Diposkan pada Uncategorized

Menjadi Pemimpin Ideal Tidak Semudah Menulis Kriterianya

Menjadi seorang pemimpin tidak akan pernah semudah menentukan kriteria pemimpin ideal. Semua orang bisa menuliskan apa saja yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Tapi hanya sebagian yang bisa menuliskannya untuk dirinya sendiri, memperbaiki diri, dan bertekad menjadi pemimpin ideal agar bangsa yang lebih baik dapat tercipta sedikit demi sedikit. Sadar atau tidak, kita sedang berjalan  menuju generasi yang banyak menuntut pada orang lain tanpa mengintropeksi diri sendiri.

 

Setiap orang memiliki kriteria pemimpin idaman masing-masing. Jadi, jika saya ditanya bagaimana pemimpin idaman dari sudut pandang saya, maka inilah kriteria pemimpin idaman menurut saya.

 

Pertama-tama, seorang pemimpin sudah sepatutnya memiliki pemahaman agama yang baik dan lengkap namun bukan fanatik. Karena kefanatikan hanya akan mendorong pada keeogisan dan perpecahan. Ketika paham betul bahwa setiap apa yang ia lakukan akan dipertanggungjawabkan baik di hadapan masyarakat maupun di hadapan Tuhan nanti, ia akan lebih berhati-hati dalam bertindak dan memperhitungkan segala akibatnya.

 

Saya setuju dengan pendapat bahwa pemimpin yang ideal adalah yang menjadi pemimpin atas dasar kemauan sendiri dan dapat dipercaya oleh semua orang. Ketika seseorang menyatakan bahwa dirinya “mau” menjadi pemimpin, dia pasti memiliki motivasi tersendiri. Motivasi membuat seseorang mampu menghadapi segala tantangan, ringtangan maupun hambatan yang akan menemuinya di perjalanan. Dan motivasi paling baik adalah ketika dia melihat masalah-masalah yang terjadi di masyarakat akan tetapi ia tidak melihat ada pemimpin yang mampu mengatasi masalah tersebut. Bukan lagi motivasi karena ingin menyejahterakan keluarga sendiri atau atas dorongan pihak partai politik.

 

Saya juga setuju dengan pendapat bahwa pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang mau masuk ke tengah-tengah masyarakat agar mengetahui keluh kesah masyarakatnya. Tapi, pada kenyataan di lapangan, banyak pemimpin yang membawa mobil mewah masuk ke desa-desa kumuh, memakai pakaian yang mahal,  membawa media dan polisi sebagai buntut. Hal tersebut sungguh tidak benar. Cobalah masuk ke tengah-tengah masyarakat dengan pakaian yang sama dengan mereka, berjalan kaki, tanpa ada satu pun publikasi maupun proteksi, obrolan yang lebih intim. Karena masyarakat akan cenderung melebih-lebihkan penderitaannya ketika tahu pemimpinnya datang pada mereka—apalagi dengan publikasi, mereka jadi tidak jujur pada diri sendiri.

 

Cerdas adalah kriteria mutlak. Tapi, yang  saya maksud dengan cerdas di sini bukanlah nilai UN terakhir sempurna semua, IPK semasa kuliah besar semua. Bukan itu. Ya, walaupun hal tersebut juga tidak kalah penting. Yang saya maksud lebih kepada bagaiamana dia akan menyelesaikan suatu masalah (problem solving). Ditambah lagi dengan kepedulian tinggi karena cerdas saja tidak cukup. Indonesia tidak pernah kekurangan orang cerdas, Indonesia hanya kekurangan orang yang benar-benar peduli. Kepedulian rakyat Indonesia, khususnya pelajar, mulai terkikis dengan sistem pendidikan yang memaksa mereka menghabiskan lebih banyak waktu di kelas, perpustakaan dan tempat les ketimbang pergi ke luar, memeperhatikan masalah yang terjadi dan berusaha untuk mencari penyelesaiannya.

 

Selain cerdas, wawasan calon pemimpin juga patut dipertimbangkan. Jangan samakan ilmu pengetahuan dengan wawasan. Karena wawasan akan membuatnya memiliki referensi lebih ketika menyelesaikan masalah di lingkungannya.

 

Dewasa ini, perkembangan teknologi dan informasi sulit dibendung. Maka dari itu, seorang pemimpin haruslah orang yang kreatif dan fleksibel. Sebagai contoh adalah Wali Kota Bandung saat ini. Beliau mampu menjadikan tempat-tempat biasa di Bandung menjadi kawasan wisata dan taman-taman yang dapat digunakan oleh masyarakat Bandung. Tanpa disadari, hal-hal tersebut dapat meningkatkan tingkat kebahagiaan di kota tersebut. Selain itu, beliau juga fleksibel mengikuti arus perkembangan zaman, tidak kaku dan ramah namun tetap tegas ketika ada yang salah.

 

Sebagai seseorang yang akan memilih calon pemimpin, khususnya pemimpin daerah, pernahkah kalian bertanya, “Siapa sih orang ini? Siapa sih yang lainnya itu?” dan hingga akhirnya kalian memilih asal-asalan atau karena saudara-saudara kalian memiliki sebuah hubungan dengan sebuah partai politik. Mengenal siapa yang akan kita pilih itu amat penting. Banyak kasus “golput” dan “asal pilih yang penting tidak golput” menjadikan seseorang yang tidak layak menjadi pemimpin akhirnya mempimpin suatu daerah selama lima tahun.

 

Pemimpin yang dikenal oleh masyarakatnya bukanlah ia yang sering muncul di layar kaca, tetapi ia terkenal karena sering mengikuti kegiatan-kegiatan sosial yang bersentuhan langsung dengan masyarakat tanpa ada unsur pencitraan, tulus karena ia ingin mengenal masalah daerahnya sendiri.

 

Jadi, seorang pemimpin ideal menurut saya pribadi adalah yang memiliki keyakinan agama yang kuat, niat yang baik dan benar, rendah hati, cerdas, kepedulian tinggi, berwawasan luas, kreatif, dan fleksibel. Dan sebelum menuntut banyak kepada orang lain, cobalah tuntut diri sendiri terlebih dahulu.

 

Pemimpin Ideal Untuk Daerah

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s