang. 

Diposkan pada #jumblingjuly2017, Uncategorized

Gelap

Lampu sudah dimatikan. Dian terlentang berbalut selimut. Menarik napas berat sambil menahan sakit. Matanya masih terjaga. Semuanya tampak sama. Tak ada yang membedakan mana lemari mana dinding. Mana jaket yang digantung mana sesuatu yang bergelantungan. Itulah mengapa kita nyaris selalu takut dalam gelap. Karena kemampuan yang kita agungkan kala siang tak berguna dalam gelap.
Dian selalu berpikir yang aneh-aneh tiap gelap datang. Mungkinkah suatu entitas dari alam lain sedang berdiam diri di bawah ranjang tempat tidurnya? Atau ada sesuatu yang sedang memperhatikannya tanpa ia sadari? Atau tiba-tiba saja di dalam selimutnya sesuatu yang menyeramkan ikut bersembunyi.

Tapi, sudah beberapa bulan ini gelap tak membuatnya begitu takut. Bunyi mesin di sampingnya lah yang membuatnya takut. Bagaimana jika bunyinya berhenti? Jika itu terjadi, maka ia akan pergi menuju entah ke mana. Mungkin gelap. Mungkin terang. Tak ada yang tahu. Karena yang sudah tiba di sana tidak bisa mengabari yang di sini apakah di sana gelap atau terang. 

Diposkan pada Uncategorized

Diet Berat Badannya Udah, Diet Plastiknya Udah Belum? 

Halo. Masih di Bulan Ramadhan nih. Biasanya kalau lagi di bulan ini semangat buat berbuat baiknya meningkat drastis. Nah, selain berbuat baik sama sesama, yuk kita berbuat baik juga buat bumi kita, tempat kita tinggal sekarang dan satu-satunya rumah yang kita punya dan cuma ada satu di Bima Sakti. 

“Aku mau ikut berkontribusi buat lingkungan, tapi masalah lingkungan  apa yang mau aku bantu buat dikurangi?”

Banyak. Banget. Tapi, daripada pusing, kenapa nggak coba dari masalah sampah plastik. Hampir semua kemasan bahan makanan yang kita beli mengandung bahan plastik, kan? Kalau di bumi ini sekarang ada sekitar 6 atau 7 milyar jiwa, dan setiap jiwa menghasilkan satu kilogram sampah setiap harinya, bayangkan berapa berat sampah bumi tiap hari? 
Belum lagi sampah plastik susah diurai di lingkungan, kan? Butuh puluhan sampai ratusan tahun biar mereka bisa terurai. Mereka juga bakal menyumbat saluran air dan bikin banjir. Dan proses pembuatan plastik butuh banyak barrel minyak. Ya, minyak buat bahan bakar aja sekarang udah susah. 

Jadi, apa yang bisa kita lakukan? 

Dulu mama saya selalu ingat kata-kata salah seorang pewarta agama. Kita kenal dia dengan nama AA Gym. Katanya, “Mulailah dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil dan mulai dari saat ini.” 

Nah, sama saja. Kita bisa mulai dari diri kita sendiri. Sebelum kita bicara sama orang lain, kita kasih contoh konkret terlebih dahulu. Saya menulis ini juga sama. Saya mempraktikannya pada diri sendiri terlebih dahulu. Butuh waktu memang. Saya memulai dari hal paling kecil. Misalnya, kalau beli gorengan dekat rumah, bawa wadah sendiri. Kalau misalnya belinya di tempat lain, di kampus misalnya, saya selalu menolak buat pakai kantung plastik. Kecuali memang bawaannya sangat banyak. Tapi, belanja camilan di warung bakal sebanyak apa sih? Kalau ke mini market, saya sering meminta buat nggak usah pakai kantung plastik. Saya suka bawa tas kalau bepergian. Jadi saya masukkan tas langsung. Sesederhana itu kita bisa mulai. 

Mungkin kalian bakal berpikir apa pengaruhnya? Cuma satu orang diantara ribuan orang yang menolak buat pakai plastik di mini market atau di tempat mana pun dia belanja. Tapi coba pikir lagi. Kalau seminggi kita bisa belanja lebih dari 20 kali menggunakan kantung plastik, berapa banyak kantung plastik yang kita hemat dalam setahun? Sekitar 1040 lembar kantung plastik. Dari satu orang. 

Selain itu, kita bisa bawa tumbler ke mana-mana. Tak perlu membeli air mineral yang dikemas dalam botol plastik. Saya sempat malas buat membawa tumbler tapi akhirnya dengan sedikit paksaan mulai bawa tumbler lagi. 
Banyak hal yang bisa kita lakukan. Apapun. Asal kita lebih peka dan mau. Mungkin kalian bakal pesimis duluan. Penduduk bumi banyak, tapi cuma kita doang yang mau peduli buat lingkungan. Jangan takut. Perubahan butuh waktu. Dan dengan kita tinggal diam, itu bukan solusi. 

Yuk, mulai sekarang, ubah niat baik kita jadi aksi baik. Salam lestari! 

Diposkan pada Uncategorized

Senja dan Malam 

Di awal tahun 2016, mendengar kata Lombok dan Gili Trawangan adalah hal yang membuat telinga Rara sensitif. Betapa liburan akhir tahun itu ia harus menyaksikan si penjual ginjal liburan menyusuri tempat-tempat wisata di jawa, menyusuri pantai Bali sampai Lombok. Sedang ia? Ia harus diam di rumah, mengurus keponakan dan keluar hanya untuk suatu komunitas yang sedang ia geluti. Dengan uang jajan yang pas-pasan. 

Rara tahu adalah suatu hal nekat untuk mengiriminya pesan terlebih dahulu. Karena Rara sudah yakin, peluang pesannya hanya akan dibaca tanpa dibalas adalah 90 persen. Sisanya adalah keberuntungan. Di tengah basa-basi seperti antara pewawancara dan narasumber, ia meminta suatu oleh-oleh. 
“Mau oleh-oleh apa?”

“Eh, bercanda kok.”

“….”

“Tapi, kalo ga ngerepotin. Mau nitip foto senja. Di pantai mana pun. Kalo ke pantai lagi, ya?”

“Kalo sempet ya.”

Bahkan sampai lulus pun, foto senja itu tak pernah datang. Senja selalu cantik di mata Rara. Jika sedang luang, ia sering menikmati senja di loteng rumahnya dan tersenyum sendiri. Berharap suatu hari bisa menikmati senja yang indah di suatu pantai bersama seseorang yang mengagumi senja pula. Tak pernah ia berani menyebut nama. Tapi jika si penjual ginjal mau repot-repot mengabadikan satu saja senja, dia akan bahagia bukan main. Tapi senja itu tak pernah datang. Itulah mengapa ia memanggil si penjual ginjal dengan sebutan senja. Agar ia selalu ingat, bahwa senja yang ia titipkan tak pernah kembali. 

Hari berganti minggu. Dan seterusnya sampai ia mengenal sang malam. Seseorang yang bisa memeluk malam. Suatu ketika ketika sang malam mengiriminya suatu foto senja yang amat cantik. Tanpa pernah ia pinta sebelumnya. Tanpa sang malam ketahui, itu adalah hal paling sederhana di dunia yang membuatnya tidak kepalang senang. Hal biasa saja yang membuatnya mau menyimpan senja itu di saku celana dan membukanya ketika sendu. Yang mungkin menurut sang malam itu hanyalah hal biasa. Tak ada yang perlu dikenang. Tak ada yang berbeda. Seperti seorang teman yang membelikan makanan. Seperti itu. 
Karena sang malam juga, Lombok dan Gili Trawangan bukan lagi tentang si penjual ginjal. Rara menikmati senja duduk menatap senja, juga punggung malam. Jika Rara bisa bicara, ia hanya ingin mengucapkan terima kasih bahwa malam sudah menyembuhkannya. Meskipun ia tak pernah menyadarinya. Biar. Toh selama semuanya baik-baik saja, Rara baik-baik saja.

Diposkan pada Uncategorized

Kontemplasi 2

Tapi, bukankah memang mereka selalu seperti itu? Dua orang asing. Meskipun selama tiga tahun berada di atap institusi yang sama, mereka tetap orang asing. Yang jika semua percakapan antara dirinya dan senja di langit dikumpulkan, tidak akan sampai memenuhi satu persen percakapannya dengan sang malam. Mungkin memang akan lebih mudah bagi Rara untuk memaafkan.

Tapi malam? Ia dan rembulan pernah bercumbu. Pernah saling terikat. Pernah saling menghitung putaran mentari bersama. Pernah memiliki nina bobok yang sama. Banyak hal yang akan bisa diingat. Akankah semudah itu memaafkan? Mengingat kembali semuanya dengan perasaan biasa saja seperti Rara yang mengenang senja. Meskipun sudah lalu, Rara membaca riwayat menyedihkan tentang sang rembulan. Ia begitu kehilangan malam sepertinya. Sebegitu kehilangannya. Sebegitu jatuhnya pada malam. Entah bagaimana ia kini. Masihkah mengharapkan janji malam padanya dahulu, Rara tidak tahu. Dan malam pun. 

“Lalu apa yang membuatku marah?“ Gerutu Rara dalam hati. Dan ia mulai mengeja.  Rara mengenang nina bobok yang dinyanyikan malam adalah sebuah angin segar, bukan sisa-sisa puing kenangannya dengan rembulan. Rara merasa semua nina bobok itu untuknya. Yang ternyata hanya nina bobok yang dulu pernah dinyanyikan malam dengan rembulan. Bahwa Rara merasa sangat bodoh. Dengan mudahnya jatuh pada malam. Semuanya seperti terulang kembali. Rara sudah berusaha membuat tameng agar di sini ia tak mudah jatuh. Karena menyembuhkan luka bukan perkara mudah. Karena malam sudah menyembuhkan lukanya. Ia tak ingin malam menjadi alasannya terluka lagi. Ia tak tahu harus bagaimana sebenarnya. 

Tapi Rara tak ingin malam menjadi dingin seperti senja. Rara ingin segalanya seperti biasanya. Dan anggap sajalah ia tak pernah memikirkan ini semua. Anggap saja ia memang tak memikirkan dan merasakan apa-apa. Semuanya harus baik saja. Masih lama ia akan tinggal di sini. Tak ingin ia membenci salah satu di antaranya. Jadi, malam, maafkan Rara. 

Diposkan pada Uncategorized

Kontemplasi 1

Suara azan membangungkanya. Rara terbangun dengan kepala pusing dan mata yang agak sembab. Ketika mentari mulai memanjat jendela, ia berbaring santai sambil meratapi langit yang renjananya membiru. Dibukanya lagi tangkapan-tangkapan layar yang jika ia buka lakuna itu akan meletup kembali. Dibukanya sejak awal. Ia baca kembali. Ia ingat kembali. Ia sedikit menyungging senyum, meski diiringi helaan napas panjang. Kemudian ia mulai bercermin tentang dirinya juga. 

“Kenapa harus begitu emosional?” Tanyanya dalam hati. Padahal, periodenya sudah lewat. Apakah penyakit itu datang lagi? Tentang sifat kekanakannya yang menyebalkan? Si bungsu yang dulu jarang dibungsukan? Atau karena si golongan darah? Atau karena memang ia ingin saja marah. Pada semuanya. Dilihatnya lagi langit. Awannya masih belum banyak berpindah. Ternyata marahnya pada malam tak membuat mentari gagal terbit. 
“Apa yang salah di sini?” Tanyanya lagi. Rara sudah sering menghipnotis dirinya, menjampi dirinya, bahwa ia harus biasa saja, bahwa semuanya memang biasa saja—setidaknya bagi sang malam. Bahwa segala hal yang dilakukan sang malam mungkin–pasti–pernah dilakukan sebelumnya. Bahwa dirinya adalah dirinya sebelumnya. Tapi apa yang bisa ditahannya ketika ia benar-benar terbang? Tak ada gravitasi yang bisa menahan. Dan semua jampinya terlupakan.

Rara kemudian mengingat sang senja. Meskipun ia selalu menitipkan rindu dan renjana yang semakin hari semakin besar pada senja, senja tak pernah berkata apa-apa. Bahkan sekadar berkata bahwa, “Tenang, titipanmu baik-baik saja. Pergilah. Tak ingin kulihat anak kecil yang cengeng itu.” Hingga pada akhirnya ia harus mengikhlaskan. Bahwa apa yang kita  beri tak akan sama dengan apa yang kita dapat. Bahwa terkadang seseorang datang hanya untuk memberinya pengalaman dan kenangan. Yang jika sudah baik-baik saja maka akan diingatnya dengan senyuman. Bukan lagi benci. 

Dan di sinilah ia. Mengingat sang senja dengan baik-baik saja. Tanpa rasa benci ataupun jijik. Ia sudah memaafkan senja juga dirinya sendiri. Dan semua hal yang bersangkutan dengannya, mulai terasa biasa saja. Lorong sekolah penuh kenangan, dikenang begitu saja dengan senyum kecil yang tersinggung. Tak ada harap untuk mengulang. Karena semuanya sudah berlalu. Kini ia dan senja sudah hidup masing-masing. Mengejar mimpi masing-masing. Tak pernah berkabar. Tak pernah saling berkirim pesan. Tidak ada yang merindu. Mereka kembali pada titik awal mereka: dua orang asing. 

Diposkan pada Uncategorized

Malam

Rara kembali menyesap kopinya yang mulai dingin. Malam kini mulai panjang kembali. Lakuna yang sebelumnya selalu meletup kini sedikit bungkam. Dia tak henti-hentinya mengutuk diri. “Bodoh. Tolol. Dasar polos.” Kalimat yang berulang kali ia ucap bak zikir. 
Matanya menatap kosong pada secarik kertas putih bergambar di papan tugas dan deretan buku yang menatapnya heran sedari tadi. “Kenapa lagi?“ Mungkin begitu kata mereka jika mereka bisa bicara. 
Rara menghela napas panjang kembali. Tujuh kali purnama berganti, jika ia diperbolehkan menghitung. Satu harinya tak pernah berhenti. Dan kini ia kebingungan. Haruskah berhenti sejenak untuk menarik napas dan menyadarkan dirinya kembali bahwa ia tetap bukan sesuatu yang benar-benar diinginkan atau berusaha baik-baik saja seperti biasanya? 
“Mengapa rasa penasaran selalu berujung dengan bunyi retak di dalam sana?” Tanyanya pada diri sendiri. Semuanya terasa serba salah baginya. Ia tak pernah berharap lebih. Tidak. Karna sang malam kini amat jauh dengan senja yang dulu pernah dipujanya. Sang malam selalu berbaik hati. Sang malam selalu mendengarnya. Sang malam selalu menjawab semua gelisahnya. Sang malam selalu tersenyum tiap kali melempar lelucon padanya. Teramat jauh dengan senja yang dingin meski ada di tengah kemarau. Senja benar-benar amat jauh dengan sang malam yang amat baik. 
Malam sering menyanyikannya syair-syair indah. Menemaninya sampai lelap. Tapi kini Rara sadar. Semua yang dilakukan malam padanya adalah suatu pengulangan pada sosok lain di masa lalu. 
Malam tidak pernah berkata apa pun. Tak ada hitam di atas putih. Semuanya hanya berdasarkan persepsi. Dan itu amat menyebalkan. Rara tak pernah ingin menyalahkan malam. Tak ingin juga malam menjadi dingin. Ia hanya mengutuk diri atas dirinya sendiri. Yang terlalu polos. Yang tak pernah punya teman seperti malam. 
Rara seharusnya tahu. Ketika ia sudah melupakan senja yang dulu lama ditunggunya, malam masih belum melupakan sosok sebelumnya.