Diposkan pada Uncategorized

We Are Team! (2)

“Ama! Ssst! Ama!” bisik Nita dari bangku dibelakang.

“Apa sih, Nit?” jawabku tanpa menoleh ke arahnya.

“Mau liat Musdalipah bengong nggak?”

“Ha?” seketika aku menoleh ke arahnya.

Nita membalikkan laptop nya menghadapku. Fotoku yang sedang bengong di zoom. Full face layarnya.Sekali lagi, FULL FACE!!

“Bruakakakakaka.” Nita, Tyara, dan Dinar tertawa terbahak-bahak.

“Gitu ih kalian mah.” aku menekuk bibir.

“Hey! Jangan berisik!” seru Fikri, point guard yang duduk di depan karena matanya minus.

“Eh, iya atuh Tyara!” aku memojokkan Tyara. Ya, Fikri adalah kecengan Tyara sejak SD.

Beginilah jika kami berempat les. Jarang banget kita serius waktu les. Ada saja gangguan. Mungkin, kami berempat sudah “too much laugh” setiap harinya sampai sakit perut, walaupun hanya dari hal-hal kecil sekalipun.

“Tyara, kamu uang yang di Pak Omar udah diambil belum? Uang O2SN, aku mah dapet tujuh ratus-an. Nggak tahu kamu sama apa nggak?” tanya Agung, seorang pemain basket di sekolah kami yang mempunya skill “dewa” namun attitude kurang.

“Hah?” wajah Tyara Kikuk.

Terdengar suara bisik-bisik di belakang bangku ku.

“Ish! Kamu belum? Nggak bawa?”

“Sekaang? Berapa?”

Beberapa suara sayup-sayup tersebut tidak begitu jelas.

“Apaan sih bisik-bisik segala?!” Kataku sewot. Merasa tidak enak hati. Ditambah lagi Tyara seolah menyembunyikan sesuatu di balik tangannya yang ia sembunyikan di punggungnya.

“Hehe nggak kok, Ma.” Tyara tersenyum.

——–

“Ama, beli kerupuk seblak yang di Tambur, yuk?!” ajak Tyara.

“Aduh, uang aku abis, Ra. Kalo bilang dari tadi mah uang jajan nya gak bakal diabisin.” jawabku menyesal.

Kemudian mereka bertiga berdiri di hadapanku.

“Ama, kita ada sedikit rejeki dari uag O2SN, terima yah.” Mereka menaruh beberapa gulung uang.

“Ah! Apaan sih. Itu kan rejeki kalian! Kan kalian yang capek! Masa…”

(ya, harusnya gue ikut o2sn. tapi, karna gue lahir tahun 97, sedangkan waktu itu mereka berempat 98, ya gue gabisa ikut. cuma ikut nonton dibelakang bench.)
“Nggak Ama. Ini terima. Maaf sedikit.” Tyara menggenggam tanganku.
“Ama tahu, waktu Ama teriak-teriak di pinggir lapang, bilang : ayo Sinar defense! ayo Dinar box out! ayo Dinar! Ayo Tyara! Ayo Nita! Kamu nyemangatin kami dari belakang bench. Itu tuh bikin semangat kita naik tahu nggak.” Jelas Dinar.
“Ama nggak bisa ikut juga bukan kemauan Ama, kan? Makanya terima ini.” Kata Nita.
“Kenapa kalian masih sempet inget sama Ama?” tanyaku.
“Kita nggak mungkin lupa sama Ama. Kita ingin berbagi kebahagiaan sama Ama. We not Me. Kalau yang satu senang, maka semua juga, kan? Kalau yang satu sakit, semua juga, kan?” tanya Tyara.
“Aku terharu. Makasih banyak, ya semuanya.”
Semakin hari, gue belajar banyak soal kehidupan dari mereka, dari tim basket gue sendiri. Gue adalah manusia paling bersyukur karena ada orang-orang yang sangat baik di sekeliling gue. Gue nggak butuh pacar, cukup sama mereka gue bahagia.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s