Diposkan pada Uncategorized

Endless Love

Rika, seorang wanita tua yang kini berusia tak kurang dari 50 tahun. Dia terlahir bukan dari golongan atas. Kedua Orangtuanya hanya seorang petani di desanya. Rika adalah anak tertua dari tiga bersaudara. Orangtuanya hanya bisa menyekolahkannya hingga tamat SD—itu pun sampai Rika mati-matian.

Namun kehidupan Rika berubah ketika ia menikah dengan seorang tentara bernama Bimmo. Walau berbeda status social, namun tak ada satupun tembok yang mampu menghalangi cinta mereka. Kebahagiaan pernikahan mereka dilengkapi oleh kedua anak perempuan yang cantik-cantik.

Bagi Rika, kedua anaknya adalah sebuah pembuktian bahwa ia bukanlah sekedar perempuan putus sekolah yang menikah dengan seorang tentara. Namun ia mempunya anak-anak yang berharga baginya, mengharumkan namanya dan membuatnya begitu disanjung atas prestasi dan perilaku anak-anaknya yang disiplin.

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun, kini, anak sulung Rika dan Bimmo menginjak usia 25 tahun. ia jatuh cinta pada seorang lelaki berbeda paham dan tidak disetujui oleh Bimmo—ayahnya sendiri.

Putri sulung mereka—Astrid—memilih kabur dari rumah bersama lelaki yang ia cintai. Rika sampai memohon-mohon agar astrid tidak pergi dan bilang bahwa Astrid harus sabar dan menghadapi ayahnya dengan kepala dingin. Namun, Astrid tetap memilih lelaki yang mengaku sangat mencintainya lebih dari apapun itu. Dan ia menganggap orangtuanya sudah tidak menyayanginya lagi karena tidak merestuinya.

Kehilangan anak sulung—perempuan pula—bagi Rika adalah sebuah bencana besar. Ia amat sanagt khawatir akan keselamatan dan keadaan anaknya, walaupun Astrid belum sampai 24 jam pergi dari rumah. Ia khawatir terjadi sesuatu pada anaknya.

Di luar sana, Astrid tinggal bersama lelaki yang ia cintai di rumah lelaki tersebut yang kebetulan kedua orangtua—sebut saja Andri—sedang tidak ada di rumah. Mereka tidak melakukan hal yang diluar batas. Mereka hanya ‘mengamankan diri’ agar tidak ada yang bisa memisahkan mereka—katanya.

Ratusan panggilan ke ponsel Astrid dari Bimmo tak kunjung di angkat. Ratusan SMS yang mengabarkan bahwa ibunya sakit keras karena memikirkannya tak kunjung dibalas. Astrid tidak menghiraukannya karena ia fikir itu hanya akal-akalan mereka saja agar aku pulang. Kemudian, salah satu SMS itu Astrid balas dengan “jika kalian ingin aku pulang ke rumah, maka restuilah aku dengan Andri. Jika kalian merestui, aku akan pulang”.

Satu minggu sudah Astrid pergi. Semakin parah penyakit Rika. Berjalan pun tak kuasa. Karena merasa khawatir, kesal, marah bercampur kasih sayang tulus seorang ibu, Rika mengajak suaminya berkeliling encari informasi dimana anaknya berada.

Tuhan mengizinkan, Rika mendapatkan alamat dimana Astrid tinggal bersama kekasihnya. Ia meneteskan air mata karena tak sabar ingin melihat wajah anaknya.

Sampailah Rika, wanita tua pesakitan itu di depan pintu rumah yang dituju bersama Bimmo sang suami yang setia berada disampingnya.

“Astrid…”

Rika tahu astrid melihat dari celah jendela kecil namun ia tetap melanjutkan.

“Astrid inget nggak waktu Astrid belajar jalan, waktu Astrid baru bisa ngomong, waktu Astrid meluk Mama karna menang olimpiade Sains?” Rika terisak tangis.

Astrid hanya diam seribu bahasa mendengarnya.

“Astrid inget gak waktu Astrid bilang kalau Astrid sayang Mama walaupun Mama bukan Mama terbaik di dunia? Astrid inget gak waktu Astrid jatuh dari sepeda pertama kali, terus Mama gendong kamu dibelakang?” Tangisan Rika makin terdengar. Suaminya hanya bisa tertunduk mendengarkan.

“Jika Mama salah, tolong maafkan Mama. Mama sudah sering bilang, kan? Kalau Mama itu bukan orang yang dapat pendidikan tinggi. Mama hanya berusaha jadi yang terbaik untukmu, nak. Dengan adanya kamu, Mama merasa berarti. Mama merasa berguna.

“Nak, jika kau mau membenci Mamamu yang bodoh tak sekolah tinggi ini, Mama taka pa, nak. Tapi, janganlah kau benci Papamu ini. Mama mohon, kami hanya ingin yang terbaik. Kami tak ingin Astrid sampai kabur dari rumah.

“Astrid adalah anak Mama yang terbaik. Mama Cuma mau nyampein itu sebelum pulang. Jika kau pulang Mama sudah tak ada, jangalah kau benci Papamu, nak.

“Mama…. Sayang Astrid.” Rika tersenyum dengan tetesan air mata yang membasahi pipi. Kemudian Bimmo memutar kursi roda yang dipakai Rika menuju mobil kembali.

Dug!

“Mama!” terlihat Astrid berdiri diambang pintu dengan mata sembab. Kemudian ia berlari memeluk ibunya.

“Maafkan Astrid, Ma. Astrid egois. Mama Papa maafin Astrid?”

Rika dan Bimmo tersenyum mengangguk.

Itulah cinta seorang ibu. Sampai kapanpun, bagaimana pun keadaan anaknya, tetaplah cintanya tak tergoyahkan. Jika ada istilah ‘mantan pacar’ maka tak akan ada istilah ‘mantan ibu’ atau ‘mantan anak’. Benar pepatah mengatakan “Kasih sayang seorang anak sepenggal tangan, kasih sayang ibu sepanjang jalan”. Jika ada satu cinta tiada akhir, maka tida lain tiada bukan, itulah cinta seorang ibu kepada anaknya.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s