Diposkan pada Uncategorized

(Remake) Beauty and The Beast

Disebuah SMA Internasional yang terletak di tengah Kota Slove,  Pangeran Muda Kerajaan Slove—Pangeran Steven—sekolah disana. Pangeran yang sangat tampan. Disekolahnya, hampir semua siswi perempuan berusaha mendekatinya, mulai dari kalangan rakyat biasa hingga putrid-putri kerajaan. Namun, Pangeran Steven hanya tersenyum tanpa memperdulikannya.

Selain Pangeran Steven, putri-putri dari kerajaan lain pun sekolah di sana. Diantaranya Putri Anafela dari kerajaan Volks. Putri kerajaan muda ang cantik, penuh sopan santun dan berbudi pekerti baik sangat disegani oleh semua siswa dan siswi di sekolahnya.

Tanpa Pangeran Steve sadari, Putri Anafel pun menyukai pangeran Steve, namun Putri Anafela tidak ingin menyatakannya atau melakukan hal-hal aneh.

Hingga suatu hari, begitu banyak perempuan-perempuan yang menyukai dan mengejar-ngejar Pangeran Steven. Pangeran Steven bingung bukan kepalang. Sekolahnya merasa terganggu, bahkan ada yang mengancam nyawanya jika ia tak membalas surat dari penggemarnya. Sungguh miris.

Karena pusing memikirkan hal itu, Pangeran pergi ke danau di dekat istananya dan berteriak. “Aku lelah menjadi seorang raja! Aku lelah menjadi tampan! Aku takut jika dikejar-kejar seperti ini terus! Apakah ini semua akan terjadi jika aku menjadi buruk rupa? Jika aku bisa bebas dengan buruk rupa, maka aku ingin buruk rupa!”

Seketika, Pangeran Steven merasa bergetar. Seperti ada yang memasuki dirinya. Saat ia meraba tubuhnya… dengan cepatnya ia berkaca pada air jernih danau. “Apa?” ia tersontak kaget melihat cerminan dirinya yang begitu jelek. Jelek sekali. Tubuhnya menjadi gendut, kulitnya menjadi hitam—bukan cokelat, tapi hitam. Kuku-kukunya kotor, gigi depannya maju, bajunya yang lusuh dan rambutnya yang tipis, tipis sekali.

“Apakah ini… Celaka! Apakah ini akibat do’aku yang sembarangan?”

Ya. Kini, pangeran menjadi amat sangat buruk rupa. Berbeda 180o dengan pangeran Steven yang dulu. Mau tak mau, itulah yang harus pangeran terima.

Seantero kota Slove diberi pengumuman bahwa Pangeran Steven hilang. Hingga pihak kerajaan mengadakan sayembara agar menemukan pangeran. “Jika perempuan, akan dijadikan istri pangeran, jika laki-laki, akan diadikan saudara pangeran” begitulah bunyi sayembaranya.

Pernah pangeran Steven—yang buruk rupa—mencoba masuk istana, namun dilarang oleh pengewal karena dianggap penipu. Dengan keadaan seperti itu, pangeran hanya bisa luntang-lantung hidup di hutan. Karena, ia akan diusir jika hidup di kota karena rupanya yang aneh.

Suatu hari, Putri Anafela pergi ke hutan menggunakan kuda tunggangnya. Ia pergi ke hutan untuk mengambil bunga Heaven yang dianggap bisa menyembuhkan orang sakit keras—karena ibunya sakit keras saat itu. Saat Putri menemukan bunga Heaven, turun dari kudanya dan akan mengambilnya, tiba-tiba sesosok orang yang rupanya ‘buruk’ berada di belakangnya. Ia kaget sekaligus takut.

“Kau…” laki-laki buruk rupa itu menunjuk Putri.

“Ke, kenapa?” Putri gugup karena takut. “Apakah kau mengenalku?” tanyanya yang masih menjaga jarak dengan pria tersebut.

“Kau Putri Anafela?”

“Ya. Ada apa?”

“Tidak, kenapa tuan putri ada disini?”

“Aku ingin mengambil bunga Heaven ini untuk obat ibuku.”

Semakin lama, Putri Anafela merasa laki-laki itu tidak berbahaya dan tidak jahat. Mereka mengobrol seperti biasa di hutan. Hingga putri sadar bahwa ia harus segera pulang dan menyerahkan bunganya. Setelah putrid anafela pergi, pangeran Steven pun sadar, ternyata, ada seorang putrid baik yang tidak melihat seseorang dari keburukan fisiknya—walau awalnya tetap waspada.

Hampir setiap hari Putri pergi ke hutan untuk mengambil bunga—sekaligus bertemu dengan pangeran Steven yang tidak diketahuinya. Hingga suatu hari, Pangeran Steven mengajak Tuan Putri mengobrol khusus mereka berdua di danau belakang istana kerajaan Slove.

“Kau putri yang baik, tuan putri.” Pangeran steven tersenyum yang menunjukan giginya yang maju.

“Terimakasih.”

“Kenapa kau mau berbicara denganku yang buruk rupa ini? Apa kau tidak malu? Apa kau tidak takut?”

“Aku harus mencintai semua rakyatku kelak. Siapa pun itu, bagaimna pun itu. Kenapa aku harus malu? Apa yang harus aku takutkan dari rakyatku sendiri?”

“Ngomong-ngomong, apakah tuan putri mengenal Pangeran Steven?”

“Ya. Kenapa?”

“Menurut Tuan Putri bagaimana dia?”

“Aku sebenarnya kasihan padanya. Dan sebenarnya, aku menyukainya semenjak aku masuk SMA.” Putri tersenyum. Pangeran buruk rupa hanya bisa menatapnya terpaku.

“Begitukah?”

“Memangnya kenapa?” Putri Anafela mengangkat alis.

“Tuan Putri, aku menyukaimu. Aku… mencintaimu.”

Tuan putri tersenyum. Ia mengusap kepala sang Pangenrang ‘buruk rupa’.

“Aku juga mencintaimu…” kalimatnya terpotong. “Sebagai rakyatku.” Putri  kembali tersenyum.

Tiba-tiba, pria buruk rupa itu berubah menjadi seorang Pangerang yang gagah dan tampan. Dia tersenyum tak terkira. Melihat apa yang ada di hadapannya, Putri Anafela heran dan tak bisa bicara apa-apa. Ia bingung, kaget, melihat apa yang ada di hadapannya.

“Inilah aku, Anafela.” Pangeran Steven tersenyum. “Aku mencintaimu dari apa yang ada di dalam hatimu, tingkah lakumu, budi pekertimu, semuanya.” Pangeran tersenyum indah sekali. “Dan aku baru sadar, ternyata, ada orang yang menyukaiku dengan luar biasa, dan orang yang luar biasa.”

Dari situ, kita bisa ambil bahwa kecantikan sejati berasal dari hati, perilaku, tingakh laku dan budi pekerti. Bukan dari fisik yang semu.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s