Diposkan pada Uncategorized

Buruk Sangka

Di sebuah pantai yang indah, hiduplah beberapa keluarga yang hidup di sepanjang pinggiran pantai. Para bapak yang sudah berkeluarga dan bujang yang belum menikah mayoritas bekerja sebagai nelayan. Dan sebagian lainnya bekerja sebagai petani rumuput laut. Pantai itu juga sering menjadi obyek wisata karena keindahannya.

Hingga suatu hari, seorang bujang diantara mereka yang baru pulang melaut bernama Godie menemukan sebuah botol bening berisi sebuah kertasdi tenagh laut. Tanpa memberitahu siapapun, Godie membawa botol misterius itu ke rumahnya.

Ia buka perlahan tutup botolnya yang kuat hingga tak ada air yang dapat masuk. Perlahan ia keluarkan gulungan kertas yang ada di dalam botol. Perlahan ia amati kertas lusuh itu. Ia terkejut dan matanya begitu terbelalak melihat apa yang ia genggam saat itu.

“Hah? Ini peta harta karun?” Godie teriak terlalu keras karena histeris. Kemudian menutup mulutnya kembali Karena takut yang lain dengar.

“Disini tertulis…. “ Alisnya mengerut. “Apa?” ia gemetaran. “Harta karun itu ada di ujung tepi pantai dekat tebing di sebelah timur? Jika benar… aku punya rencana untuk harta tersebut. Semoga, keadaannya bisa berubah.”

Dengan semangatnya ia bergegas dari rumahnya menuju lokasi yang ada di peta. Dengan gagahnya ia menmbawa sekop, peta tersebut, dan peralatan lain yang mungkin ia butuhhkan. Keluar dari rumahnya, ia berjalan cepat-cepat seperti dikejar anjing pincang—ingin lari, tapi takut yang lain curiga.

“Godie, mau kemana kau?” sahut Gata yang sedang membawa puluhan ikan dalam keranjang menuju tempat penampungan.

“Ada urusan, Ta!” Godie tetap berjalan lantang menuju timur pantai dengan tangan kanan dan kiri yang penuh dengan peralatan.

Gata dan para nelayan bujang lainnya hanya termengu melihat tingkah Godie. Karena penasaran, Gata mengikutinya beberapa langkah dibelakang. Langkahnya terhenti ketika ia melihat kertas jatuh dan tergeletak di pantai.

“Apa ini?” Gata memperhatikan.

Setalah tahu apa sebenarnya kertas itu dan kembali melihat Godie yang sudah jauh berjalan dan semakin kecil terlihat dari pandangannya, ia mengerti apa yang akan dilakukan Godie.

“Teman-teman!” Gata berlari menuju teman-temannya yang sedang sibuk mengurus ikan hasil tangkapan.

“Ini! Baca ini! Huh… Hah…” Napasnya terengah karena kaget dan berlari.

“Apa ini?” tanya Yada.

“Ini peta harta karun? Benar?” timpal Denis.

“Begitulah. Lihat teman kita yang satu itu!” gata menunjuk Godie yang berjalan semakin jauh dan terlihat kecil. “Teman kita yang satu itu ingin menang sendiri sepertinya.” Gata tertawa sinis. “Bagaimana jika kita bekerja sama untuk mengambil harta itu secepatnya? Nanti hasilnya kita bagi rata! Bagaimana?”

“Setuju!” Semua bersorak.

Para nelayan itu mengambil alat-alat dan pergi ke tempat yang dituju Godie menggunakan gerobak beroda yang dapat bergerak dengan tarikan kuda—namun bukan delman.

Tinggal beberapa meter lagi Godie sampai. Tiba-tiba terdnegar suara pekikan dan hentakan kaki kuda.

“Hei teman! Rupanya kau ingin menang sendiri, ya?” teraik Gata.

Godie membalikkan badan. “Apa maksud kalian?”

“Huh!” Yada meludah. “Munafik kau! Kau ingin memakan harta karun itu sendiri, kan?”

“Kenapa…” kalimat Godie terhenti.

“Maksudmu ini?” Gata mengayunkan peta yang ia pegang.

Godie kaget. ‘mengapa peta itu ada ditangan mereka?’ pikirnya. Yang ia takutkan adalah mereka menggunakan uang tersebut bukan pada tempatnya, melainkan pada hal yang negative.

“Tapi, kalian sa…” kalimat Godie terpotong karena Gata, Yada dan Denis menyerbu tempat yang sudah bertanda (X) menggunakan batu yang tersusun rapi.

Melihat mereka sudah mulai menggali, Godie hanya menghela napas dan pasrah. Jika benar disana ada harta karun, ia takut mereka akan menggunakannya untuk hal negative.

“Padahal aku berniat menggunakan harta itu untuk pantai dan para nelayan lain,” Godie lirih. “Tapi…”

“Ada apa ini? Kenapa mereka menggali pasir?” tanya segerombolan anak muda yang tengah berlibur di pantai tersebut kepada Godie yang diam termengu melihat teman-temannya menggali pasir.

“Mereka sedang menggali harta karun—katanya.”

“Apa? Harta karun?” tanya salah satu perempuan diantara mereka.

“Ya. Aku menemukan sebuah botol berisi peta harta karun yang ada di pantai ini di tengah laut tadi pagi.” Tutur Godie kepada para pemuda pemudi itu.

“Huahahahahaha.” Semua anak muda itu tertawa.

“Kenapa kalian tertawa?” Godie bingung melihatnya.

“Boleh kami lihat petanya?”

“Ini.” Godie memberikan peta tersebut yang tergeletak di tanah karena Gata membuangnya setelah menemukan tempat itu.

“Huahahahahaha.” Tertawa para pemuda dan pemudi itu semakin keras.

“Begini, sebenarnya kemarin itu saya,” menunjuk dirinya “dan teman-teman saya,” menunjuk teman-temannya “bermain bajak laut dan berpura-pura mencari harta karun. Seusai permainan, kami membuang peta bohongan tersebut kelaut. Begitu jelasnya.” Jelasnya dengan selangan tawa diikuti teman-temannya.

Sungguh malu Gata, Yada dan Denis mendengar hal tersebut. Mereka berdiam diri, saling menatap dan tertunduk malu. Terkadang, harta itu bisa membuat manusia lupa diri, lupa teman, lupa segalanya dan membuatnya gelap mata karena keserakahan tanpa memikirkan akibatnya.  Jadi, sebesar apapun uang yan kita punya, pikikanlah hal yang positif penggunaan uang tersebut. Bukan mendahulukan hawa nafsu yang memperbudak diri sendiri.Image

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s