Diposkan pada Uncategorized

Jurang Tak Berdasar (2)

Waktu berlalu.
Keadaan mulai membaik, mungkin.
Aku sudah berusaha keras untuk menuruti apa yang kau katakan, “jangan pikirkan aku lagi”.
Tapi kau tetap saja menjadi nama yang kucari.
Kau tetap saja menjadi sosok yang aku cari di keramaian.
Tapi aku tidak.
Dan saat itu aku sadar, aku sudah berbohong pada mereka.

Andai kau dapat melihat semua yang aku lakukan.
Andai kau tahu  bahwa namamu yang sering terselip dalam doa.
Dan andai kau tahu bahwa doa itu terdengar sangat sederhana.
Aku hanya ingin melihatmu tersenyum dan menyapa ketika kita berpapasan, selayaknya teman.

Kepada jurang tak berdasar,
Aku tahu bahwa aku bukanlah satu-satunya orang yang sedang jatuh.
Dan andai kau tahu bahwa aku membenci orang yang seenaknya memetik buah dari kebun orang lain. Meskipun kebun itu tak bertuan.
Bukankah seharusnya dia tahu bahwa menunggu benih berbuah tidak pernah mudah dan sebentar?

Kepada jurang tak berdasar,
Ketika kau membaca ini, mungkin saja kau akan merasa geli.
Atau semakin membenciku.
Tapi tak apa.
Aku tak peduli.

Kepada jurang tak berdasar,
Kau tentu sudah tahu bahwa kenangan akan selalu seperti kabut yang tak tergenggam.
Maka dari itu, biarkan aku melebur menjadi cair dan menguap.
Agar aku tetap menjadi kenangan yang mengelilingimu.

Diposkan pada puisi

Jurang Tak Berdasar

-Teruntuk jurang tak berdasar-

Tidak ada jurang yang mendorong seseorang untuk jatuh ke dalamnya.
Yang bodo hanyalah orang ceroboh di sekitarnya.
Tapi, bukankah hidup ini takdir?
Bahkan sekuat apapun usahaku agar tidak jatuh, takdir sudah tertulis.

Kau tidak pernah dengan sengaja membuatku jatuh.
Aku yang naif.
Tanpa perlawanan membiarkan begitu saja kaki ini melangkah lalu terjatuh begitu dalam.

Sampai saat ini aku belum menemukan dasarnya. Agar aku mulai memanjat dan pergi jauh.
Dan aku tak bisa menyalahkanmu atas semua yang sudah aku lakukan.

Dan malam itu aku merasa seperti manusia.
Rasanya mata akan banjir.
Dan tumpahlah semua.

Terungkaplah jawaban atas segala pertanyaan.
Seperti ditusuk.
Tapi tak apa.
Aku tahu semua ini aku yang salah.

Dan aku berkata pada mereka bahwa aku tak apa dan akan melupakanmu.
Rasanya aku ingin membencimu.
Rasanya aku ingin mengubur semua kenangan.
Tapi ketika aku melihat kebelakang, aku melihat perjuanganku tersenyum di sana.

Dan di hadapanmu aku tersenyum.
Bukan untuk berlagak kuat.
Aku hanya tak tahu  harus berbuat apa.