Diposkan pada puisi

Batu dan Bunga di Puncak Bukit

– Teruntuk gadis mungil di sana-

Suatu hari aku menemukan sebuah bukit. Hijau dan damai. Di puncak, berdiri sebuah batu besar nan kesepian. Batu itu berlumut dan kosong. Tapi, batu itu sangat nyaman ketika dipakai untuk bersandar.

Semakin hari aku mengunjungi tempat itu, kulihat sebuah kecambah tanaman tumbuh. Aku tak menanamnya dengan sengaja. Itu semua tumbuh begitu saja.

Semakin hari, setiap fajar dan senja, batu itulah yang menemani di atas bukit. Aku melihat bunga itu makin tinggi dan mengakar makin kuat di satu sisi batu. Ternyata indah. Lalu kurawat.

Tanpa sadar, aku takut kehilangan batu itu, walaupun aku tak mungkin berteman dengan batu. Dan bunga itu makin mengakar kuat.

Satu tahun lebih berlalu. Selalu seperti ini. Tak ada yang berubah. Sampai-sampai aku memprolkamirkan bahwa ini adalah batu, bunga dan bukit yang aku temukan dan aku rawat.

Hingga suatu hari di awal senja, ketika surya melebarkan cahaya keemasannya, aku melihat seseorang duduk di samping batu itu, sama sama melihat senja dari sana. Dan itu adalah kau, gadis mungil.

Saat kusapa dan tersenyum padamu, kau tersenyum dan berkata, “Boleh aku duduk di sini? Pemandangan di sini indah. Ini tempat umum, kan?”

“Oh, tentu boleh. Ya, ini tempat umum.”

Kau memang benar, di sana adalah tempat umum. Siapapun boleh menduduki nya. Aku tak berhak melarang siapapun menikmati pemandangan dari puncak bukit–di samping batu yang indah itu. Aku hanya merasa sedikit tidak nyaman.

Tapi semakin lama, kau semakin sering pergi ke sana ketika aku belum sampai. Aku tidak apa-apa.

Hingga akhirnya aku sadar. Kau tidak hanya senang menikmati pemandangan dari puncak sana. Kau juga menyukai batu itu, dan bunga yang indah itu, kini dia memiliki saingan dalam menerima sinar mentari–kau menyimpan bunga lain disisi seberang.

Ketika kuberi hati, kau malah meminta jantung! Ketika kubiarkan, kau melonjak!

Aku tak marah padamu, awalnya. Aku membiarkanmu menikmati pemandangan dari puncak dan samping batu itu, awalnya.

Lagi pula, aku tidak berhak marah. Aku hanya kecewa dan merasa tidak dihargai. Itu saja. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa berharap bahwa suatu hari kau akan mengerti.

-Bagaimana, gadis mungil? Jika kau cukup pintar menganalogikan semua ini, kau pasti akan tahu apa artinya. Semoga kau mengerti tanpa harus aku jelaskan. Dan jika kau sudah membaca ini, kuharap kau bersedia membalasnya. Terimakasih. –