Diposkan pada book review

Book Review in 2016 #12

25 Books to Read in 2016

Done reading : 12 books.

The Night Serpent (Sang Ular Malam)

Penulis: Anna Leonard

Penerbit: Harlequin – Gramedia Pustaka Utama

Penerjemah: Tabita Simawati Gunawan

img_20161023_152143

Lily Malkin tidak pernah benar-benar tidur. Ia selalu dihantui mimpi-mimpi aneh, buruk, namun tidak sedikit pun yang dapat ia ingat ketika matanya terbuka. Hanya menyisakan keringat dan rasa gelisah. Gadis yang awalnya memiliki rasa takut pada kucing ini bekerja di sebuah tempat penampungan kucing jalanan. Meskipun ia membenci kucing, entah mengapa para kucing selalu patuh di hadapannya, sampai ia sering dijuluki “Pawang Kucing”.

Suatu hari, Aggie, temannya di kepolisian menemuinya untuk sebuah kasus pembunuhan tujuh kucing yang ditata seperti untuk suatu ritual  pemujaan. Yang anehnya, pelaku mengembangbiakkan kucing-kucing tersebut sendiri. Dan diduga, pembunuhan itu masih berkaitan dengan pembunuhan kucing dengan cara serupa pada tiga tahun yang lalu.

Dalam menangani kasus tersebut, Aggie kedatangan seorang agen federal FBI, John T. Patrick, yang akan membantunya dan juga Lily dalam memecahkan kasus tersebut. Namun tujuannya bertambah ketika ia mengenal Lily, yaitu untuk melindunginya dari bahaya.

Novel ini memiliki ide cerita yang cukup menarik, yaitu kucing dalam sebuah ritual penyembahan dalam kepercayaan Mesir Kuno. Cukup, alur cerita tidak dipanjang-panjangkan atau pun dipangkas. Karakter tokoh utamanya cukup kuat sehingga pembaca mampu mengingatnya. Kadar romantisme dalam novel ini cukup, bukan menjadi masalah utama tapi tetap membuat novel ini menarik.

Tapi, sebaiknya novel ini tidak dibaca oleh anak-anak di bawah 17 tahun.

Diposkan pada puisi

Memaafkan dan Mengikhlaskan

Untukmu yang entah menitipkan rindumu pada siapa.

Jika kau titipkan untukku yang biasa saja ini, maka aku menulis ini.

Atau semuanya benar-benar hanya imaji sendiri.

Aku juga tidak tahu apakah kau sering mengunjungi halaman di mana aku tata kenangan-kenangan dalam bentuk maya  atau tidak pernah.

Jika ya,  kau akan menemukanku mengabadikan kenangan dengan seorang Tuan Penjual Ginjal.

Usah tahu dia siapa.

Yang pasti, dahulu, aku pernah menitipkan renjana padanya.

Tanpa pernah menuntut balas.

Sepanjang kukenakan putih-kelabu.

Bahkan sampai detik terakhir, ketika aku sadar bahwa renjana yang kutitipkan tiap dingin fajar menyapanya, terik siang menemaninya, lembayung senja membasuh peluhnya, ia tak pernah membalasnya barang secuil pun.

Tapi, bukan kah memang seharusnya begitu?

 

 

Sepotong kenangan yang kuunggah itu memiliki banyak arti.

Mengingatkanku akan banyak kenangan di SMA.

Karena separuh kenangan SMA adalah tentangnya, usah kau benci.

Meskipun kini sudah belajar dan membuka mata bahwa di luar sana masih banyak yang lebih dari Tuan Penjual Ginjal , kenangan tetaplah kenangan.

 

 

Aku sudah berjanji untuk tidak melupakannya.

Aku hanya akan mencari pengganti.

Semoga itu kau.

Mungkin kau akan bertanya, “Mengapa tidak dihapus saja?”

Ah, aku bukan orang seperti itu.

Aku hanya sedang belajar memaafkan dan mengikhlaskan.

Memaafkan dia, bahkan perasaan sendiri.

Mengikhlaskan yang seharusnya pergi.

Jadi, untukmu.

Jika rindu yang datang tiap hujan dan malam menyelimuti  itu milikmu, tenang saja.

Usah kau bertanya rinduku untuk siapa.

 

vinsafalah, Oktober 2016.

Diposkan pada puisi

September

Pada perputaran kali ini, sudah kutemui banyak rindu di setiap hujan, senja dan malam.

Maret yang amat menyedihkan, Mei yang membasuh luka, Juni dan Juli yang hanya mampir namun dapat membentuk lakuna hati yang cukup dalam.

Ku kira, selebihnya hanya ruang hampa.

Namun September mengucapkan salam perpisahannya dengan cukup manis meskipun pada awalnya petrikornya beraroma sama.

Dia datang di dalam pelukan malam yang dingin.

Dia datang dengan senjanya yang manis selepas hujan siang hari.

Dia datang dengan fajarnya yang hangat nan mendung.

Dia juga datang dalam rupa bayangan menyilaukan di siang hari.

Tapi sepertnya, dia hanya akan menjadi kabut, kenangan yang tak tergenggam.

Biar aku skeptis saja kali ini.

Aku tidak ingin bahwa hanya aku yang menitipkan renjana di antara hujan sore hari dan dinginnya tengah malam kala tugas memaksamu membuka mata.

Maka dari itu, biarkan semuanya biasa saja.

 

– Bandung, 5 Oktiber 2016