Diposkan pada flash fiction

[flash fiction] Machi Feitan – Mungkin

(Feitan)

Hari kamis. Hari ini klub sepak bola latihan. Keluar dari kelas, aku langsung melihat ke arah lapangan sekolah. Semuanya sedang bersiap-siap untuk latihan.

Iri? Ya, pasti. Aku sangat suka sepak bola. Tapi ada alasan lain kenapa aku tidak mengikuti klub sepak bola di sekolah. Di samping lapangan sepak bola ada lapangan basket. Tumben, hari ini bukan jadwal rutin latihan basket. Kenapa anak basket putri sudah siap dengan pakaian latihan mereka?

Aku teringat seseorang. Aku menoleh ke kanan dan… Dia. Dia sudah memakai pakaian olahraga, sepatu latihan dan membawa sebotol air minum. Aku berusaha memalingkan wajah. Ia berjalan melewatiku dengan wajah datar dan agak tertunduk. Dia menuruni tangga dengan cepat dan berjalan menuju lapangan basket.

Hey?! Kenapa aku memikirkannya? Dia cuma gadis dengan wajah yang biasa saja. Dia tidak memiliki kulit wajah yang putih mulus, pipinya tembem, walaupun tinggi tapi agak gemuk menurutku. Dan aku rasa tubuhnya lebih atletis daripada tubuhku yang kerempeng ini.

Tapi, senyumnya berbeda ketika latihan. Aku ingin sebebas dia. Sebenarnya, disini, yang merasa minder itu siapa?

Ah, terserahlah. Daripada aku memikirkannya terus lebih baik aku pulang.

Aku berjalan menuju gerang sekolah sendirian. Berjalan melewati lapangan basket. Aku tahu dia memerhatikanku. Maka dari itu aku tidak mau menoleh ke arah lapangan basket. Aku tidak suka. Terlebih lagi kini aku sudah tahu bahwa Machi menyukaiku. Aku tahu waktu itu ia ingin memberikanku sesuatu di hari ulang tahunku tapi dia tidak jadi memberi karena aku sudah berpacaran.

Bukan. Mungkin aku yang takut melihatnya. Mungkin aku yang takut melihat dia latihan di hari yang sama dengan klub sepak bola. Mungkin aku yang takut dia akan.. Mungkin.

Iklan
Diposkan pada Fan Fiction, true story

[FF Machi Feitan] Ending Story??

“I’m free.
You? None.” — Ending Story?? by ONE OK ROCK

“Machi, bentar lagi lho. Mau ngasih apa?” tanya Spinx saat di kelas.

Machi tidak menjawab. Machi hanya menggeleng pada akhirnya.

“Punya hak apa? Nggak ada ‘kan? Ya udah diem aja,” gerutu Machi dalam hati.

“Machi, gimana?” desak Spinx.

“Tau ah.”

“Bukan nya lu pernah bikin sketch drawing Feitan ya? Kasih aja!”

“Ah, udah deh. Diem dulu kenapa sih gue lagi mikir dan lagi bingung!”

“Santai Ma. Gue kan cuma kasih saran. Lo bisa titipin itu ke gue. Gue gak keberatan kok”.

Machi mulai meraih sketch book dan seabreg alat gambar lainnya.

**

Hari ini Feitan berulang tahun. Machi tidak mungkin lupa. Bagaimana mungkin ia bisa lupa kalau hari itu sudah ia nanti lima bulan sebelumnya.

Machi sangat tahu bahwa kodrat seorang perempuan adalah menunggu. Machi tahu bahwa perempuan harus menjaga martabat dan harga dirinya. Lalu pertanyaan itu muncul.

“Apa ini salah? Apa mencoba membahagiakan ‘teman’ itu dosa? Lagi pula, beneran, gue ngga meminta balasan apapun. Salah?”

Keyakinan itu mulai luntur. Takut, khawatir, aura negatif menyelebungi dirinya saat itu. Masih ada keraguan pada hari itu. Ditambah lagi saat ia melihat Spinx. Raut wajahnya berbeda dari biasanya.

“Kesambet apa lu?”

“Emmm, anu… Emmmm, vin…” Spinx terlihat bingung.

“Sekarang itu hari ulang tahun temen lu. Feitan mau dibully? Oh iya, gue nitip ini, ya?” kedua alis mata Machi naik-turun.

“Machi, ikut gue sebentar deh” kini raut wajah Spinx terlihat serius.

“Apaan? Kok serius amat?”

Machi mnegikuti Spinx tak mengerti. Sampai akhirnya mereka sampai di depan pintu kelas mereka.

“Ikutin gue,” perintah Spinx. “TArik nafas yang panjang, tahan, buang. Sekarang lu tengok ke sebelah kiri ada apa”.

Perlahan, Machi menoleh ke sebelah kiri dari depan pintu kelasnya.

Bruk. Kado yang tadinya akan ia beri untuk Feitan jatuh. Matanya membelalak dan mulutnya menganga. Ia tak ingin percaya akan apa yangh dilihatnya saat itu.

“Sejak kapan?” tanya Machi dengan mata berkaca-kaca.

“Kemarin malam. Sorry banget, Machi. Sebenernya gue nggak tega. Tapi, gue juga nggak mau kalo lo malu nantinya”.

“Gue udah tau kok. Udah tau kalau mereka itu deket” jawab Machi dengan senyum simpul. “Thanks Spinx”.

Machi pergi berbalik masuk ke kelas sambil menepuk pundak Spinx.

“Ya, dari dulu sampai sekarang aku bebas. Tapi mulai saat ini, kamu? Tidak.”