Diposkan pada Uncategorized

Cuma Sajak

Sudah sejak awal, Tuan

Sejak kecambah ini pertama kali muncul ke udara

Tak pernah kugantung renjana itu terlalu tinggi

Karena luka kemarin saja masih basah

Tapi para malaikat bangsat itu membumbungkan semuanya

Menjadikan gerik biasamu istimewa

Menjadikan bisikmu melodi

Dan tentu saja semuanya semu

Sudah kubangun tembok raksasa

Agar renjana itu tak pernah terlalu tinggi

Agar siapa pun tak dapat menhancurkannya

Tapi semuanya sia-sia saja untukku

Namamu hadir di antara embun pagi

Masih bertahan di terik mentari

Masih menemani sampai senja tiba

Bahkan sampai ketika mata ini masih tetap harus terjaga di tengah malam

Kau adalah telinga yang mau mendengar semua keluh kesah atas dunia yang bobrok ini

Mata yang mau membaca semua tulisan tak penting ini

Lisan yang mau merespon semuanya

Dan tawa getir itu

Atau itu hanya persperktif sebelah pihak saja

Ada hangat yang menjalar kala kau bicara

Soal semua yang sejak dulu ingin kubagi

Tapi tak satu pun mengerti

Ada sesak yang mencekat

Ketika kusadar tembok itu tak dapat menahan renjana agar tak meninggi

Agar kata semoga menjadi lebih sedikit

Dan kau tetap kabut

Kini jawabannya makin jelas

Renjana itu harus tetap rendah

Tak perlu muluk-muluk

Baru saja kubelajar dari apa yang kubaca

Renjana yang kalian sebut cinta itu tak mesti mengekang

Cinta itu membebaskan

Dan aku ingin melakukannya

Maka, jika aku diizinkan punya satu permintaan muluk

Aku hanya ingin tak ada yang berubah

Tak menjadi asing

Tetaplah menjadi telinga yang sama

Mata yang sama

Lisan yang sama

Tawa yang sama, dan

Teman yang sama

Entah akan sampai kapan

Entah akan berakhir seperti apa

Aku tidak begitu peduli

Kau, tetaplah begini

Tertanda,

Perempuan Tukang Ngupil

Iklan