Diposkan pada Uncategorized

Kau dan Aku yang Tak Pernah Lantang Kita Sebut Kita

Tereselimutkan dingin sudah malam, Tuan

Desir napasnya menembus kulit

Riuh di bawah sini, Tuan

Tapi sepi tetap saja menggerayangi

Kau bicara soal rindu

Kau bicara soal kau dan aku yang tak pernah lantang kita sebut kita

Lewat bait senandung melantun

Dan aku paham lama kemudian

Tuan, kau bisa katakan jutaan kali tentang rindu dan renjanamu

Dan aku akan begitu saja percaya karena aku sudah memilikinya sebelum malam

Kau juga bisa dengan begitu saja pergi, meninggalkam jutaan pertanyaan

Dan aku hanya bisa mengubur pertanyaan itu dalam-dalam

Katamu, jangan berisik

Jangan biarkan angin mendengar tentang kau dan aku 

Mereka akan menyampaikannya menjadi gema atau gaung yang terpotong

Simpan saja sakit dan bahagia ini untuk kita berdua

Tuan, aku tak menuntut hari ini dengan lantang kau akan sebut kau dan aku kita
Karena persetan dengan itu

Selama semua sisa renjanamu milikku, bagiku cukup

Jika ingin pergi, tinggalkanlah beberapa kata jika kecup dan peluk terlalu mewah

Agar pertanyaan terjawab tuntas dan kau akan bebas

Meski luka akan tetap meretas

Tentang kau dan aku yang tak pernah lantang kita sebut kita

Bandung, 29 Juli 2017

7.27 AM

Iklan
Diposkan pada #jumblingjuly2017

Hilang

Reina duduk menopang dagu ke luar jendela ketika ia duduk di suatu meja perpustakaan yang menghadap bagian belakang gedung perpustakaan yang hijau dan tidak terlalu ramai. Buku cerita dengam tokoh utama Cormoran Strike itu terbuka di dua pertiga bagiannya. Di luar adalah cuaca favorit Reina; pagi yang dingin namun cerah dengan sinar matahari yang menyentuh dedaunan hijau dan suara khasnya. Itu semua membawanya kembali pada hari itu; hari di mana Reina dan Byzan duduk berdua di tempat itu dan menertawakan cerita masa lalu masing-masing.
Saat itu juga, Reina sadar. Kini, beberapa tempat tak dilihatnya dengan cara yang sama lagi. Ada banyak sudut yang menjadi mesin waktunya. Dan yang sebentar lagi mungkin hanya bisa ia kenang.
Rena terkadang berlebihan. Over thinking. Bagaimana kalau nanti semua sudut itu jadi sepi? Bagaimana kalau nanti semuanya hilang? Bagaimana kalau nanti Byzan sudah tidak mau berteman dengannya lagi? Bagaimana kalau…
Byzan pernah bilang, “Takut itu hal yang nggak nyata, Rei.”
Karena kalau sudah nyata bukan takut lagi, kan, namanya? Reina memikirkan ini selalu. Apa mungkin kita takut kehilangan pada sesuatu yang… Apa? Sesuatu yang “memiliki” adalah kata yang terlalu kasar. Mungkin, seperti takut kehilangan sepatu kesukaan kita di etalase toko? Kita bahkan belum membelinya, tapi sudah takut hilang. 

Diposkan pada #jumblingjuly2017, Uncategorized

Gelap

Lampu sudah dimatikan. Dian terlentang berbalut selimut. Menarik napas berat sambil menahan sakit. Matanya masih terjaga. Semuanya tampak sama. Tak ada yang membedakan mana lemari mana dinding. Mana jaket yang digantung mana sesuatu yang bergelantungan. Itulah mengapa kita nyaris selalu takut dalam gelap. Karena kemampuan yang kita agungkan kala siang tak berguna dalam gelap.
Dian selalu berpikir yang aneh-aneh tiap gelap datang. Mungkinkah suatu entitas dari alam lain sedang berdiam diri di bawah ranjang tempat tidurnya? Atau ada sesuatu yang sedang memperhatikannya tanpa ia sadari? Atau tiba-tiba saja di dalam selimutnya sesuatu yang menyeramkan ikut bersembunyi.

Tapi, sudah beberapa bulan ini gelap tak membuatnya begitu takut. Bunyi mesin di sampingnya lah yang membuatnya takut. Bagaimana jika bunyinya berhenti? Jika itu terjadi, maka ia akan pergi menuju entah ke mana. Mungkin gelap. Mungkin terang. Tak ada yang tahu. Karena yang sudah tiba di sana tidak bisa mengabari yang di sini apakah di sana gelap atau terang.