Diposkan pada opini, Uncategorized

Malaikat dan Iblis

 

Malaikat dan Iblis. Agama dan ilmu pengetahuan. Mana yang malaikat? Mana yang iblis? Tidak bisakah mereka berbaur untuk kebaikan umat manusia?

 

Jika kita kembali menilik pada sejarah, sering kali kita menemui perdebatan antara ilmu pengetahuan dan suatu agama. Akan tetapi, banyak juga ayat-ayat dalam suatu kitab suci yang sudah dibuktikan oleh ilmu pengetahuan. Seperti yang dikutip dalam buku Dan Brown yang berjudul Malaikat dan Iblis, “Ilmu pengetahuan dan agama tidak bertentangan. Ilmu pengetahuan hanya terlalu muda untuk mengerti,” seharusnya kita tahu bahwa agama dan ilmu pengetahuan dan agama bukanlah dua kutub yang saling bertentangan. Mereka bisa dipadukan. Karena tujuan dari keduanya hampir sama, yaitu yang satu bertujuan memudahkan hidup, dan yang satu lagi untuk memanusiakan manusia. Terlebih di zaman yang segalanya menggunakan teknologi, termasuk dalam hal bersosial, koordinasi antara agama dan ilmu pengetahuan amat diperlukan.

 

Agama yang kita kenal sekarang muncul dengan sejarah panjangnya. Ia menyebar secara perlahan. Kini ada banyak agama yang kita kenal. Ada agama yang mengajarkan untuk menyembah banyak dewa atau tuhan (politeisme). Ada juga agama yang mengajarkan untuk hanya menyembah pada satu Tuhan, Tuhan Yang Mahaesa, (monoteisme). Semuanya memiliki aturan masing-masing, hari-hari besar tersendiri, dan cara beribadah yang berbeda pula. Di sana lah biasanya manusia kurang bisa memaknai perbedaan dan berujung pada permusuhan tak perlu.

 

Teknologi berkembang pesat tanpa ampun. Kini, hidup bersosial bukan lagi soal duduk mengobrol dengan tetangga di teras rumah. Bukan lagi soal saling sapa dan ramah-tamah dengan orang lain. Bukan lagi soal gotong-royong menyelesaikan masalah lingkungan. Kini, hidup bersosial cukup dengan menggerakkan ibu jari ke atas dan ke bawah, ke kanan dan ke kiri, serta mengisi penuh kuota internet kita. Kita cukup mengabadikan momen kita dan membagikannya. Kita cukup menekan tombol “tambah” atau “ikuti” dan otomatis sudah menjadi teman, tanpa tahu kebiasaan baik dan buruknya orang tersebut.

 

Bicara soal sosial, bicara soal keagaman. Agama dan sosial adalah dua hal yang saling bertautan. Jika ada sesuatu yang salah dengan umat beragama, maka akan terjadi sesuatu yang salah pula pada perilaku sosial masyarakat. Jika umat beragama saling hidup rukun, maka sudah dipastikan bahwa masyarakat tersebut dapat rukun satu sama lain.

 

Lalu, apa pentingnya merawat kerukunan beragama pada era media sosial?

 

Sebelum membahas hal tersebut, mari kita lihat hal-hal apa saja yang dapat memicu ketidakrukunan beragama pada era media sosial.

 

Yang pertama, salah satu kebiasaan buruk pengguna internet saat ini adalah mereka sering menganggap bahwa akun jejaring sosial yang mereka miliki adalah sebuah buku harian dengan kunci rapat tanpa ada yang bisa melihat mereka. Mereka menumpahkan semua emosi mereka, pendapat mereka, menumpahkan kekesalan mereka, bahkan menumpahkan pikiran-pikiran sarkas mereka dengan bebas dan tanpa saringan. Mereka lupa bahwa yang mereka hadapi di dunia maya adalah manusia dengan daya pikir dan perasaan juga. Ditambah lagi, apa yang sering dibagikan di internet adalah informasi berupa tulisan yang tidak memiliki intonasi dan emosi. Perbedaan intonasi membaca informasi berupa tulisan akan menambah peluang penyalahartian dari kata-kata bisu itu. Sehingga, sering sekali terjadi kasus keributan antara dua atau lebih orang di internet yang dikarenakan salah paham dalam membaca.

 

Selain itu, humor yang tidak pada tempatnya dapat pula menyebabkan permusuhan antar umat beragama. Misalnya, salah satu ajaran agama menganjurkan untuk kaum wanitanya tidak memakai wangi-wangian berlebihan dengan maksud agar tidak menarik perhatian kaum lelaki. Namun, ada sebuah akun komedi yang menulis tentang hal tersebut dengan nada lelucon mengejek. Mungki maksudnya hanya bercanda. Akan tetapi, seharusnya sang pengirim sadar bahwa tidak semua orang yang memeluk agama tersebut bisa menerimanya dengan lapang dada meskipun hanya bercanda. Dan memang sebenarnya agama bukanlah hal yang patut untuk ditertawakan.

 

Selain itu, kini banyak juga pengguna internet yang menelan mentah-mentah informasi yang beredar di internet tanpa menelaah kebenarannya terlebih dahulu. Mereka menjadi lebih cepat panas dan panik. Menyebarkan apa yang belum tentu kebenarannya sehingga banyak info-info tentang suatu agama yang salah atau menyimpang. Bahkan tidak sedikit pula berita-berita yang berusaha untuk menggiring opini publik menjadi negatif pada suatu agama.

 

Penyebab lain yang tidak kalah penting adalah perasaan bahwa agamanya lah yang paling baik. Sebenarnya, perasaan tersebut tidaklah salah. Kenapa? Karena alasan kebanyakan orang dalam memeluk suatu agama adalah karena ia memang merasa bahwa agama itu adalah agama terbaik yang ia kenal. Ketika perasaan itu muncul secara berlebihan, maka dia akan cenderung untuk meremehkan agama lain. Hal itu masih terbilang aman ketika masih disimpan untuk diri pribadi. Tapi bisa berbahaya bagi kerukunan masyarakat ketika perasaan meremehkan itu ia bagikan di akun media sosialnya. Yang setuju akan menggebu-gebu membela dan yang tidak setuju akan memberikan umpan balik yang biasanya kurang baik pula.

 

 

Sekali lagi. Lalu, apa pentingnya merawat kerukunan beragama pada era media sosial?

 

Kita tahu bahwa Indonesia adalah bangsa yang heterogen; terdiri atas beragam suku bangsa, agama, dan ras. Budaya-budaya tradisional yang berkembang di daerah banyak sekali yang diadaptasi dari budaya agama. Maka dari itu, jika antar umat beragama tidak rukun, maka mengharapkan kerukunan dalam sesama warga Negara Indonesia adalah suatu kemustahilan.

 

Kita hidup berdampingan. Jika kita tidak rukun dengan umat agama lain, bagaimana jadinya jika kita memiliki tetangga yang berbeda agama? Bukankah kita sebagai manusia saling membutuhkan? Gotong-royong dan rasa persaudaraan sesame warga Negara Indonesia sudah tidak ada lagi.

 

Jika dua poin yang saya sebelumnya berdampak pada oaring-orang di sekitar kita, maka kali ini adalah hal yang berdampak langsung pada diri sendiri. Ketika kita rukun dengan pemeluk agama lain, kita sudah membuktikan bahwa diri kita adalah orang terpelajar.  Kita dapat memahami dan mengamalkan nilai-nilai toleransi secara langsung. Dan yang paling penting, kita tidak akan memiliki musuh dalam kehidupan sehari-hari dan hal itu tentu saja membuat perasaan terasa lebih tenang.

 

Jadi, sudah sepantasnya kita menjaga perilaku kita ketika menggunakan  media sosial. Kita manusia-manusia terdidik seharusnya tahu bagaiamana seharusnya bersikap, bukan saja tahu bagaimana menyelesaikan persamaan logaritma. Apalagi yang berhubungan dengan manusia. Jika kita ingin dihargai, cobalah untuk menghargai. Jika masih sulit untuk menghargai, cukuplah untuk diri sendiri. Jangan ajak orang lain untuk sama-sama tidak menghargai. Karena kita bebas untuk percaya.

Diposkan pada Uncategorized

Menjadi Pemimpin Ideal Tidak Semudah Menulis Kriterianya

Menjadi seorang pemimpin tidak akan pernah semudah menentukan kriteria pemimpin ideal. Semua orang bisa menuliskan apa saja yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Tapi hanya sebagian yang bisa menuliskannya untuk dirinya sendiri, memperbaiki diri, dan bertekad menjadi pemimpin ideal agar bangsa yang lebih baik dapat tercipta sedikit demi sedikit. Sadar atau tidak, kita sedang berjalan  menuju generasi yang banyak menuntut pada orang lain tanpa mengintropeksi diri sendiri.

 

Setiap orang memiliki kriteria pemimpin idaman masing-masing. Jadi, jika saya ditanya bagaimana pemimpin idaman dari sudut pandang saya, maka inilah kriteria pemimpin idaman menurut saya.

 

Pertama-tama, seorang pemimpin sudah sepatutnya memiliki pemahaman agama yang baik dan lengkap namun bukan fanatik. Karena kefanatikan hanya akan mendorong pada keeogisan dan perpecahan. Ketika paham betul bahwa setiap apa yang ia lakukan akan dipertanggungjawabkan baik di hadapan masyarakat maupun di hadapan Tuhan nanti, ia akan lebih berhati-hati dalam bertindak dan memperhitungkan segala akibatnya.

 

Saya setuju dengan pendapat bahwa pemimpin yang ideal adalah yang menjadi pemimpin atas dasar kemauan sendiri dan dapat dipercaya oleh semua orang. Ketika seseorang menyatakan bahwa dirinya “mau” menjadi pemimpin, dia pasti memiliki motivasi tersendiri. Motivasi membuat seseorang mampu menghadapi segala tantangan, ringtangan maupun hambatan yang akan menemuinya di perjalanan. Dan motivasi paling baik adalah ketika dia melihat masalah-masalah yang terjadi di masyarakat akan tetapi ia tidak melihat ada pemimpin yang mampu mengatasi masalah tersebut. Bukan lagi motivasi karena ingin menyejahterakan keluarga sendiri atau atas dorongan pihak partai politik.

 

Saya juga setuju dengan pendapat bahwa pemimpin yang ideal adalah pemimpin yang mau masuk ke tengah-tengah masyarakat agar mengetahui keluh kesah masyarakatnya. Tapi, pada kenyataan di lapangan, banyak pemimpin yang membawa mobil mewah masuk ke desa-desa kumuh, memakai pakaian yang mahal,  membawa media dan polisi sebagai buntut. Hal tersebut sungguh tidak benar. Cobalah masuk ke tengah-tengah masyarakat dengan pakaian yang sama dengan mereka, berjalan kaki, tanpa ada satu pun publikasi maupun proteksi, obrolan yang lebih intim. Karena masyarakat akan cenderung melebih-lebihkan penderitaannya ketika tahu pemimpinnya datang pada mereka—apalagi dengan publikasi, mereka jadi tidak jujur pada diri sendiri.

 

Cerdas adalah kriteria mutlak. Tapi, yang  saya maksud dengan cerdas di sini bukanlah nilai UN terakhir sempurna semua, IPK semasa kuliah besar semua. Bukan itu. Ya, walaupun hal tersebut juga tidak kalah penting. Yang saya maksud lebih kepada bagaiamana dia akan menyelesaikan suatu masalah (problem solving). Ditambah lagi dengan kepedulian tinggi karena cerdas saja tidak cukup. Indonesia tidak pernah kekurangan orang cerdas, Indonesia hanya kekurangan orang yang benar-benar peduli. Kepedulian rakyat Indonesia, khususnya pelajar, mulai terkikis dengan sistem pendidikan yang memaksa mereka menghabiskan lebih banyak waktu di kelas, perpustakaan dan tempat les ketimbang pergi ke luar, memeperhatikan masalah yang terjadi dan berusaha untuk mencari penyelesaiannya.

 

Selain cerdas, wawasan calon pemimpin juga patut dipertimbangkan. Jangan samakan ilmu pengetahuan dengan wawasan. Karena wawasan akan membuatnya memiliki referensi lebih ketika menyelesaikan masalah di lingkungannya.

 

Dewasa ini, perkembangan teknologi dan informasi sulit dibendung. Maka dari itu, seorang pemimpin haruslah orang yang kreatif dan fleksibel. Sebagai contoh adalah Wali Kota Bandung saat ini. Beliau mampu menjadikan tempat-tempat biasa di Bandung menjadi kawasan wisata dan taman-taman yang dapat digunakan oleh masyarakat Bandung. Tanpa disadari, hal-hal tersebut dapat meningkatkan tingkat kebahagiaan di kota tersebut. Selain itu, beliau juga fleksibel mengikuti arus perkembangan zaman, tidak kaku dan ramah namun tetap tegas ketika ada yang salah.

 

Sebagai seseorang yang akan memilih calon pemimpin, khususnya pemimpin daerah, pernahkah kalian bertanya, “Siapa sih orang ini? Siapa sih yang lainnya itu?” dan hingga akhirnya kalian memilih asal-asalan atau karena saudara-saudara kalian memiliki sebuah hubungan dengan sebuah partai politik. Mengenal siapa yang akan kita pilih itu amat penting. Banyak kasus “golput” dan “asal pilih yang penting tidak golput” menjadikan seseorang yang tidak layak menjadi pemimpin akhirnya mempimpin suatu daerah selama lima tahun.

 

Pemimpin yang dikenal oleh masyarakatnya bukanlah ia yang sering muncul di layar kaca, tetapi ia terkenal karena sering mengikuti kegiatan-kegiatan sosial yang bersentuhan langsung dengan masyarakat tanpa ada unsur pencitraan, tulus karena ia ingin mengenal masalah daerahnya sendiri.

 

Jadi, seorang pemimpin ideal menurut saya pribadi adalah yang memiliki keyakinan agama yang kuat, niat yang baik dan benar, rendah hati, cerdas, kepedulian tinggi, berwawasan luas, kreatif, dan fleksibel. Dan sebelum menuntut banyak kepada orang lain, cobalah tuntut diri sendiri terlebih dahulu.

 

Pemimpin Ideal Untuk Daerah