Diposkan pada Uncategorized

Senja dan Malam 

Di awal tahun 2016, mendengar kata Lombok dan Gili Trawangan adalah hal yang membuat telinga Rara sensitif. Betapa liburan akhir tahun itu ia harus menyaksikan si penjual ginjal liburan menyusuri tempat-tempat wisata di jawa, menyusuri pantai Bali sampai Lombok. Sedang ia? Ia harus diam di rumah, mengurus keponakan dan keluar hanya untuk suatu komunitas yang sedang ia geluti. Dengan uang jajan yang pas-pasan. 

Rara tahu adalah suatu hal nekat untuk mengiriminya pesan terlebih dahulu. Karena Rara sudah yakin, peluang pesannya hanya akan dibaca tanpa dibalas adalah 90 persen. Sisanya adalah keberuntungan. Di tengah basa-basi seperti antara pewawancara dan narasumber, ia meminta suatu oleh-oleh. 
“Mau oleh-oleh apa?”

“Eh, bercanda kok.”

“….”

“Tapi, kalo ga ngerepotin. Mau nitip foto senja. Di pantai mana pun. Kalo ke pantai lagi, ya?”

“Kalo sempet ya.”

Bahkan sampai lulus pun, foto senja itu tak pernah datang. Senja selalu cantik di mata Rara. Jika sedang luang, ia sering menikmati senja di loteng rumahnya dan tersenyum sendiri. Berharap suatu hari bisa menikmati senja yang indah di suatu pantai bersama seseorang yang mengagumi senja pula. Tak pernah ia berani menyebut nama. Tapi jika si penjual ginjal mau repot-repot mengabadikan satu saja senja, dia akan bahagia bukan main. Tapi senja itu tak pernah datang. Itulah mengapa ia memanggil si penjual ginjal dengan sebutan senja. Agar ia selalu ingat, bahwa senja yang ia titipkan tak pernah kembali. 

Hari berganti minggu. Dan seterusnya sampai ia mengenal sang malam. Seseorang yang bisa memeluk malam. Suatu ketika ketika sang malam mengiriminya suatu foto senja yang amat cantik. Tanpa pernah ia pinta sebelumnya. Tanpa sang malam ketahui, itu adalah hal paling sederhana di dunia yang membuatnya tidak kepalang senang. Hal biasa saja yang membuatnya mau menyimpan senja itu di saku celana dan membukanya ketika sendu. Yang mungkin menurut sang malam itu hanyalah hal biasa. Tak ada yang perlu dikenang. Tak ada yang berbeda. Seperti seorang teman yang membelikan makanan. Seperti itu. 
Karena sang malam juga, Lombok dan Gili Trawangan bukan lagi tentang si penjual ginjal. Rara menikmati senja duduk menatap senja, juga punggung malam. Jika Rara bisa bicara, ia hanya ingin mengucapkan terima kasih bahwa malam sudah menyembuhkannya. Meskipun ia tak pernah menyadarinya. Biar. Toh selama semuanya baik-baik saja, Rara baik-baik saja.

Diposkan pada Uncategorized

Kontemplasi 2

Tapi, bukankah memang mereka selalu seperti itu? Dua orang asing. Meskipun selama tiga tahun berada di atap institusi yang sama, mereka tetap orang asing. Yang jika semua percakapan antara dirinya dan senja di langit dikumpulkan, tidak akan sampai memenuhi satu persen percakapannya dengan sang malam. Mungkin memang akan lebih mudah bagi Rara untuk memaafkan.

Tapi malam? Ia dan rembulan pernah bercumbu. Pernah saling terikat. Pernah saling menghitung putaran mentari bersama. Pernah memiliki nina bobok yang sama. Banyak hal yang akan bisa diingat. Akankah semudah itu memaafkan? Mengingat kembali semuanya dengan perasaan biasa saja seperti Rara yang mengenang senja. Meskipun sudah lalu, Rara membaca riwayat menyedihkan tentang sang rembulan. Ia begitu kehilangan malam sepertinya. Sebegitu kehilangannya. Sebegitu jatuhnya pada malam. Entah bagaimana ia kini. Masihkah mengharapkan janji malam padanya dahulu, Rara tidak tahu. Dan malam pun. 

“Lalu apa yang membuatku marah?“ Gerutu Rara dalam hati. Dan ia mulai mengeja.  Rara mengenang nina bobok yang dinyanyikan malam adalah sebuah angin segar, bukan sisa-sisa puing kenangannya dengan rembulan. Rara merasa semua nina bobok itu untuknya. Yang ternyata hanya nina bobok yang dulu pernah dinyanyikan malam dengan rembulan. Bahwa Rara merasa sangat bodoh. Dengan mudahnya jatuh pada malam. Semuanya seperti terulang kembali. Rara sudah berusaha membuat tameng agar di sini ia tak mudah jatuh. Karena menyembuhkan luka bukan perkara mudah. Karena malam sudah menyembuhkan lukanya. Ia tak ingin malam menjadi alasannya terluka lagi. Ia tak tahu harus bagaimana sebenarnya. 

Tapi Rara tak ingin malam menjadi dingin seperti senja. Rara ingin segalanya seperti biasanya. Dan anggap sajalah ia tak pernah memikirkan ini semua. Anggap saja ia memang tak memikirkan dan merasakan apa-apa. Semuanya harus baik saja. Masih lama ia akan tinggal di sini. Tak ingin ia membenci salah satu di antaranya. Jadi, malam, maafkan Rara. 

Diposkan pada Uncategorized

Kontemplasi 1

Suara azan membangungkanya. Rara terbangun dengan kepala pusing dan mata yang agak sembab. Ketika mentari mulai memanjat jendela, ia berbaring santai sambil meratapi langit yang renjananya membiru. Dibukanya lagi tangkapan-tangkapan layar yang jika ia buka lakuna itu akan meletup kembali. Dibukanya sejak awal. Ia baca kembali. Ia ingat kembali. Ia sedikit menyungging senyum, meski diiringi helaan napas panjang. Kemudian ia mulai bercermin tentang dirinya juga. 

“Kenapa harus begitu emosional?” Tanyanya dalam hati. Padahal, periodenya sudah lewat. Apakah penyakit itu datang lagi? Tentang sifat kekanakannya yang menyebalkan? Si bungsu yang dulu jarang dibungsukan? Atau karena si golongan darah? Atau karena memang ia ingin saja marah. Pada semuanya. Dilihatnya lagi langit. Awannya masih belum banyak berpindah. Ternyata marahnya pada malam tak membuat mentari gagal terbit. 
“Apa yang salah di sini?” Tanyanya lagi. Rara sudah sering menghipnotis dirinya, menjampi dirinya, bahwa ia harus biasa saja, bahwa semuanya memang biasa saja—setidaknya bagi sang malam. Bahwa segala hal yang dilakukan sang malam mungkin–pasti–pernah dilakukan sebelumnya. Bahwa dirinya adalah dirinya sebelumnya. Tapi apa yang bisa ditahannya ketika ia benar-benar terbang? Tak ada gravitasi yang bisa menahan. Dan semua jampinya terlupakan.

Rara kemudian mengingat sang senja. Meskipun ia selalu menitipkan rindu dan renjana yang semakin hari semakin besar pada senja, senja tak pernah berkata apa-apa. Bahkan sekadar berkata bahwa, “Tenang, titipanmu baik-baik saja. Pergilah. Tak ingin kulihat anak kecil yang cengeng itu.” Hingga pada akhirnya ia harus mengikhlaskan. Bahwa apa yang kita  beri tak akan sama dengan apa yang kita dapat. Bahwa terkadang seseorang datang hanya untuk memberinya pengalaman dan kenangan. Yang jika sudah baik-baik saja maka akan diingatnya dengan senyuman. Bukan lagi benci. 

Dan di sinilah ia. Mengingat sang senja dengan baik-baik saja. Tanpa rasa benci ataupun jijik. Ia sudah memaafkan senja juga dirinya sendiri. Dan semua hal yang bersangkutan dengannya, mulai terasa biasa saja. Lorong sekolah penuh kenangan, dikenang begitu saja dengan senyum kecil yang tersinggung. Tak ada harap untuk mengulang. Karena semuanya sudah berlalu. Kini ia dan senja sudah hidup masing-masing. Mengejar mimpi masing-masing. Tak pernah berkabar. Tak pernah saling berkirim pesan. Tidak ada yang merindu. Mereka kembali pada titik awal mereka: dua orang asing. 

Diposkan pada Uncategorized

Malam

Rara kembali menyesap kopinya yang mulai dingin. Malam kini mulai panjang kembali. Lakuna yang sebelumnya selalu meletup kini sedikit bungkam. Dia tak henti-hentinya mengutuk diri. “Bodoh. Tolol. Dasar polos.” Kalimat yang berulang kali ia ucap bak zikir. 
Matanya menatap kosong pada secarik kertas putih bergambar di papan tugas dan deretan buku yang menatapnya heran sedari tadi. “Kenapa lagi?“ Mungkin begitu kata mereka jika mereka bisa bicara. 
Rara menghela napas panjang kembali. Tujuh kali purnama berganti, jika ia diperbolehkan menghitung. Satu harinya tak pernah berhenti. Dan kini ia kebingungan. Haruskah berhenti sejenak untuk menarik napas dan menyadarkan dirinya kembali bahwa ia tetap bukan sesuatu yang benar-benar diinginkan atau berusaha baik-baik saja seperti biasanya? 
“Mengapa rasa penasaran selalu berujung dengan bunyi retak di dalam sana?” Tanyanya pada diri sendiri. Semuanya terasa serba salah baginya. Ia tak pernah berharap lebih. Tidak. Karna sang malam kini amat jauh dengan senja yang dulu pernah dipujanya. Sang malam selalu berbaik hati. Sang malam selalu mendengarnya. Sang malam selalu menjawab semua gelisahnya. Sang malam selalu tersenyum tiap kali melempar lelucon padanya. Teramat jauh dengan senja yang dingin meski ada di tengah kemarau. Senja benar-benar amat jauh dengan sang malam yang amat baik. 
Malam sering menyanyikannya syair-syair indah. Menemaninya sampai lelap. Tapi kini Rara sadar. Semua yang dilakukan malam padanya adalah suatu pengulangan pada sosok lain di masa lalu. 
Malam tidak pernah berkata apa pun. Tak ada hitam di atas putih. Semuanya hanya berdasarkan persepsi. Dan itu amat menyebalkan. Rara tak pernah ingin menyalahkan malam. Tak ingin juga malam menjadi dingin. Ia hanya mengutuk diri atas dirinya sendiri. Yang terlalu polos. Yang tak pernah punya teman seperti malam. 
Rara seharusnya tahu. Ketika ia sudah melupakan senja yang dulu lama ditunggunya, malam masih belum melupakan sosok sebelumnya.