Diposkan pada true story

RADWIMPS

Holla imaginers~

Apa kabar? Masih jomblo? Sama.

Oke, oke, postingan kali ini bukan ngebahas jomblo kok. Postingan kali ini gue mau promosi partai politik. Eh, bukan deng, promosi band. Band-trok-an. Halah.

RADWIMPS. Have you heard about them? If no, let me tell you about them (ceritanya lagi belajar bikin tulisan pake bahasa inggris tapi masih cacat grammar).

Banyak yang bilang kalau musik mereka itu aneh. Bahkan, temen gue yang sama-sama suka musik jepang juga pernah bilang kalau dia nggak ngerti sama musik RADWIMPS. So, it isn’t a problem.

Awalnya gue tahu RADWIMPS dari Om gue, pertama kali dia kasih tau gue waktu (Desember 2010) judulnya Iin Desuka. Tapi beberapa minggu lalu gue suka sama lagu mereka yang judulnya me me she.

Liriknya emang nyaris full japanese. Tapi, pas lihat translatenya, widih… ngeri.

Beberapa hari yang lalu abang gue kasih lihat gue PV Radwimps yang juludnya Dreamers High sama Manifesuto (Manifest). Waktu pertama kali lihat PV Dreamers High, gak tahu kenapa gue langsung suka sama itu lagu. Padahal, jujur aja, gue gak sepenuhnya ngerti sama isi lirik itu lagu.

Berlanjut ke Manifesuto (manifest). Awalnya, gue nggak “ngeh” kalo sebenernya ini lagu tuh lagu gombal. Gombal abis malah. Tapi nggak bikin jijik, kadang ngakak, dan gue malah speechless. Video klipnya berlatar kampanye seorang calon perdana menteri jepang.

“If i became a Prime Minister, then I would make your birthday a national holiday.
If I became the Prime Minister, I would make the national flag in your image.
I’m not the Prime Minister, but I understand the meaning of ‘first’.”–Manifest

Kira-kira begitu artinya. Dan masih banyak lagi lagu-lagu mereka yang bikin gue “waw”. Bahkan di Jepang sendiri, fans mereka nggak terlalu banyak sebanyak fans AKB48, tapi mereka semua fanatik.

Selain liriknya, menurut gue video klip mereka juga unik-unik lho. Kadang kalo liat video klipnya gue suka mirik “kok kepikiran sampe sana, ya?”.

Yosh. Hope it’s enough.
Imaginers, ingat ya:
Musik tidak bisa dipaksakan. Musik mewakili diri mereka sendiri. Musik tidak bisa dihina, ataupun dimuliakan. Musik tetaplah musik: bahasa universal; bagian dari seni; ekspresi jiwa; suatu keindahan.

Listen it, be honest with it.
Thank you so much my beloved imaginers.
See you~

Iklan