Diposkan pada Fan Fiction

[Fan Fiction] JKT48 – Oogoe Diamond (part 2)

Suka itu kata paling hebat

Ungkapkan perasaanmu

Jujurlah dari sekarang juga

(JKT48 – Oogoe Diamond)

Gumpalan permen kapas berarna putih menghiasi langit biru musim panas. Haruna dan Mayuyu, dua sahabat itu sedang duduk di sebuah bukit dekat sekolah mereka. Menatap langit sore hari berdua dengan sahabat, manis.

“Aku benar-benar bingung.” Haruna memulai.

“Menurutku kau jujur saja bahwa kau menyukainya, Haruna.” usul Mayuyu.

“Itu nggak segampang ngomongnya, Mayu! Itu butuh keberanian sebesar apa? Sanagt besar!” jawab Haruna resah.

“Aku punya sebuah lagu. Coba kau dengarkan dan resapi lirik lagunya. Siapa tahu bisa membantu.” Mayuyu memberi saran. menyerahkan earphone nya dan memutar sebuah lagu.

Haruna menerima earphone tersebut, memasangkannya di telinga, mendengarkan lagu tersebut.

Lagu berjudul Oogoe Diamond. Berirama cepat, membuat semangat dengan lirik yang menyadarkan akan banyak hal.

Saat lagu itu selesai di putar, Haruna bangkit dengan mantap. Merapikan rok seragam sekolahnya yang sedikit kusut. Mengambil tas sekolahnya.

“Aku tunggu di halte.” kata Haruna yang langsung berlari meninggalkan tempat itu.

Haruna berlari sekuat tenaga. Rambutnya terkibas angin sore. Dengan penuh harap dan menghilangkan semua rasa takutnya, Haruna tetap berlari menuju halte.

Haruna berhenti tepat di halte. Terduduk dengan napas terengah-engah.  Tak ada siapa pun di sana. Tak ada yang menunggu bus.

“Haaaaaah!” Haruna berteriak sebisa suaranya.

“Kamu kenapa?” tanya Taka yang berdiri di belakang Haruna. Memsukkan kedua tangannya kedalam saku celana dengan begitu keren.

Haruna langsung bangkit. Memutar badannya menatap Taka.

“Taka senpai, mungkin ini agak mengejutkan atau apalah itu. Yang pasti, aku suka Taka senpai. Sejak aku melihat Taka senpai di festival itu, dan semakin jatuh cinta jika bertemu Taka senpai.” kata Haruna dengan mengeluarkan segenap keberaniannya.

Haruna seolah meneriakan sebuah berlian dari dalam hatinya.

Taka terpaku diam. Matanya berusaha menatap Haruna. Namun Haruna masih tertunduk dengan napas yang maish terengah-engah.

“Aku tidak peduli apa yang Taka senpai pikirkan. Aku hanya ingin meneriakkan apa yang aku rasa. Aku hanya ingin jujur pada diriku sendiri.”

“Sekarang, kamu merasa lebih baik?” tanya Taka.

“Ya.” Haruna tersenyum, mengusap keringat di keningnya.

Taka mendekat. Kemudian menepuk pundak Haruna.

“Terimakasih. Aku senang karena kamu mau jujur. Tapi,” Taka melepaskan tangannya dari pundak Haruna.

“Tapi kamu harus belajar. Aku sedikit lebih dewasa darimu. Untuk saat ini, kita jadi teman saja, ya? Bagaimana?”

Haruna tersenyum lega.

“Akhir bahagia bukan selalu dengan berpacaran. Aku merasa bahagia karena bisa mengungkapkan perasaanku dna jujur pada diriku sendiri.”

—-

Aku pengen punya keberanian sebesar itu. Tapi, yah… ternyata mempraktekkannya susah banget.

Bagi yang mau copas, silakan sertakan link fanfiction ini ya.  Berbagi dengan saling menghargai itu indah.

Iklan
Diposkan pada Fan Fiction

[Fan Fiction] JKT48 – Oogoe Diamond (part 1)

Kusuka dirimu kusuka

Walau susah untukku bernafas

(JKT48 – Oogoe Diamond)

Malam hitam pekat dengan gemerlap bintang berceceran. Menambah keramaian malam itu. Di Jepang, festival musim panas, biasanya diisi oleh acara-acara kesenian. Mulai dari makanan, kebudayaan, bahkan sampai musik.

Malam itu, Haruna menemani Mayuyu menonton acara music dalam festival musim panas. Bagi remaja SMA kelas 11, itu adalah hal yang wajar-wajar saja. Jam tujuh malam mereka berdua sudah ada di tempat.

Saat Haruna melihat penampilan sebuah band rock yang bernama ONE OK ROCK, Haruna merasakan hal yang aneh. Sang vokalis membuat dirinya gemetaran. Persendiannya melemas dan wajahnya memanas. Ia merasa detak jantungnya tidak normal saat itu.

“Mayu, kau tahu siapa nama vokalis band ONE OK ROCK?” tanya Haruna sambil berterial sisamping telinga Mayuyu. Ya, disana sangat berisik.

“Vokalisnya? Aku tahu. Namanya Taka.” Jawab Mayuyu yang berteriak juga.

Jatuh cinta pada pandangan pertama. Mungkin itu adalah kalimat yang tepat bagi Haruna.

Haruna bukanlah tipe perempuan yang mudah jatuh cinta. Ia pertama kali berpacaran di kelas 10 SMA. Sedangkan teman-temannya sudah dari kelas 6 SD. Namun, Haruna tidak begitu menghiraukannya.

Watak Haruna yang pemalu dan sedikit pendiam membuatnya sulit bergaul dengan banyak laki-laki. Tapi, Haruna memang lebih suka menyibukkan diri dengan mengikuti klub musik dan klub jurnalistik di sekolahnya.

Matahari mulai naik ke permukaan. Menyinari harapan baru di ini. Haruna sedang menunggu bus untuk pergi ke  sekolah. Diantara dinginnya pagi, datang mentari kecil yang memebuatnya sedikit hangat. Taka.

Taka mengenakan jaket. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket. Matanya yang terlihat mengantuk, rambutnya yang sedikit acak-acakan, bibirnya, hidungnya, semuanya. Taka, keren sekali pagi itu.

Taka duduk di halte. Menunggu bus pagi setelah latihan band sejak pukul satu pagi. Haruna memperhatikan dengan hati melompat-lompat liar ingin berteriak. Taka menoleh ke arah Haruna, merasa ada yang memperhatikan.

Taka tersenyum ramah. Haruna terpaku. Kemudian membalas senyuman tulus itu.

“Selamat pagi.” Taka menyapa.

“Selamat pagi.” balas Haruna.

Taka menggretakkan tangannya kemudian menariknya keatas, melakukan sedikit peregangan di pagi hari.

“Kaka ini vokalis ONE OK ROCK ‘kan?” Haruna berusha memberanikan diri untuk bertanya.

Taka tersenyum. “Ya.”

“Aku pernah melihat Taka senpai di acara festival musim panas kemarin. Aku sangat terkesan dan sangat suka suara Taka senpai. Taka senpai rock sekali.” kata Haruna dengan polosnya, keluar begitu saja dari mulutnya.

“Waaah, terimakasih banyak.”

“Aku senang bisa bertemu dengan taka senpai disini.”

Bus menuju sekolah Haruna sudah datang. Sayangnya, Taka dan Haruna berbeda bus.

“Kalau begitu, aku permisi, Taka senpai.” Haruna pamit.

Haruna menaiki bus dan duduk di dekat jendela. Ia masih ingin berada di halte, mengobrol bersama bintang pujaannya. Tapi, itu hanya akan membuat hatinya semakin sakit. Hanya membuat nafasnya semakin sesak.

Haruna memasang earphone ke telinganya. Menatap keluar jendela, ke jalanan dan ke…  halte. Taka tersenyum kepada Haruna. Haruna tak membalasnya. Haruna termenung, menghela nafas panjang.

“Taka senpai, hanya akan menjadi sebuah kesakitan ketika aku harus ingat bahwa kau adalah seorang bintang. Harapan sebesar apapun itu, aku masih merasa ragu. Aku tak ingin banyak berharap akan hal yang tidak mungkin. Aku suka Taka senpai.”

FF ini ada part 2 nya lho. Tunggu yaaa. Bagi yang mau copas, silakan sertakan link fanfiction ini ya.  Berbagi dengan saling menghargai itu indah.

Diposkan pada Fan Fiction

[Fan Fiction] ONE OK ROCK – LIAR

There is nothing left to bleed
My heart can’t take this anymore

-ONE OK ROCK- LIAR

Pesta. Merayakan keberhasilan akan sesuatu yang telah dicapai oleh sebuah band. Sukses show dalam acara festival musim panas yang lalu. Taka, Toru, Tomoya dan Ryota  merayakan pesta kecil di rumah Ryota. Kebetulan Ryota pintar memasak.

Taka duduk memandangi gelas yang ada dihadapannya. Masih teringat kejadian setahun lalu. Kini, nama band nya semakin besar. Setahun berlalu sejak show itu. Show dimana Taka harus kehilangan Amane.

“Taka, come on!” seru Toru. “Hidup itu nggak bisa berjalan kalau kamu masih terbayang-bayang masa lalu.” Tegas Toru.

“Kamu nggak ngerti.” Jawab Taka datar.

“Tapi, bukan berarti kamu harus sedih terus, kan?” timpal Toru.

“Gima kalau aku kenalin sama temen artis lain?” usul Tomoya yang tangannya melingkari pundak Taka. Ekspresi wajah Tomoya seperti orang mabuk. Tapi, memang begitu adanya.

Ya. Mereka sudah terkenal. Banyak kenalan artis? Itu sangat wajar, bukan?

“Kalian akan aku traktir ramen, takoyaki, dorayaki, apapun itu, jika kalian benar-benar bisa mencari sosok wanita yang bisa membuat aku jatuh cinta lagi.”

“Yang benar?” Toru langsung , menoleh.

“Tapi aku yakin kalian tidak bisa.” Kata Taka dengan sombongnya, menantang ketiga temannya.

“Baik. Kita lihat saja nanti.” Kata Tomoya, menerima tantangan dari Taka.

**

Tomoya, bekerja sama dengan Ryota dan Toru untuk mencari sosok perempuan yang bisa membuat Taka jatuh cinta kembali. Mereka berusaha mencari yang sesuai kriteria Taka, yang Taka sukai. Tomoya , Ryota dan Toru sudah memilih beberapa calon dari setiap kategori. Mulai dari mahasiswi, pegawai kantoran, penyanyi, penari, DJ, musisi dan personil girlband yang Tomoya kenal.

Taka meladeni permintaan temannya itu untuk kencan dengan wanita yang mereka pilih. Taka sudah kencan, berkenalan dengan wanita-wanita yang dipilih tiga temannya mulai dari mahasiswi sampai dengan musisi. Namun, tak ada wanita yang bisa membuat Taka jatuh cinta lagi.

Wanita yang terakhir berkenalan adalah Hime. Seorang gitaris perempuan dari sebuah band rock. Dia tinggi, cantik, berambut hitam panjang, jago bermain gitar, enak diajak ngobrol, tapi Taka tidak memiliki perasaan yang ‘aneh’ ketika bertemu dengan Nana.

Nana. Itu adalah wanita pilihan Tomoya yang terakhir. Dia adalah personil girlband yang belum begitu terkenal. Hime seumuran dengan Taka. Rambut se-dada, hitam legam. Kulitnya putih, giginya rapi. Taka pun akan kencan buta dengan Hime. Sebatas mengobrol dan saling kenal.

Nana sudah duduk disebuah meja café malam itu. Memakai gaun selutut berwarna ungu, sepatu hak tinggi berwarna merah jambu. Nampak anggung dengan rambut diurai. Ketika Taka masuk ke dalam café, Nana melambaikan tangan. Taka menghampiri.

“Nana?”

Nana hanya mengangguk sambil tersenyum.

“Sudah menunggu lama?” Taka menarik kursi dan duduk di hadapan Nana.

“Ah, nggak kok.” Nana tersenyum.

“Maaf kalau buat kamu menunggu lama.”

Taka memesan minuman. Ia memperhatikan Nana.

“Kau terlihat lebih anggun dari personil girlband yang aku tahu.” Taka mengomentari.

“Ah, terimakasih.” Nana tersipu.

“Sebelum acara kencan buta ini berlanjut. Ada satu pertanyaan yang sangat penting dan harus kau jawab dengan jujur.” Taka mengajukan syarat.

“Hm? Apa itu?”

“Kamu belum punya pacar ‘kan?” taka menatap Nana. Berusaha mengunci tatapan mata Nana.

“Te…” mata Nana mengalihkan diri dari tatapan Taka yang begitu kuat. “Tentu saja belum.”

Taka tersenyum.  Duduk menyandar lebih santai. Melanjutkan obrolan hangat dimalam itu.

Para bintang menemani bulan yang bersinar bulat sendirian pada malam pekat itu. Langit malam itu, bersediakah kau menjadi saksi pertemuan mereka?

Taka tertarik pada Nana. Bukan hanya dari fisik Nana, tapi tutur katanya yang membuat Taka mulai membuka hati pada Nana. Hampir setiap malam mereka berhubungan melalui akun social media, pesan singkat, dan lain-lain.

Perkenalan antara Taka dan Nana sudah berjalan dua bulan. Perasaan Taka mulai bisa terbuka untuk Nana. Nana pernah memberitahu Taka kapan hari ulangtahunnya. Dua hari sebelum ualngtahun Nana, Taka pergi ke sebuah toko perhiasan. Taka berniat untuk membeli sebuah kalung untuk hadiah ulangtahun Nana. Taka berencana untuk mengungkapkan perasaannya di hari ulang tahun Nana.

Ketika Taka masuk kedalam sebuah toko perhiasan, Taka berdiri terpaku. Mulutnya beku, darahnya berhenti mengalir untuk beberapa detik. Matanya tak bisa berkedip. Yang ada dihadapannya saat itu adalah Nana yang ia kenal sedang menggandeng tangan seorang lelaki bertubuh tinggi gagah.

Taka berjalan menghampiri Nana.

“Nana?”

Nana lansung memutar badan. Matanya bergetar. Sendi-sendi kaknya melemas.

“Kau? Sedang apa disini?” tanya Taka dengan suara agak parau.

“Kenalkan. Calon tunangan Nana.” Lelaki gagah itu mengenalkan dirinya kepad Taka.

“Anda ini Taka dari One Ok Rock ‘kan?” tanya laki-laki itu.

“Ya. Kalau begitu. Aku duluan, ya.”

Taka langsung pergi meninggalkan tempat itu. Berjalan lemas. Nana hanya diam menatap Taka pergi. Tak mengucapkan sepatah katapun.

“Dasar bodoh! Bisa-bisanya kau tertipu oleh perempuan semacam itu, Taka? Kau benar-benar bodoh!” Taka menghina dirinya sendiri.

“Dasar pembohong! Kemana kata-kata manis yang keluar dari bibir itu selama ini? Ilusi kah? Seharusnya aku sudah menyadari itu dari sebekumnya!”

“Cukup! Ini tidak bisa diterima lagi.”

Taka berjalan dengan hati bercucuran darah namun tak nampak dari luar tubuhnya. Mengepal kuat tangannya. Matanya melemah. Ia bagaikan seorang mayat hidup saat itu.

——

Bagi yang mau copas, silakan sertakan link fanfiction ini ya 🙂 Berbagi dengan saling menghargai itu indah.

Diposkan pada Fan Fiction

[Fan Fiction] ONE OK ROCK – Wherever You Are

Wherever you are, I always make you smile 
Wherever you are, I’m always by your side
Whatever you say, kimi wo omou kimochi 
I promise you “forever” right now 
-ONE OK ROCK- Wherever You Are

Pukul 05.00 a.m. Taka baru saja pulang latihan band dengan Toru, Tomoya, Ryota dan Alex.  Untuk samapi ke rumahnya, Taka harus naik bus. Namun, lama perjalanan naik bus hanya akan memakan waktu tiga puluh menit untuk tiba di rumah Taka.
Pagi itu, ketika Taka tiba di halte, nampak seorang wanita berpakaian kantor rapi dengan mantel tebal dan headphone yang menutupi kedua telinga wanita itu. Wanita itu duduk santai namun manis, memasukkan kedua tangannya ke saku mantel dan matanya yang terpejam. Bukan tidur, dia sedang menikmati lagu dari mp3 playernya. Taka duduk, menunggu bus pagi dengan wanita itu. Taka, yang baru pulang latihan band sejak pukul 1.00 a.m nampak lesu dan mengantuk. Berbeda dengan wanita itu, yang berpakaian rapi, segar, dan nampak anggun.
Taka memperhatikan wanita itu secara diam-diam, mencuri pandangan. Wanita itu Nampak begitu menikmati lagu yang sedang ia dengarkan. Terdengar wanita itu bersenandung, menyanyikan lagu yang sedang ia dengarkan dengan mata terpejam.Ketika wanita itu membuka matanya perlahan, ia menoleh ke samping kanannya. Angin pagi hari mengibaskan sedikit rambutnya yang lurus se-dada. Bulu matanya yang tebal dan lentik, matanya yang bening melihat Taka. Wanita itu tersipu. Kemudian tertawa kecil karena merasa malu. Taka tertawa kecil juga.
Wanita itu melepas earphone nya. “Maaf jika aku menggangu. Aku kira aku masih sendiri disini.”
“Ah, bukan masalah.” Taka tersenyum. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Um, maaf. Kalau boleh tahu, anda ini orang baru disini? Sepertinya, saya baru melihat anda di halte ini.”
Wanita itu tersenyum, kemudian tertawa kecil. Membuat pipinya naik menyipitkan mata. “Jangan baku gitu deh. Namaku Amane.” Amane menyodorkan tangan kanannya kepada Taka.
“Taka.” Taka membalas menjabat tangan Amane
.
Sejak pertemuan itu, mereka mengobrol panjang lebar. Mulai dari utara ke selatan. Kemudian dari barat ke timur. Namun, mereka merasa tidak ada masalah ketika mengobrol. Hamper setiap hari setelah hari itu, mereka selalu satu bus.Sebenarnya, Amane masih harus naik kereta setelah naik bus. Sedangkan Taka hanya naik bus dan langsung turun di halte dekat rumahnya.
Semakin hari, persaan cinta tumbuh semakin mekar di hati Taka kepada Amane. Sosok wanita lembut, murah senyum dan dewasa, bukan kah itu sempurna?
Singkat cerita, ketika empat bulan berkenalan, mereka berdua pacaran. Perasaan cinta itu memiliki pengaruh postif bagi Taka dalam membuat lirik lagu. Hingga takdir berkata lain ketika mereka sedang kencan di akhir musim semi menuju musim panas.
“Taka, aku dipindahtugaska ke Singapore oleh pihak kantorku.” Kata Amane pahit.
“Kau… benar-benar akan pindah? Berapa lama?” tanya Taka.
“Entahlah. Mungkin untuk dua tahun paling lama. Kamu, baik-baik saja ‘kan?”
“Aku baik. Jangan khawatirkan aku. Kapan kau akan pergi ke Singapore?”
“Minggu depan.”
Percakapan malam itu menjadi lebih dingin dari biasanya.
**
“Hallo.” Amane melambaikan tangannya di depan laptop. Ia sedang melakukan cideo call dengan Taka yang ada di Jepang.
“Hi. Apa kabar?” Taka membalasnya.
“Aku baik. Kamu?”
“Baik. Eh, minggu depan bandku show di acara festival musim panas. Kau datang, ya?” pinta Taka.
“Aku usahakan datang.” Amane tersenyum manis.
“Aku punya kejutan untukmu di hari itu.”
“Kejutan? Kejutan apa?”
“Sebuah lagu yang aku ciptakan khusus untukmu. Tapi aku nyanyikan untukmu disana saja.” Taka tertawa.
Amane tersipu. “Tunggu aku. Aku akan meminta izin dari kantor, cuti-ku dipotong paling. Aku pasti menonton.” Amane berjanji.
“Oke.”

**

Taka duduk dengan mata kosong di depan cermin. Sebentar lagi ia akan tampil dalam acara festival musim panas di Tokyo. Tomoya, Toru dan Ryota menpuk pundak Taka.
“Bukan ini yang dia inginkan. Dia ingin lihat penampilan terbaikmu hari ini.” Kata Toru menyemangati Taka.
Taka mengangkat wajahnya. Menatap ketiga temannya dengan sungguh-sungguh. Taka mengangguk dan mulai memasuki panggung. Ratusan penonton mulai memenuhi tempat itu. Awan cerah siang hari mulai berbuah menjadi kelabu, pertanda akan turun hujan.
Toru mulai ememtik gitarnya. Memainkan melody dengan lembut. Taka mulai mengangkat microphone dan bernyanyi—lebih tepatnya bercerita, mengungkapkan perasaannya lewat lirik lagu yang ia bawakan.
**
Taka berdiri tertunduk. Menatap pahit makam berbatu nisan di hadapannya. Itu adalah makan Amane. Amane meninggal dalam kecelakaan lalu lintas di Singapore saat akan menuju bandara menuju Jepang. Taka menganakan pakaian serba hitam. Bertolak belakang dengan awan cerah yang menaunginya saat itu.
“Amane, dimanapun kau berada, kemanapun kau pergi, kau harus tahu satu hal: kau adalah wanita yang mustahil bisa aku lupakan dalam hidupku. Kau, sampai kapanpun itu, untuk selamanya, tempatmu dihati ini tak akan ada yang bisa menggantinya.”