Diposkan pada #jumblingjuly2017

Hilang

Reina duduk menopang dagu ke luar jendela ketika ia duduk di suatu meja perpustakaan yang menghadap bagian belakang gedung perpustakaan yang hijau dan tidak terlalu ramai. Buku cerita dengam tokoh utama Cormoran Strike itu terbuka di dua pertiga bagiannya. Di luar adalah cuaca favorit Reina; pagi yang dingin namun cerah dengan sinar matahari yang menyentuh dedaunan hijau dan suara khasnya. Itu semua membawanya kembali pada hari itu; hari di mana Reina dan Byzan duduk berdua di tempat itu dan menertawakan cerita masa lalu masing-masing.
Saat itu juga, Reina sadar. Kini, beberapa tempat tak dilihatnya dengan cara yang sama lagi. Ada banyak sudut yang menjadi mesin waktunya. Dan yang sebentar lagi mungkin hanya bisa ia kenang.
Rena terkadang berlebihan. Over thinking. Bagaimana kalau nanti semua sudut itu jadi sepi? Bagaimana kalau nanti semuanya hilang? Bagaimana kalau nanti Byzan sudah tidak mau berteman dengannya lagi? Bagaimana kalau…
Byzan pernah bilang, “Takut itu hal yang nggak nyata, Rei.”
Karena kalau sudah nyata bukan takut lagi, kan, namanya? Reina memikirkan ini selalu. Apa mungkin kita takut kehilangan pada sesuatu yang… Apa? Sesuatu yang “memiliki” adalah kata yang terlalu kasar. Mungkin, seperti takut kehilangan sepatu kesukaan kita di etalase toko? Kita bahkan belum membelinya, tapi sudah takut hilang. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s