Diposkan pada puisi

September

Pada perputaran kali ini, sudah kutemui banyak rindu di setiap hujan, senja dan malam.

Maret yang amat menyedihkan, Mei yang membasuh luka, Juni dan Juli yang hanya mampir namun dapat membentuk lakuna hati yang cukup dalam.

Ku kira, selebihnya hanya ruang hampa.

Namun September mengucapkan salam perpisahannya dengan cukup manis meskipun pada awalnya petrikornya beraroma sama.

Dia datang di dalam pelukan malam yang dingin.

Dia datang dengan senjanya yang manis selepas hujan siang hari.

Dia datang dengan fajarnya yang hangat nan mendung.

Dia juga datang dalam rupa bayangan menyilaukan di siang hari.

Tapi sepertnya, dia hanya akan menjadi kabut, kenangan yang tak tergenggam.

Biar aku skeptis saja kali ini.

Aku tidak ingin bahwa hanya aku yang menitipkan renjana di antara hujan sore hari dan dinginnya tengah malam kala tugas memaksamu membuka mata.

Maka dari itu, biarkan semuanya biasa saja.

 

– Bandung, 5 Oktiber 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s