Diposkan pada Uncategorized

Surat Untuk Mei

Untuk Mei,

Bisa kah kembali lagi?

 

 

Mei, tahun ini kau cukup stabil. Hari cerah di awal dan hari hujan di akhir. Mei, jika aku tahu bahwa Juni akan penuh pelangi sekaligus titik balik mimpiku yang harus tertunda, aku ingin bertemu lagi denganmu dan memperbaiki semuanya.

Hari pertamamu datang, kau membawaku ke rumah ibadah asing dan mengumpulkanku dengan orang-orang asing pula. Kau menyeretku ke antah berantah, jauh dari tempat tidur paling nyaman di dunia, rumah. Kau memaksaku melebur dan bertahan. Dan aku benar-benar melakukannya.

Pada hari ke sepuluh ketika aku bertemu denganmu, kau memberiku tamparan keras. Namun aku tidak menangis, satu tetes air mata pun, sungguh. Karena aku yakin bahwa itu semua adalah yang terbaik. Perlahan kuobati luka. Dan pada hari terakhir aku bertemu denganmu, aku harus berperang dengan semua yang aku punya.

Mei, ketika kakiku melangkah dengan puluhan kaki lainnya ketika fajar terbit, kurasa hanya aku yang berjalan sambil menoleh ke langit yang membentang tanpa halangan apappun di sana. Kemudian aku berkata pada yang lain, “Hey, lihat! Betapa Tuhan menciptakan fajar seindah itu!” Tapi mereka hanya menyunggingkan senyum.

Kemudian, ketika senja membentangkan sayapnya ketika aku berjalan penuh keringat di pusdik sana, aku tidak pernah lupa bagaimana rupanya senjamu itu.Aku jatuh cinta pada senja itu. Juga, pada senja di hari kedua puluh delapan, dimana malamnya aku dan mereka akan berpisah.

Begitu juga dengan langit malammu. Ketika mereka sudah berada di atas kasur mereka, ketika semua pintu sudah ditutup, aku dan sahabatku berjalan di tengah tanah lapang itu. Selalu, hanya aku yang mengadah ke atas, terkagum-kagum langit yang menampilkan kecantikan bima sakti.

Aku ingin kembali. sungguh. Aku ingin berkata pada diriku bahwa kau akan gagal jika usahamu hanya belajar sampai pukul satu malam. Bahwa kau akan gagal jika masih sering mengantuk di kelas. Bahwa kau akan mengenal seseorang yang tidak pernah kau perhatikan sedikitpun di sana lebih dekat dan menyisakan kenangan. Kenangan yang membuat seorang perempuan biasa saja merasa bahwa dirinya adalah lebih dari biasa. Kenangan yang kemudian membuatnya belajar bahwa dia tetap perempuan biasa saja pada akhirnya.

Tapi aku tahu, jika aku kembali pada hari di mana semuanya terjadi, aku tidak aka menjadi aku saat ini. Meskipun menyesakkan, sungguh aku ingin berterima kasih padanya, Mei. Aku ingin berterima kasih pada Tuan Bulan Juni. Terima kasih karena sudah membuat perempuan biasa saja ini sempat tersenyum-senyum sendiri di kamarnya, sempat merasakan fajar terindahnya, sempat merasakan secuil kemenangan, merasa bahwa dirinya lebih dari biasa. Terima kasih, karena sudah kembali menyadarkan bahwa aku memang biasa saja, dan semua kebahagiaan itu hanya gurauan. Maafkan aku yang terlalu naif ini.

Sekali lagi, Mei, aku rindu. Rindu semuanya tentangmu.

Planet setelah Venus, 18 Juli 2016

Tertanda,

Perempuan biasa saja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s