Diposkan pada Uncategorized

Kontemplasi 1

Suara azan membangungkanya. Rara terbangun dengan kepala pusing dan mata yang agak sembab. Ketika mentari mulai memanjat jendela, ia berbaring santai sambil meratapi langit yang renjananya membiru. Dibukanya lagi tangkapan-tangkapan layar yang jika ia buka lakuna itu akan meletup kembali. Dibukanya sejak awal. Ia baca kembali. Ia ingat kembali. Ia sedikit menyungging senyum, meski diiringi helaan napas panjang. Kemudian ia mulai bercermin tentang dirinya juga. 

“Kenapa harus begitu emosional?” Tanyanya dalam hati. Padahal, periodenya sudah lewat. Apakah penyakit itu datang lagi? Tentang sifat kekanakannya yang menyebalkan? Si bungsu yang dulu jarang dibungsukan? Atau karena si golongan darah? Atau karena memang ia ingin saja marah. Pada semuanya. Dilihatnya lagi langit. Awannya masih belum banyak berpindah. Ternyata marahnya pada malam tak membuat mentari gagal terbit. 
“Apa yang salah di sini?” Tanyanya lagi. Rara sudah sering menghipnotis dirinya, menjampi dirinya, bahwa ia harus biasa saja, bahwa semuanya memang biasa saja—setidaknya bagi sang malam. Bahwa segala hal yang dilakukan sang malam mungkin–pasti–pernah dilakukan sebelumnya. Bahwa dirinya adalah dirinya sebelumnya. Tapi apa yang bisa ditahannya ketika ia benar-benar terbang? Tak ada gravitasi yang bisa menahan. Dan semua jampinya terlupakan.

Rara kemudian mengingat sang senja. Meskipun ia selalu menitipkan rindu dan renjana yang semakin hari semakin besar pada senja, senja tak pernah berkata apa-apa. Bahkan sekadar berkata bahwa, “Tenang, titipanmu baik-baik saja. Pergilah. Tak ingin kulihat anak kecil yang cengeng itu.” Hingga pada akhirnya ia harus mengikhlaskan. Bahwa apa yang kita  beri tak akan sama dengan apa yang kita dapat. Bahwa terkadang seseorang datang hanya untuk memberinya pengalaman dan kenangan. Yang jika sudah baik-baik saja maka akan diingatnya dengan senyuman. Bukan lagi benci. 

Dan di sinilah ia. Mengingat sang senja dengan baik-baik saja. Tanpa rasa benci ataupun jijik. Ia sudah memaafkan senja juga dirinya sendiri. Dan semua hal yang bersangkutan dengannya, mulai terasa biasa saja. Lorong sekolah penuh kenangan, dikenang begitu saja dengan senyum kecil yang tersinggung. Tak ada harap untuk mengulang. Karena semuanya sudah berlalu. Kini ia dan senja sudah hidup masing-masing. Mengejar mimpi masing-masing. Tak pernah berkabar. Tak pernah saling berkirim pesan. Tidak ada yang merindu. Mereka kembali pada titik awal mereka: dua orang asing. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s