Diposkan pada puisi, true story

Bulan dalam Air

Aku sama seperti orang kebanyakan,
Takut akan gelap dan kesepian,
Suka langit malam bertabur bintang,
Menjadi paranoid ketika bulan purnama datang.

Aku hanya sering memimpikan nya,
Di bawah langit malam dengan bulan penuh,
Di tepi danau atau sungai,
Menatap bulan yang terpantul dalam air, bersamamu.

Bayangan putih di atas air biru pekat,
Bergelombang memecah bentuk,
Tak banyak yang tertarik pada nya,
Tapi aku menyukai nya.

Bukankah seharusnya kau sudah tahu,
Bahwa aku hanya si pemimpi,
Yang menganggap dunia selalu lebih indah,
Ketika matanya tertutup.

Aku hanya manusia yang selalu bersembunyi
Dibalik kata-kata dan catatan – catatan
Dibalik klausa dan frasa
Berharap akan ada yang mengerti akan nya.

Bayangan bulan yang terpantul dalam air itu,
Dimana aku bisa menemukan nya?
Sedang disini tak ada tempat seindah itu.
Mungkin di matamu, aku akan menemukan nya.

Diposkan pada puisi, true story

Puisi

Pernahkah kau mendengar?
“Mulutmu akan belepotan oleh puisi ketika patah hati. ”
Awalnya aku menertawakannya.
Tapi sekarang, aku benar merasakannya.

Klausa dan frasa itu mengalir begitu saja.
Seperti air liur yang tidak bisa di hentikan.
Bait – bait itu tertulis begitu saja.
Seperti kuku yang tumbuh begitu saja.

Jadi jangan pernah merasa aneh,
Ketika aku tiba-tiba menulis banyak puisi.
Semua itu terjadi begitu saja,
Tanpa bisa ditahan, apalagi dihentikan.