Diposkan pada entertainment, puisi, true story

Yang Tak Tergenggam

Kepada jarak yang memisahkan.
Kepada waktu yang tidak pernah berhenti untuk menyimpan kenangan dan selalu berganti.
Kepada udara yang masuk dan keluar, yang membuat manusia bisa bertahan.
Kepada angin yang menuntun.

Kepada kamu.
Masih ingatkah akan kepingan kenangan yang tak tergenggam itu?
Manis, seperti cokelat dalam bentuk koin.
Seperti kabut. Mengelilingi kita tapi tak pernah bisa kita genggam. Tidak juga bisa kita mengumpulkannya.

Kita seperti buih-buih yang mengambang lalu meledak lembut.
Seperti horizon di lepas pantai. Indah, jauh dan tak berujung.
Seperti butiran pasir putih yang kita tahu jumlahnya banyak tanpa pernah kita coba hitung.
Dan pada akhirnya kita seperti embun pagi yang menguap dimakan ultra violet.

Lagu. Album. Musisi.
Pantai. Gitar. Senja.
Pagi. Siang. Malam.
Senyum. Kesal. Bosan.
Tidakkah kau ingin menggenggam semuanya dan tak ingin melepaskannya?

Jarak. Usia. Kabut. Kenangan.
Dan semua kepingan kenangan itu tidak bisa digenggam.
Kini kepingan kenangan itu tak nyaring lagi.
Diam tertutup debu.
Kepingan itu mungkin sudah terkubur dalam-dalam.

Diposkan pada Uncategorized

Terima Kasih

Tidak terasa, ya? Sudah hampir satu tahun sejak pertama kali melihatmu di depan tong sampah.
Bagaimana sekarang?
Mau mengingat kembali?
Atau mau dengar cerita versi diriku sendiri?
Mungkin sedikit berbeda dengan versimu.
Ya, setiap orang punya sudut pandang masing-masing.
Kurang lebih beginilah ceritanya.

Kau berjalan di depan pagar rumah tepat ketika aku sedang membuka pintu. Kebetulan? Bukan, itu rencana-Nya.
Kau berdiri tepat di depan tong sampah ketika aku akan membuang sampah.
Lalu aku bilang permisi.
Kau tersenyum dan menyingkir.
Aku tertarik.
Tapi aku belum yakin, maka aku permisi untuk kembali ke beranda rumah.
Ketika aku akan masuk, kau memanggil. Aku berbalik. Tapi tak berkata apa-apa. Membingungkan.
Aku melihatmu jauh lebih menarik dari sini.
Dengan segenap keberanian yang aku punya, aku menawarimu untuk mampir. Ah, mungkin ini terdengar agak sedikit nakal.
Kau tidak melangkah barang satu mili pun. Kau diam.
Kau berpaling dan pergi.
Melewati jalan depan rumah beberapa kali lagi.
Tak ada yang berubah.
Sampai saat ini aku hanya pengamat, penguntit. Menyebalkan!
Tapi, walaupun ketika aku menawarimu untuk masuk dan kau menerima ajakan itu, percayalah, aku hanya akan membiarkanmu masuk hanya sampai depan pagar dan kau tidak boleh melangkah barang satu mili lagi pun.

Tapi, bagaimanapun juga, terima kasih. Terima kasih karena pernah mampir. Oh, bukan mampir. Hanya melewati.

Sekali lagi terima kasih karena telah memberi kenangan indah selama satu tahun terakhir.

Terima kasih karena telah dilahirkan.

Semoga kau mengerti cerita konotasi yang kutulis tadi. Aku pikir kau cukup cerdas untuk mengerti.

Sekali lagi,
Terima kasih.