Diposkan pada true story

Malaikat Tanpa Sayap

Malaikat.

Wajahnya meneduhkan. Senyum tulus yang terlukis diantara keriput di wajahnya sangat meneduhkan. Ketika jauh, kacau, cukup pejamkan matamu dan bayangkan wajahnya. Dan seketika kau ingat bahwa ia selalu ada untuk kita—untuk menjaga dan mendoakan kita.

Malaikat.

Pundaknya selalu ada untuk kita. Pelukan hangatnya selalu menyambut kita—saat kita berhasil atau gagal, atau bahkan ketika kita kecewa. Membelai lembut rambut kita dengan kalimat menenangkan. Sungguh, dia seperti obat.

Tatapan matanya. Lihat! Betapa jernihnya mata itu. Basah, bening, walaupun mungkin sudah sering ia menangis karena kita. Tapi tetap saja mata itu…

Malaikat.

Dia tidak pernah memikirkan apakah ia bisa makan atau tidak. Ia hanya memikirkan apakah kita bisa makan dan terus hidup?

Malaikat.

Dia adalah yang paling sibuk ketika kita sakit. Tidak akan tidur sampai kita sembuh.

Tapi… malaikat itu tidak punya sayap. Ia punya kekurangan.

Banyak biacara. Kadang bosan mendengar celotehannya. Kadang menutup telinga ketika ia marah dan menasihati. Terkadang juga membangting pintu dan mengurung diri di kamar saat ia marah. Atau tidak menyapanya sepanjang hari karena kita marah.

Marah ketika kita dilarang pergi bermain. Merengek. Atau ketika ia memarahi kita, kita memiliki rasa dongkol terhadapnya. Ya, tapi akan berlalu begitu saja.

Terkadang ia tak lebih pintar dari kita. Tapi dia lebih tahu.

Jika suatu hari nanti, ketika kalian dewasa dan menghasilkan uang dari keringat kalian sendiri, dan kalian ingin membalas jasa malaikat itu. Percayalah, bahwa jika diri kalian dikuliti, itu masih belum cukup untuk membalas jasa malaikat itu.

Dan malaikat itu tidak pernah meminta balasan. Ia hanya ingin doa kita ketika ia telah pergi terlebih dahulu. Simpel.

Di dunia ini ada banyak manusia yang ibunya telah pergi. Lalu aapakah hari ini tidak berlaku untuk mereka?

Ibu, pakah hari ini adalah hari yang memperingati semua tentangmu? Lalu esoknya kembali melupakanmu? Aku harap bukan.

Selamat hari ibu.

Diposkan pada Uncategorized

Apa kamu pernah berfikir seperti ini?

“Mmm,” gumam Alex sambil mengangguk-angguk mengerti. “Jadi kau menyukai gadis itu”.

“Ya,” jawab Ray terus terang. “Aku dan sekitar selusin laki-laki lain”.

“Ah, gadis yang populer,” komentar Alex.

“Bisa dibilang begitu,” Ray membenarkan lalu tersenyum tipis. “Dia gadis yang manis dan menyenangkan. Dan… entahlah, dia membuat segalanya terasa baik. Kau mengerti maksudku?”

Ya Tuhan, adikku berubah cengeng, desah Alex dalam hati. “Jadi, apakah dia juga menyukaimu?” ia berbalik bertanya.

Kali ini Ray menghela napas panjang. “Itulah masalahnya. Aku tidak tahu.”

Alex melirik adiknya sekilas dan kembali memerhatikan jalan di depan. “Kau tidak tahu?”

“Aku benar-benar tidak tahu,” kata Ray lagi. “Kadang-kadang kupikir dia menyukaiku. Kau tahu, ada saatnya ketika dia menatapku, tersenyum padaku, atau ketika dia berbicara kepadaku, kupikir dia menyukaiku. Tapi kemudian aku sadar bahwa dia juga menatap, tersenyum, dan berbicara kepada orang lain seperti itu. Jadi… yah, aku tidak tahu”.

(Sunshine Becomes You by Ilana Tan page 16-17)

Diposkan pada true story

Kakak Laki-Laki

Untuk semua laki-laki yang punya adik—laki-laki atau perempuan.
Tahukah kalian bahwa kalian akan sangat berpengaruh bagi adik kalian? Terlebih lagi, jika rentang umur antara kalian dengan adik kalian cukup jauh. Dan kalian harus lebih berhati-hati jika kalian punya adik perempuan.
Musik sesukaan, selera fashion, kebiasaan baik ataupun buruk, itu semua bisa memengaruhi. Tapi dua hal yang umumnya sangat memengaruhi adalah music dan kebiasaan.
Sebagai contoh: saya suka music Japanese-rock, Japanese-pop dan hampir semua lagu yang kakak laki-laki saya suka saya suka. Karena apa? karena setiap hari dia memutarnya dan saya jadi ikut suka—dan ini sudah berlangsung sejak saya masih duduk di taman kanak-kanak. Seorang anak perempuan yang masih duduk di taman kanak-kanan sudah hafal lagu X Japan – Endless Rain—tidak lain tidak bukan ini adalah pengaruh seorang kakak laki-laki.
Seorang kakak laki-laki adalah pelindung. Maka dari itu, bagi laki-laki yang punya adik perempuan, jangan pernah menyakiti perempuan (pacarnya atau temannya atau bahkan ibunya). Apa kalian mau, karma serupa menghampiri adik pemempuan kalian?
Seorang kakak laki-laki adalah kebanggaan. Kalian tahu, ketika seorang adik perempuan punya kakak laki-laki yang pergaulannya baik dan tidak merokok itu adalah sebuah kebanggaan? Dan kebanggaan itu tidak akan pernah bisa dibayar oleh apapun.
Dan apa kalian tahu bagaiamana besarnya rasa kecewa seorang adik perempuan yang tahu kalau kakak laki-lakinya merokok? Terlihat tidak ada apa-apa ketika kebiasaan merokok itu sudah berjalan beberapa bulan. Tapi dalam hitungan hari-hari pertama, tentu itu membuatnya shock.
“Merokok wajar dong! Kita ‘kan udah dewasa! Nanti kita gak maco!”
Kalau kalian sudah dewasa, tentu kalian tahu mana yang baik untuk tubuh kalian dan mana yang buruk untuk tubuh kalian. Tentu kalian akan terlihat lebih maco tanpa merokok.
“Kalau udah terlanjur gimana? Berhenti merokok itu susah banget, tahu!”
Apa kalian tidak pernah mendengar kalimat ini : yes, you can! If you believe that you can!
Selain untuk adik perempuan, kebiasaan merokok juga akan berdampak sangat buruk bagi adik laki-laki. Mereka bisa menjadi sama seperti kalian.
Yang terakhir untuk para kakak laki-laki : jadilah teladan yang baik untuk adik kalian. Jangan pernah merasa iri, semua pasti mendapat bagian yang sesuai.