Diposkan pada Uncategorized

Warisan Ilmu

Disebuah pinggiran kota yang selalu sibuk baik saat matahari bersinar maupun saat matahati beristirahat, tinggalah sebuah keluarga kecil yang sederhana. Rumah keluarga tersebut berada di pinggir jalan—namun masuk gang—di sebuah pinggiran kota.

Di halaman depan rumah mereka yang tidak terlalu luas, Bu Dhike—istri atau  ibu di rumah tangga tersebut—dibantu kedua anaknya membuka sebuah toko kue kecil yang cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka. Sang suami—Rexa—bekerja sebagai kurir. Anak pertama mereka perempuan bernama Kinal (25 tahun). Dan anak kedua mereka laki-laki bernama Dio (19 tahun).

Kedaaan keuangan keluarga mereka terbilang lancar selama ini karena bantuan toko kue tersebut. Namun, Tuhan punya rencana lain. Di musim penghujan di bulan Desember, Bu Dhike dilanda sakit keras yang menyebabkannya tidak mungkin mengerjakan toko kuenya. Walaupun kedua anaknya bisa dan mengerti cara membuat kue, namun masih banyak hal lain yang harus dikerjakan Bu Dhike di toko kue tersebut selain membuat kue.

Sudah tiga bulan lebih penyekit Bu Dhike tak kunjung membaik. Sudah berobat kesana-sini, menghabiskan banyak biaya namun hasilnya nihil. Dan dengan itu, uang yang tersedia di pundi-pundi emas mereka semakin surut dan semakin surut. Itu dikarenakan tabungan yang terpakai untuk berobat, toko kue yang tutup lama karena Bu Dhike sakit dan karena gaji Pak Rexa sebagai kurir yang tak seberapa.

“Bu, ibu harus cepet sembuh.” Suara lembut Kinal membetulkan selimut yang menutupi tubuh Ibunya ditengah malam yang dingin dimusim penghujan.

“Nak, ibu tahu kalian bisa mandiri.” Bu Dhike tersenyum lemah. “Kamu,” Bu Dhike mengelus punggung Kinal. “Harus bisa menjadi wanita yang tangguh. Jangan pernah menyerah. Jadi lah wanita kuat dengan keteguhan hatimu, nak.” Bu Dhike kembali tersenyum namun bibirnya gemetar.

“Umur seseorang tiada pernah tahu, anakku. Kapanpun, dimanapun, dalam suasana apapun, kita harus selalu siap akan kedatangannya.”

“Ibu…” Kinal meringis murung.

“Maaf, ibu tak punya banyak harta. Hanya kasih sayang dan ilmu yang ibu punya sebagai warisan ibu jika ibu mati nanti. Tapi, ibu punya ilmu apa? Sekolah pun hanya tamat SD.” Katanya dengan lemas seolah mengingat masa lalu.

“Ibu jangan bicara begitu, buktinya ibu pandai membuat kue.”

“Ah, benar juga. Tapi, apakah tak lucu jika seorang Ibu mewariskan cara membuat kue pada anaknya? Ibu malu.”

Aku tersenyum.

“Ingatlah, nak. Kekayaan sejati berasal dari sini.” Bu Dhike menyetuh dada Kinal. “Dari hatimu, nak. Sebesar apapun hartamu, jika tak bersyukur dan tak mau berbagi, hampalah itu.” timpalnya. “Yang pasti, warisan ilmu akan jauh lebih baik daripada warisan harta. Karena warisan ilmu bisa mendatangkan harta barokah yang mengalir, sedangkan warisan harta—mungkin hanya bisa mendatangkan perselisihan dan permusuhan atas nama hawa nafsu.”

Esok paginya, keadaan Bu Dhike semakin kritis. Pak Rexa, Kinal dan Dio duduk di kasur mengitari Bu Dhike yang semakin terbaring layu.

“Kinal, Dio, ibu percaya kalian bisa menjaga toko kue itu. Ibu percaya kalian mampu meneruskannya.” Kemudian Bu Dhike terbatuk-batuk. “Ingat-ingat apa yang ibu katakan semalam, nak.” Ibu tersenyum dengan napas tersekat. Ia terpejam dengan sebuah hembusan napas.

Bu Dhike meninggal.

Sebuah kalimat yang singkat penuturannya, namun sulit untuk diterima dan dilupakan. Bu Dhike menggal dalam kedaan cantik, tak ada beban. Kinal menangis, Dio berusaha tegar walau matanya berkaca dan hampir tumpah air matanya, Pak Rexa berusaha menenangkan anak-anaknya. Semua menangis, melepas seorang ibu yang kasih sayangnya tak ada batas.

Satu minggu setelah kepergian Bu Dhike, keuangan keluarga kecil tersebut semakin sulit. Sebenarnya, untuk makan cukup. Tapi, untuk kebutuhan sekolah dan lain-lain masih kurang. Dalam kedaan terdesak, Kinal harus mencari jalan keluar.

Ia mengingat apa yang dikatakan ibunya sebelum meninggal. Semangatnya berkobar setelah mendengar itu. Ia menemui ayahnya dan meminta uang untuk membuka lagi toko kue kecil tersebut. Diberinya uang untuk membeli bahan-bahan kue dari gaji sebagai kurir saat itu.

Satu gagal, dua gagal, tiga gagal lagi, empat gagal juga. Kinal bertanya-tanya dalam pikirannya ‘mengapa kue hasil buatan ibu selalu bagus dan cantik sedangkan aku, tidak?’ ia terus mencoba hingga bahan habis. Melihat anaknya, Pak Rexa berusul agar usahanya dihentikan saja, percuma kalau begini katanya. Namun, Kinal masih mencoba.

Dan, pada percobaannya yang ke delapan, kue tersebut jadi dan ia senang bukan main. Semakin hari, Kinal membuat kue semakin banyak dan tokonya pun kembali mendapatkan pelanggan. Dan nasihat ibunya yang selalu berdenging ditelinga Kinal adalah “Yang pasti, warisan ilmu akan jauh lebih baik daripada warisan harta. Karena warisan ilmu bisa mendatangkan harta barokah yang mengalir, sedangkan warisan harta—mungkin hanya bisa mendatangkan perselisihan dan permusuhan atas nama hawa nafsu.”

Dan itu akan ia pegang teguh selamanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s