Diposkan pada entertainment, puisi, true story

Yang Tak Tergenggam

Kepada jarak yang memisahkan.
Kepada waktu yang tidak pernah berhenti untuk menyimpan kenangan dan selalu berganti.
Kepada udara yang masuk dan keluar, yang membuat manusia bisa bertahan.
Kepada angin yang menuntun.

Kepada kamu.
Masih ingatkah akan kepingan kenangan yang tak tergenggam itu?
Manis, seperti cokelat dalam bentuk koin.
Seperti kabut. Mengelilingi kita tapi tak pernah bisa kita genggam. Tidak juga bisa kita mengumpulkannya.

Kita seperti buih-buih yang mengambang lalu meledak lembut.
Seperti horizon di lepas pantai. Indah, jauh dan tak berujung.
Seperti butiran pasir putih yang kita tahu jumlahnya banyak tanpa pernah kita coba hitung.
Dan pada akhirnya kita seperti embun pagi yang menguap dimakan ultra violet.

Lagu. Album. Musisi.
Pantai. Gitar. Senja.
Pagi. Siang. Malam.
Senyum. Kesal. Bosan.
Tidakkah kau ingin menggenggam semuanya dan tak ingin melepaskannya?

Jarak. Usia. Kabut. Kenangan.
Dan semua kepingan kenangan itu tidak bisa digenggam.
Kini kepingan kenangan itu tak nyaring lagi.
Diam tertutup debu.
Kepingan itu mungkin sudah terkubur dalam-dalam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s