Diposkan pada puisi

Tuan Bulan Juni

Pertama kali melihatmu yang meminjam alat peraut pensil

Di suatu selasar rumah ibadah kecil yang dinaungi langit berbintang

Tanpa pernah menatap mata sang pemilik

Malam pun kalah dingin dengan tatapanmu

 

Bulan akan segera mati dan berganti

Perpisahan tinggal menghitung detik

Pada senja selepas hujan sore itu, aku ada di sisi

Tapi namamu masih sangat asing

 

Kita berpisah tanpa saling mengenal

Sebatas nama, itu saja

Taka ada yang merugi

Aku tak sakit, apalagi kau

 

Tapi ternyata malam itu bukanlah malam dimana kita berpisah

Kau datang membuat sakit perut

Sampai aku ingin menyuruhmu pulang!

Tapi kau terus saja membuat sakit perut dan menjalar sampai ke hati

 

Dengan gagahnya kau mengajakku mengelilingi bumi dengan sayapmu

Dan membuat fajar menjadi begitu indah

Membuat menunggu bukanlah hal yang membosakan lagi

Untukmu, waktuku yang sempit aku buang

 

Bak mesin penenun hujan

Setelah kau angkat aku menuju langit dan menjadikanku awan,

Kau turunkan aku lagi menjadi hujan

Dan aku jatuh di lautan dengan jutaan pertanyaan

 

Kau adalah sang pemimpi yang siap mewujudkannya

Namun kau mungkin tersesat padaku

Membuatmu berkata melantur soal masa depan

Dan berjanji yang bukan-bukan

 

Ketika kau ingat akan mimpi dan tujuanmu

Kau pergi dengan membawa jawaban atas pertanyaanku

Tanpa menoleh ke arahku

Tanpa bertanya apakah aku baik-baik saja

 

Wahai Tuan yang teramat sangat menyebalkan,

Terima kasih

Karenamu, Juni akan menjadi yang ketiga

Setelah Oktober dan Maret

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s