Diposkan pada Uncategorized

Jurang Tak Berdasar (2)

Waktu berlalu.
Keadaan mulai membaik, mungkin.
Aku sudah berusaha keras untuk menuruti apa yang kau katakan, “jangan pikirkan aku lagi”.
Tapi kau tetap saja menjadi nama yang kucari.
Kau tetap saja menjadi sosok yang aku cari di keramaian.
Tapi aku tidak.
Dan saat itu aku sadar, aku sudah berbohong pada mereka.

Andai kau dapat melihat semua yang aku lakukan.
Andai kau tahu  bahwa namamu yang sering terselip dalam doa.
Dan andai kau tahu bahwa doa itu terdengar sangat sederhana.
Aku hanya ingin melihatmu tersenyum dan menyapa ketika kita berpapasan, selayaknya teman.

Kepada jurang tak berdasar,
Aku tahu bahwa aku bukanlah satu-satunya orang yang sedang jatuh.
Dan andai kau tahu bahwa aku membenci orang yang seenaknya memetik buah dari kebun orang lain. Meskipun kebun itu tak bertuan.
Bukankah seharusnya dia tahu bahwa menunggu benih berbuah tidak pernah mudah dan sebentar?

Kepada jurang tak berdasar,
Ketika kau membaca ini, mungkin saja kau akan merasa geli.
Atau semakin membenciku.
Tapi tak apa.
Aku tak peduli.

Kepada jurang tak berdasar,
Kau tentu sudah tahu bahwa kenangan akan selalu seperti kabut yang tak tergenggam.
Maka dari itu, biarkan aku melebur menjadi cair dan menguap.
Agar aku tetap menjadi kenangan yang mengelilingimu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s