Diposkan pada cerpen, entertainment, flash fiction

[Cerpen] DARKNESS

Genre: fantasi, misteri.

 

Clara berjalan dengan langkah cepat di sebuah jalan besar menuju rumahnya. Sepatunya menghentak genangan air selepas hujan tadi sore.

Clara mengambil ponsel di saku jaketnya. Mencoba menelepon ayahnya diantara sepi jalanan. Namun tak kunjung diangakat. Hanya diterangi lampu jalanan remang-remang, Clara terus berjalan menuju rumahnya yang masih cukup jauh.

Jam tangannya sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Sepangjang jalan, hanya lampu jalanan remang-remang dan lampu dari warung atau toko-toko yang masih buka yang sedikit mengurangi rasa takut.

Ada juga beberapa rumah yang lampunya sudah dimatikan. Mereka semua sudah berlayar ke alam mimpi.

Hingga langkahnya terhenti pada sebuah gedung tua. Hitam, tua, gelap, kotor, sangat rapuh terlihat dari luar. Berpagar besi yang sudah hampir berkarat semua bagiannya. Dengan halaman yang cukup luas sebelum sampai di pintu masuk gedung tersebut.

Gedung itu bertingkat tiga. Bergaya arsitektur klasik dan terkesan sangat tua jika melihat gedung itu pada malam itu. Tampak banyak jendela di muka namun tak ada satu pun yang menyala. Gelap.

Clara berdiri di depan pagar gedung itu. Menatap dengan penasaran gedung itu.

“Sejak kapan ada gedung deperti ini?”

Tiba-tiba Clara bisa mendengar suara anak perempuan yang sedang berebut sesuatu.

“Ih, ini punyaku!”

“Ini punyaku! Kau jangan mengambil milik orang lain, dong!”

“Tidak! Ini punyaku!”

Clara semakin penasaran akan suara yang ia dengar—walaupun ia tidak bisa berbohong kalau bulu kuduknya sudah berdiri tegak. Kemudian terdengar suara seorang ibu-ibu cerewet.

“Kalian berdua ini berisik banget! Jangan berisik! Aku mau baca majalah!”

Kemudian terdengar lagi suara berat seorang pria.

“Ambilkan berkasku di laci bawah meja! Aku mau menyelesaikan kasus temanku dulu! Cepat, jangan bengong saja!”

“Aku sedang memasak! Suruh yang lain saja!”

Kemudian terdengar suara lainnya menyahut.

“Hey! Hey! Lihat keluar jendela! Ada yang berdiri di sana.”

Mendengar dan sadar akan suara itu, Clara mengadahkan kepalanya ke sebuah jendela yang gordynnya terbuka sedikit. Gelap, tak nampak apapun dari luar.

Rasa takutnya berubah menjadi rasa penasaran. Namun, ia melirik jam tangannya. Clara memutuskan untuk berbalik dan langsung melanjutkan perjalanan ke rumahnya.

Saat Clara melangkah satu langkah, seorang nenek bungkuk menyeru kepada Clara. Melangkah cepat sekuat tenaga dengan tongkat.

“Kamu!” katanya berusaha teriak.

Clara berbalik dengan kaki gemetaran.

“Saya?” Clara menunjuk diri.

“Kamu mendengar suara dari gedung ini?” katanya perlahan. Matanya yang berada dibawah lipatan-lipatan keriput menatap tajam mata lemah Clara.

Nenek tua itu memperhatikan Clara. Berdiri di depan pagar, membuka kuncinya.

“I,” napas Clara kabur. “I, iya.” Kata Clara lega.

“Ayo ikut saya! Dan jangan tanya kemana!” katanya berbalik meninggalkan Clara.

“Harus ikut ke dalam?”

“Kalau tidak, kamu tidak akan bisa selamat sampai di rumahmu. Aku jamin itu.”

“Ha?” Clara langsung berjalan mengikuti nenek tua itu tanpa banyak kata lagi. Mulai menembus pagar besi tua berkarat. Menginjak serakan daun-daun kering di jalan menuju pintu. Setiap langkah kaki Clara bersuara. Tapi sang nenek tidak.

Kini Clara tersedot masuk ke dalam pintu kayu yang rapuh. Pintu yang jika pintu itu adalah manusia, pintu itu adalah seseorang yang kehilangan harapan akan mimpi besarnya dan tercabik-cabik oleh keadaan tak terbantahkan.

Clara bisa melihat dengan jelas isi gedung itu. Berantakan, kotor, namun… ramai.

Ya, ramai. Saat ia masuk, tampak beberapa sosok yang sibuk dengan beberapa kertas di tangannya. Berpindah dari satu sisi ke sisi lain tanpa berjalan. Tapi melayang.

Saat sadar akan kehadiran Clara, semua sosok itu berdiri jauh di hadapan Clara.

Datang dengan penuh aura mistis dan kegelapan sesosok pria bertubuh tinggi besar dengan suara yang begitu dalam menyapa Clara yang berdiri kebingungan.

“Suatu kehormatan seorang anak manusia berdarah segar bisa masuk ke dalam Darkness.”

“Anda siapa?” tanya Clara sopan namun dengan mata menyelidik.

“Panggil saja aku Dark. Pemilik Darkness. Yang membangun Darkness ini dengan keringatku selama aku menjadi manusia.” Jelas Dark.

“Aku benar-benar tidak mengerti. Kalian ini,” Clara memperhatikan mereka yang berdiri jauh di hadapannya dan melanjutkan pertanyaannya, “hantu?”.

“Ya, manusia menyebutnya seperti itu.” Jawab sosok wanita tinggi berbaju khas orang Tiongkok berwarna merah. Namanya Younha.

Clara menampar sendiri pipinya dengan sangat keras. “Ini bukan mimpi.”

“Para penghuni gedung ini adalah para arwah yang mati dengan cara mengenaskan. Tidak rela akan kematiannya dengan alasan dendam atau mungkin karena masih ada urusan duniawi yang belum dituntaskan dan ingin sekali kembali hidup.” Jelas Dark.

“Saat kami tersesat di alam setelah kehidupan ini, kami menemukan Dark membuka tangan, menyambut kami.” Younha menimpali.

“Yang pertama kali ditemukan Dark adalah Shu. Dia adalah yang menjemputmu tadi.” Younha menjelaskan lagi. Menunjuk Shu yang berdiri tunduk di belakang Dark.

“Ya Tuhan…” Clara menggelengkan kepala.

“Kamu adalah manusia pertama yang masuk ke gedung ini, Clara.”

“Lalu kenapa aku bisa berada disini? Maksudku, kenapa hanya aku yang baru masuk ke tempat ini?”

“Maka dari itulah Shu menyuruhmu masuk ke sini. Kami juga tidak pernah menyangka ada manusia yang dapat menyadari gedung ini dan mendengar kegaduhan gedung ini. Maka dari itu, kami akan menyambut dan memperlakukanmu dengan baik. Namun dengan satu syarat.”

“Apa itu?” tanya Clara berusaha sopan kepada Dark.

“Kamu tidak boleh menceritakan kejadian ini kepada siapapun. Tak terkecuali. Bahkan menuliskannya di buku harianmu saja itu tidak boleh.”

“Memangnya kenapa jika aku cerita atau menulis sesuatu tentang Darkness?”

Semuanya menatap Clara. Diam. Tak ada yang menjawab, tak ada sahutan dari suara Dark.

“Dan satu hal yang harus kamu ingat. Manusia yang masih hidup hanya bisa sekali ke tempat ini walaupun tidak semua manusia bisa. Jika kamu berada di tempat ini untuk yang kedua kalinya, itu artinya kau sudah mati.” Lanjut Dark.

“Aku ingin pulang.” Lanjut Clara yang melihat para penghuni gedung terus menatap dengan sinis kepada Clara.

“Secepat itu?” tanya Younha.

“Mau aku ajak berkeliling gedung ini?” tawar Shu dengan suara serak.

“Tidak, terimakasih.” Jawab Clara. “Aku ingin pulang. Bisa tunjukkan kepada ku jalan keluar?”

“Baiklah kalau itu maumu. Akan aku antar kau pulang sampai depan rumahmu.” Younha menawarkan dirinya.

Clara keluar dari gedung itu menggunakan pintu yang sama ketika ia masuk. Keluar dituntun oleh Younha. Tangan panas Clara digenggam erat oleh Younha. Menuju dunia manusia kembali. Malam yang dingin di bumi manusia.

“Younha. Kamu dingin banget.”

Younha diam. Tidak ada jawaban. Hanya raut wajah yang kembali ke masa lalu. Sorot mata yang menjelajah masa lalunya selama menjadi manusia.

“Ini lucu.” Clara tertawa kecil.

“Apanya yang lucu?” Younha bertanya sinis.

“Bukankah ini lucu? Seorang gadis remaja yang pulang malam diantar hantu. Masuk ke dalam gedung tua yang penghuninya sebut dengan Darkness. Memiliki sebuah perjanjian akan kerahasiaan sesuatu. Aku ini kenapa?”

“Aku juga tidak tahu.”

“Tapi Younha, bisa kamu jelaskan siapa sebenarnya Dark dan mengapa bisa ada Darkness?” tanya Clara memulai percakapan dingin antara dirinya, malam dan Younha.

“Darkness adalah sebuah gedung perkantoran mewah pada zaman dahulu. Ketika krisis ekonomi global melanda, Darkness meminjam uang kepada sebuah Bank yang cukup besar. Namun, dalam jangka waktu yang sudah ditentukan, perusahaan Darkness tidak bisa mengembalikan uang pinjaman tersebut dengan tepat waktu. Walaupun Darkness sudah memecat lebih dari separuh karyawannya. Tapi tetap saja masih kurang.”

“Ya, lalu?” kata Clara penasaran.

“Kamu akan membayarku dengan apa kalau aku lanjut bercerita?”

“Ha?” Clara menatap heran.

Kemudian Younha tertawa kecil. “Baiklah.” Younha masih menghabiskan sisa tertawanya.

“Ketika diberi keringanan untuk pergi tanpa membawa barang apapun dari gedung itu, Dark berontak. Ia tidak terima. Karena pihak Bank sudah merasa bijak karena memberi keringanan beberapa hari namun belum dibayar juga, pihak Bank memberi dua pilihan: pulang selamat tanpa membawa apapun—kecuali pakaian yang dikenakan—atau kekayaan kembali dengan melihat istri dan anak-anak Dark harus mati.”

“Kemudian Dark memilih pilihan kedua.”

“Apa?” mata Clara terbelalak.

“Ketika istri dan anak-anaknya mati, Dark kembali menata Dark. Namun, beberapa hari setelahnya, Darkness kerampokan besar-besaran dan Dark mati juga dalam keadaan bersandar pada brangkas uangnya.”

“Sulit dipercaya.” Jawab Clara.

“Sejak saat itulah, arwah Dark merawat Darkness yang mulai ditinggalkan. Dengan berjalannya waktu, Darkness di robohkan dan kini hanya tinggal nama, tempat punuh ilusi.”

Ada jeda diam beberapa detik saat mereka berjalan di bawah lampu jalanan.

“Tapi Younha, sebenarnya bagaimana kamu bisa masuk ke dalam Dark?”

Younha diam. Matanya yang indah menatap kosong jalanan di depannya.

“Bukan cerita yang baik.” Younha menghela napas panjang.

“Maaf. kalau itu membuatmu sedih, tak udah diteruskan.”

Beberapa menit kemudian mereka berdua tiba di depan gerbang rumah Clara.

“Kok cepat?” Clara kebingungan. Tapi Younha hanya mengangkat bahu tanpa menjawab apapun. “Terimakasih sudah mengantar. Sampaikan terimakasih juga untuk para penghuni Darkness. Maaf kalau-kalau aku tadi kurang sopan pada para mkhluk yang telah mendahuluiku.”

“Ya. Bagaimanapun juga, dalam keadaan sesulit apapun juga, kau jangan cerita atau menulis tentang Darkness. Aku hanya memperingatkan. Aku pergi.” Younha berbalik dan pergi.

**

Hari ini, Clara bermain basket dalam sebuah festival olahraga antar sekolah. Clara adalah kapten dari timnya. Jika mereka menang hari ini, maka mereka akan maju sebagai perwakilan daerah untuk tingkat nasional.

Selesai.

Pertandingan basket dimenangkan oleh tim Clara walaupun dengan selisih tipis, yaitu 57-55. Dalam beberapa pertandingan terakhir, tim Clara menang dengan selisih poin yang cukup jauh. Tapi hari ini tidak.

“Aku senang kita bisa menang.” Kata July sambil merapikan isi tasnya.

“Aku juga. Tapi, aku masih kecewa pada diriku sendiri.” Clara menatap tasnya yang sudah penuh dan gembul dengan tatapan kosong.

“Ya. Menurutku, tadi itu kamu bermain kurang maksimal. Entah bagaimana yang aku lihat kamu serasa tidak fokus. Seperti ada masalah.” July menatap Clara.

“Kalau mau cerita, silakan saja.” July berusaha menghibur.

“Apa mungkin semua ini karena Darkness? Gedung tua itu benar-benar menggangu pikiranku selama seminggu terakhir ini.” Kata Clara dengan tatapan kesal namun matanya tidak mengajak July mengobrol. Ia seperti sedang menggerutu sendiri.

“Apa kamu bilang? Darkness? Gedung tua?” tanya July keheranan.

Clara langsung menutup mulutnya dengan satu tangan. Kaget. Ia menunggu beberapa detik. Tidak terjadi apa-apa.

“Ah, tidak, tidak. Tidak usah dipikirkan. Ayo kita pulang.”

“Apa itu Darkness?” July memaksa namun Clara tidak menghiraukannya.

Mereka berdua keluar dari Toilet yang cukup besar di sebuah gedung olahraga.

**

Air dari langit turun rintik-rintik. Membuat malam pekat tak berbintang semakin dingin. Clara berjalan dengan kaki digeser satu persatu dan bercucuran darah. Air hujan yang membasuh luka-luka berdarah ditubuhnya. Mencari pertolongan pada yang masih terjaga.

Clara berjalan terus. Compang-camping bagai gelandangan. Berjalan lurus menuju jalan tak berujung. Hingga pada satu titik ia berhenti. Pandangannya semakin gelap. Tak ada satupun yang bisa Clara lihat. Tangannya berusaha meraba sekeliling. Tak ada benda apapun dikelilingnya.

Tiba-tiba datang cahaya yang menyilaukan mata Clara. Clara tak bisa melihat apapun. Sebuah perubahan seratus delapan puluh derajat yang sangat mendadak. Ini terlalau terang.

Hingga cahaya itu perlahan meredup. Menampakkan sosok-sosok makhluk yang ada di hadapannya. Mata clara mulai bisa melihat dengan jelas kembali. Nampak lurus nan jauh dihadapannya seseorang bertubuh tinggi besar duduk diatas tahta megah.

“Selamat datang kembali di Darkness, Clara.” Sambut sosok itu dengan suara berat, begitu dalam dan menggema, terpantul oleh dinding-dinding dingin gedung itu.

“Dark?” Clara menatap tajam orang yang duduk di tahta itu.

“Kenapa aku bisa berada di sini lagi?”

Semuanya diam. Bisu, hening, gelap, tak ada satupun jawaban.

“Ini kedua kalinya aku masuk ke daalam Darkness. Ini artinya…”

Mata Clara bergetar. Ia memegang nadi di pergelangan tangan kirinya. Tak berdenyut. Ia memegang dada kirinya. Sama.

“Aku, sudah, mati?” tanya Clara dengan kalimat terputus-putus.

“Kau sudah sama seperti kami, Clara.” tegas Younha namun dengan mata penuh ketidakrelaan.

Clara terpaku. Memperhatikan tubuhnya. Ya, bajunya dilumuri darah. Kemudian Clara mengingat kejadian yang baru saja menimpanya.

Malam tadi, Clara merayakan kemenangan tim basketnya disebuah tempat karaoke di pusat kota. Tim basket Clara menang dan maju ke tingkat Nasional sebagai perwakilan daerah dalam festival olahraga antar sekolah yang diadakan oleh pemerintah.

Malam itu, jam sebelas lebih lima belas menit. Clara pulang bersama teman pe-rempuannya, July. July meninggalkan Clara sebentar untuk membeli tisu. Namun, Saat Clara menunggu temannya pergi ke warung terdekat dan menunggu taxi datang, ia melihat July sudah ada di seberang jalan melambai-lambaikan tangannya.

Alis Clara terangkat satu. Heran.

“Kapan July menyeberang?”

Kemudian Clara menengok ke sekeliling. Sepi. Dingin. Bulu kuduknya berdiri. Merinding. Karena itu, ia bergegas berlari kecil ke seberang jalan.

Dan saat menyeberang terdengar suara teriakan keras dari arah belakang tubuhnya. Itu suara teriakan July, Clara tahu benar suara itu. Saat berlari mata Clara terbelalak.

Dalam hitungan persekian detik, Clara sempat menoleh ke depan dan melihat sosok July memang tidak ada di seberang jalan.

Belum sempat Clara menoleh ke belakang, sebuah mobil truk besar yang beroperasi di malam hari menabraknya dengan sangat kencang.

Pikiran Clara kembali pada dimana ia sekarang, di dalam Darkness.

“Kau mengingkari janjimu, Clara.” Dark memulai.

“Apa? Aku tidak pernah merasa melanggarnya!” kata Clara membela diri. “Coba tunjukkan padaku, apa yang salah?” lanjutnya.

“Kau menceritakan Darkness pada temanmu yang bernama July. Walaupun hanya sedikit, tapi dia bisa bertanya balik tentang Darkness.” Jelas Dark.

“Sekarang, satu orang manusia lain tahu soal Darkness.”

“Tapi, dia tidak tahu betul, Dark. Kenapa aku harus ada disini? Minggu depan aku akan bertanding basket lagi. Tolong pulangkan aku ke rumah, Dark. Aku tidak mau ada di sini. Aku mohon.” Pinta Clara dengan sungguh-sungguh.

“Terlambat. Kau tidak punya pilihan sama sekali. Orang mati tidak akan bisa hidup kembali. Disini, hanyalah jiwamu yang tersiksa akan ketidakrelaan sebuah kematian. Seperti ada sesuatu yang tertinggal di dunia, tapi tetap saja kau tidak bisa kembali.”