Diposkan pada Fan Fiction, true story

[FF Machi Feitan] Ending Story??

“I’m free.
You? None.” — Ending Story?? by ONE OK ROCK

“Machi, bentar lagi lho. Mau ngasih apa?” tanya Spinx saat di kelas.

Machi tidak menjawab. Machi hanya menggeleng pada akhirnya.

“Punya hak apa? Nggak ada ‘kan? Ya udah diem aja,” gerutu Machi dalam hati.

“Machi, gimana?” desak Spinx.

“Tau ah.”

“Bukan nya lu pernah bikin sketch drawing Feitan ya? Kasih aja!”

“Ah, udah deh. Diem dulu kenapa sih gue lagi mikir dan lagi bingung!”

“Santai Ma. Gue kan cuma kasih saran. Lo bisa titipin itu ke gue. Gue gak keberatan kok”.

Machi mulai meraih sketch book dan seabreg alat gambar lainnya.

**

Hari ini Feitan berulang tahun. Machi tidak mungkin lupa. Bagaimana mungkin ia bisa lupa kalau hari itu sudah ia nanti lima bulan sebelumnya.

Machi sangat tahu bahwa kodrat seorang perempuan adalah menunggu. Machi tahu bahwa perempuan harus menjaga martabat dan harga dirinya. Lalu pertanyaan itu muncul.

“Apa ini salah? Apa mencoba membahagiakan ‘teman’ itu dosa? Lagi pula, beneran, gue ngga meminta balasan apapun. Salah?”

Keyakinan itu mulai luntur. Takut, khawatir, aura negatif menyelebungi dirinya saat itu. Masih ada keraguan pada hari itu. Ditambah lagi saat ia melihat Spinx. Raut wajahnya berbeda dari biasanya.

“Kesambet apa lu?”

“Emmm, anu… Emmmm, vin…” Spinx terlihat bingung.

“Sekarang itu hari ulang tahun temen lu. Feitan mau dibully? Oh iya, gue nitip ini, ya?” kedua alis mata Machi naik-turun.

“Machi, ikut gue sebentar deh” kini raut wajah Spinx terlihat serius.

“Apaan? Kok serius amat?”

Machi mnegikuti Spinx tak mengerti. Sampai akhirnya mereka sampai di depan pintu kelas mereka.

“Ikutin gue,” perintah Spinx. “TArik nafas yang panjang, tahan, buang. Sekarang lu tengok ke sebelah kiri ada apa”.

Perlahan, Machi menoleh ke sebelah kiri dari depan pintu kelasnya.

Bruk. Kado yang tadinya akan ia beri untuk Feitan jatuh. Matanya membelalak dan mulutnya menganga. Ia tak ingin percaya akan apa yangh dilihatnya saat itu.

“Sejak kapan?” tanya Machi dengan mata berkaca-kaca.

“Kemarin malam. Sorry banget, Machi. Sebenernya gue nggak tega. Tapi, gue juga nggak mau kalo lo malu nantinya”.

“Gue udah tau kok. Udah tau kalau mereka itu deket” jawab Machi dengan senyum simpul. “Thanks Spinx”.

Machi pergi berbalik masuk ke kelas sambil menepuk pundak Spinx.

“Ya, dari dulu sampai sekarang aku bebas. Tapi mulai saat ini, kamu? Tidak.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s