Diposkan pada Uncategorized

Endless Love

Rika, seorang wanita tua yang kini berusia tak kurang dari 50 tahun. Dia terlahir bukan dari golongan atas. Kedua Orangtuanya hanya seorang petani di desanya. Rika adalah anak tertua dari tiga bersaudara. Orangtuanya hanya bisa menyekolahkannya hingga tamat SD—itu pun sampai Rika mati-matian.

Namun kehidupan Rika berubah ketika ia menikah dengan seorang tentara bernama Bimmo. Walau berbeda status social, namun tak ada satupun tembok yang mampu menghalangi cinta mereka. Kebahagiaan pernikahan mereka dilengkapi oleh kedua anak perempuan yang cantik-cantik.

Bagi Rika, kedua anaknya adalah sebuah pembuktian bahwa ia bukanlah sekedar perempuan putus sekolah yang menikah dengan seorang tentara. Namun ia mempunya anak-anak yang berharga baginya, mengharumkan namanya dan membuatnya begitu disanjung atas prestasi dan perilaku anak-anaknya yang disiplin.

Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun, kini, anak sulung Rika dan Bimmo menginjak usia 25 tahun. ia jatuh cinta pada seorang lelaki berbeda paham dan tidak disetujui oleh Bimmo—ayahnya sendiri.

Putri sulung mereka—Astrid—memilih kabur dari rumah bersama lelaki yang ia cintai. Rika sampai memohon-mohon agar astrid tidak pergi dan bilang bahwa Astrid harus sabar dan menghadapi ayahnya dengan kepala dingin. Namun, Astrid tetap memilih lelaki yang mengaku sangat mencintainya lebih dari apapun itu. Dan ia menganggap orangtuanya sudah tidak menyayanginya lagi karena tidak merestuinya.

Kehilangan anak sulung—perempuan pula—bagi Rika adalah sebuah bencana besar. Ia amat sanagt khawatir akan keselamatan dan keadaan anaknya, walaupun Astrid belum sampai 24 jam pergi dari rumah. Ia khawatir terjadi sesuatu pada anaknya.

Di luar sana, Astrid tinggal bersama lelaki yang ia cintai di rumah lelaki tersebut yang kebetulan kedua orangtua—sebut saja Andri—sedang tidak ada di rumah. Mereka tidak melakukan hal yang diluar batas. Mereka hanya ‘mengamankan diri’ agar tidak ada yang bisa memisahkan mereka—katanya.

Ratusan panggilan ke ponsel Astrid dari Bimmo tak kunjung di angkat. Ratusan SMS yang mengabarkan bahwa ibunya sakit keras karena memikirkannya tak kunjung dibalas. Astrid tidak menghiraukannya karena ia fikir itu hanya akal-akalan mereka saja agar aku pulang. Kemudian, salah satu SMS itu Astrid balas dengan “jika kalian ingin aku pulang ke rumah, maka restuilah aku dengan Andri. Jika kalian merestui, aku akan pulang”.

Satu minggu sudah Astrid pergi. Semakin parah penyakit Rika. Berjalan pun tak kuasa. Karena merasa khawatir, kesal, marah bercampur kasih sayang tulus seorang ibu, Rika mengajak suaminya berkeliling encari informasi dimana anaknya berada.

Tuhan mengizinkan, Rika mendapatkan alamat dimana Astrid tinggal bersama kekasihnya. Ia meneteskan air mata karena tak sabar ingin melihat wajah anaknya.

Sampailah Rika, wanita tua pesakitan itu di depan pintu rumah yang dituju bersama Bimmo sang suami yang setia berada disampingnya.

“Astrid…”

Rika tahu astrid melihat dari celah jendela kecil namun ia tetap melanjutkan.

“Astrid inget nggak waktu Astrid belajar jalan, waktu Astrid baru bisa ngomong, waktu Astrid meluk Mama karna menang olimpiade Sains?” Rika terisak tangis.

Astrid hanya diam seribu bahasa mendengarnya.

“Astrid inget gak waktu Astrid bilang kalau Astrid sayang Mama walaupun Mama bukan Mama terbaik di dunia? Astrid inget gak waktu Astrid jatuh dari sepeda pertama kali, terus Mama gendong kamu dibelakang?” Tangisan Rika makin terdengar. Suaminya hanya bisa tertunduk mendengarkan.

“Jika Mama salah, tolong maafkan Mama. Mama sudah sering bilang, kan? Kalau Mama itu bukan orang yang dapat pendidikan tinggi. Mama hanya berusaha jadi yang terbaik untukmu, nak. Dengan adanya kamu, Mama merasa berarti. Mama merasa berguna.

“Nak, jika kau mau membenci Mamamu yang bodoh tak sekolah tinggi ini, Mama taka pa, nak. Tapi, janganlah kau benci Papamu ini. Mama mohon, kami hanya ingin yang terbaik. Kami tak ingin Astrid sampai kabur dari rumah.

“Astrid adalah anak Mama yang terbaik. Mama Cuma mau nyampein itu sebelum pulang. Jika kau pulang Mama sudah tak ada, jangalah kau benci Papamu, nak.

“Mama…. Sayang Astrid.” Rika tersenyum dengan tetesan air mata yang membasahi pipi. Kemudian Bimmo memutar kursi roda yang dipakai Rika menuju mobil kembali.

Dug!

“Mama!” terlihat Astrid berdiri diambang pintu dengan mata sembab. Kemudian ia berlari memeluk ibunya.

“Maafkan Astrid, Ma. Astrid egois. Mama Papa maafin Astrid?”

Rika dan Bimmo tersenyum mengangguk.

Itulah cinta seorang ibu. Sampai kapanpun, bagaimana pun keadaan anaknya, tetaplah cintanya tak tergoyahkan. Jika ada istilah ‘mantan pacar’ maka tak akan ada istilah ‘mantan ibu’ atau ‘mantan anak’. Benar pepatah mengatakan “Kasih sayang seorang anak sepenggal tangan, kasih sayang ibu sepanjang jalan”. Jika ada satu cinta tiada akhir, maka tida lain tiada bukan, itulah cinta seorang ibu kepada anaknya.

 

Diposkan pada Uncategorized

(Remake) Beauty and The Beast

Disebuah SMA Internasional yang terletak di tengah Kota Slove,  Pangeran Muda Kerajaan Slove—Pangeran Steven—sekolah disana. Pangeran yang sangat tampan. Disekolahnya, hampir semua siswi perempuan berusaha mendekatinya, mulai dari kalangan rakyat biasa hingga putrid-putri kerajaan. Namun, Pangeran Steven hanya tersenyum tanpa memperdulikannya.

Selain Pangeran Steven, putri-putri dari kerajaan lain pun sekolah di sana. Diantaranya Putri Anafela dari kerajaan Volks. Putri kerajaan muda ang cantik, penuh sopan santun dan berbudi pekerti baik sangat disegani oleh semua siswa dan siswi di sekolahnya.

Tanpa Pangeran Steve sadari, Putri Anafel pun menyukai pangeran Steve, namun Putri Anafela tidak ingin menyatakannya atau melakukan hal-hal aneh.

Hingga suatu hari, begitu banyak perempuan-perempuan yang menyukai dan mengejar-ngejar Pangeran Steven. Pangeran Steven bingung bukan kepalang. Sekolahnya merasa terganggu, bahkan ada yang mengancam nyawanya jika ia tak membalas surat dari penggemarnya. Sungguh miris.

Karena pusing memikirkan hal itu, Pangeran pergi ke danau di dekat istananya dan berteriak. “Aku lelah menjadi seorang raja! Aku lelah menjadi tampan! Aku takut jika dikejar-kejar seperti ini terus! Apakah ini semua akan terjadi jika aku menjadi buruk rupa? Jika aku bisa bebas dengan buruk rupa, maka aku ingin buruk rupa!”

Seketika, Pangeran Steven merasa bergetar. Seperti ada yang memasuki dirinya. Saat ia meraba tubuhnya… dengan cepatnya ia berkaca pada air jernih danau. “Apa?” ia tersontak kaget melihat cerminan dirinya yang begitu jelek. Jelek sekali. Tubuhnya menjadi gendut, kulitnya menjadi hitam—bukan cokelat, tapi hitam. Kuku-kukunya kotor, gigi depannya maju, bajunya yang lusuh dan rambutnya yang tipis, tipis sekali.

“Apakah ini… Celaka! Apakah ini akibat do’aku yang sembarangan?”

Ya. Kini, pangeran menjadi amat sangat buruk rupa. Berbeda 180o dengan pangeran Steven yang dulu. Mau tak mau, itulah yang harus pangeran terima.

Seantero kota Slove diberi pengumuman bahwa Pangeran Steven hilang. Hingga pihak kerajaan mengadakan sayembara agar menemukan pangeran. “Jika perempuan, akan dijadikan istri pangeran, jika laki-laki, akan diadikan saudara pangeran” begitulah bunyi sayembaranya.

Pernah pangeran Steven—yang buruk rupa—mencoba masuk istana, namun dilarang oleh pengewal karena dianggap penipu. Dengan keadaan seperti itu, pangeran hanya bisa luntang-lantung hidup di hutan. Karena, ia akan diusir jika hidup di kota karena rupanya yang aneh.

Suatu hari, Putri Anafela pergi ke hutan menggunakan kuda tunggangnya. Ia pergi ke hutan untuk mengambil bunga Heaven yang dianggap bisa menyembuhkan orang sakit keras—karena ibunya sakit keras saat itu. Saat Putri menemukan bunga Heaven, turun dari kudanya dan akan mengambilnya, tiba-tiba sesosok orang yang rupanya ‘buruk’ berada di belakangnya. Ia kaget sekaligus takut.

“Kau…” laki-laki buruk rupa itu menunjuk Putri.

“Ke, kenapa?” Putri gugup karena takut. “Apakah kau mengenalku?” tanyanya yang masih menjaga jarak dengan pria tersebut.

“Kau Putri Anafela?”

“Ya. Ada apa?”

“Tidak, kenapa tuan putri ada disini?”

“Aku ingin mengambil bunga Heaven ini untuk obat ibuku.”

Semakin lama, Putri Anafela merasa laki-laki itu tidak berbahaya dan tidak jahat. Mereka mengobrol seperti biasa di hutan. Hingga putri sadar bahwa ia harus segera pulang dan menyerahkan bunganya. Setelah putrid anafela pergi, pangeran Steven pun sadar, ternyata, ada seorang putrid baik yang tidak melihat seseorang dari keburukan fisiknya—walau awalnya tetap waspada.

Hampir setiap hari Putri pergi ke hutan untuk mengambil bunga—sekaligus bertemu dengan pangeran Steven yang tidak diketahuinya. Hingga suatu hari, Pangeran Steven mengajak Tuan Putri mengobrol khusus mereka berdua di danau belakang istana kerajaan Slove.

“Kau putri yang baik, tuan putri.” Pangeran steven tersenyum yang menunjukan giginya yang maju.

“Terimakasih.”

“Kenapa kau mau berbicara denganku yang buruk rupa ini? Apa kau tidak malu? Apa kau tidak takut?”

“Aku harus mencintai semua rakyatku kelak. Siapa pun itu, bagaimna pun itu. Kenapa aku harus malu? Apa yang harus aku takutkan dari rakyatku sendiri?”

“Ngomong-ngomong, apakah tuan putri mengenal Pangeran Steven?”

“Ya. Kenapa?”

“Menurut Tuan Putri bagaimana dia?”

“Aku sebenarnya kasihan padanya. Dan sebenarnya, aku menyukainya semenjak aku masuk SMA.” Putri tersenyum. Pangeran buruk rupa hanya bisa menatapnya terpaku.

“Begitukah?”

“Memangnya kenapa?” Putri Anafela mengangkat alis.

“Tuan Putri, aku menyukaimu. Aku… mencintaimu.”

Tuan putri tersenyum. Ia mengusap kepala sang Pangenrang ‘buruk rupa’.

“Aku juga mencintaimu…” kalimatnya terpotong. “Sebagai rakyatku.” Putri  kembali tersenyum.

Tiba-tiba, pria buruk rupa itu berubah menjadi seorang Pangerang yang gagah dan tampan. Dia tersenyum tak terkira. Melihat apa yang ada di hadapannya, Putri Anafela heran dan tak bisa bicara apa-apa. Ia bingung, kaget, melihat apa yang ada di hadapannya.

“Inilah aku, Anafela.” Pangeran Steven tersenyum. “Aku mencintaimu dari apa yang ada di dalam hatimu, tingkah lakumu, budi pekertimu, semuanya.” Pangeran tersenyum indah sekali. “Dan aku baru sadar, ternyata, ada orang yang menyukaiku dengan luar biasa, dan orang yang luar biasa.”

Dari situ, kita bisa ambil bahwa kecantikan sejati berasal dari hati, perilaku, tingakh laku dan budi pekerti. Bukan dari fisik yang semu.

 

Diposkan pada Uncategorized

Warisan Ilmu

Disebuah pinggiran kota yang selalu sibuk baik saat matahari bersinar maupun saat matahati beristirahat, tinggalah sebuah keluarga kecil yang sederhana. Rumah keluarga tersebut berada di pinggir jalan—namun masuk gang—di sebuah pinggiran kota.

Di halaman depan rumah mereka yang tidak terlalu luas, Bu Dhike—istri atau  ibu di rumah tangga tersebut—dibantu kedua anaknya membuka sebuah toko kue kecil yang cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka. Sang suami—Rexa—bekerja sebagai kurir. Anak pertama mereka perempuan bernama Kinal (25 tahun). Dan anak kedua mereka laki-laki bernama Dio (19 tahun).

Kedaaan keuangan keluarga mereka terbilang lancar selama ini karena bantuan toko kue tersebut. Namun, Tuhan punya rencana lain. Di musim penghujan di bulan Desember, Bu Dhike dilanda sakit keras yang menyebabkannya tidak mungkin mengerjakan toko kuenya. Walaupun kedua anaknya bisa dan mengerti cara membuat kue, namun masih banyak hal lain yang harus dikerjakan Bu Dhike di toko kue tersebut selain membuat kue.

Sudah tiga bulan lebih penyekit Bu Dhike tak kunjung membaik. Sudah berobat kesana-sini, menghabiskan banyak biaya namun hasilnya nihil. Dan dengan itu, uang yang tersedia di pundi-pundi emas mereka semakin surut dan semakin surut. Itu dikarenakan tabungan yang terpakai untuk berobat, toko kue yang tutup lama karena Bu Dhike sakit dan karena gaji Pak Rexa sebagai kurir yang tak seberapa.

“Bu, ibu harus cepet sembuh.” Suara lembut Kinal membetulkan selimut yang menutupi tubuh Ibunya ditengah malam yang dingin dimusim penghujan.

“Nak, ibu tahu kalian bisa mandiri.” Bu Dhike tersenyum lemah. “Kamu,” Bu Dhike mengelus punggung Kinal. “Harus bisa menjadi wanita yang tangguh. Jangan pernah menyerah. Jadi lah wanita kuat dengan keteguhan hatimu, nak.” Bu Dhike kembali tersenyum namun bibirnya gemetar.

“Umur seseorang tiada pernah tahu, anakku. Kapanpun, dimanapun, dalam suasana apapun, kita harus selalu siap akan kedatangannya.”

“Ibu…” Kinal meringis murung.

“Maaf, ibu tak punya banyak harta. Hanya kasih sayang dan ilmu yang ibu punya sebagai warisan ibu jika ibu mati nanti. Tapi, ibu punya ilmu apa? Sekolah pun hanya tamat SD.” Katanya dengan lemas seolah mengingat masa lalu.

“Ibu jangan bicara begitu, buktinya ibu pandai membuat kue.”

“Ah, benar juga. Tapi, apakah tak lucu jika seorang Ibu mewariskan cara membuat kue pada anaknya? Ibu malu.”

Aku tersenyum.

“Ingatlah, nak. Kekayaan sejati berasal dari sini.” Bu Dhike menyetuh dada Kinal. “Dari hatimu, nak. Sebesar apapun hartamu, jika tak bersyukur dan tak mau berbagi, hampalah itu.” timpalnya. “Yang pasti, warisan ilmu akan jauh lebih baik daripada warisan harta. Karena warisan ilmu bisa mendatangkan harta barokah yang mengalir, sedangkan warisan harta—mungkin hanya bisa mendatangkan perselisihan dan permusuhan atas nama hawa nafsu.”

Esok paginya, keadaan Bu Dhike semakin kritis. Pak Rexa, Kinal dan Dio duduk di kasur mengitari Bu Dhike yang semakin terbaring layu.

“Kinal, Dio, ibu percaya kalian bisa menjaga toko kue itu. Ibu percaya kalian mampu meneruskannya.” Kemudian Bu Dhike terbatuk-batuk. “Ingat-ingat apa yang ibu katakan semalam, nak.” Ibu tersenyum dengan napas tersekat. Ia terpejam dengan sebuah hembusan napas.

Bu Dhike meninggal.

Sebuah kalimat yang singkat penuturannya, namun sulit untuk diterima dan dilupakan. Bu Dhike menggal dalam kedaan cantik, tak ada beban. Kinal menangis, Dio berusaha tegar walau matanya berkaca dan hampir tumpah air matanya, Pak Rexa berusaha menenangkan anak-anaknya. Semua menangis, melepas seorang ibu yang kasih sayangnya tak ada batas.

Satu minggu setelah kepergian Bu Dhike, keuangan keluarga kecil tersebut semakin sulit. Sebenarnya, untuk makan cukup. Tapi, untuk kebutuhan sekolah dan lain-lain masih kurang. Dalam kedaan terdesak, Kinal harus mencari jalan keluar.

Ia mengingat apa yang dikatakan ibunya sebelum meninggal. Semangatnya berkobar setelah mendengar itu. Ia menemui ayahnya dan meminta uang untuk membuka lagi toko kue kecil tersebut. Diberinya uang untuk membeli bahan-bahan kue dari gaji sebagai kurir saat itu.

Satu gagal, dua gagal, tiga gagal lagi, empat gagal juga. Kinal bertanya-tanya dalam pikirannya ‘mengapa kue hasil buatan ibu selalu bagus dan cantik sedangkan aku, tidak?’ ia terus mencoba hingga bahan habis. Melihat anaknya, Pak Rexa berusul agar usahanya dihentikan saja, percuma kalau begini katanya. Namun, Kinal masih mencoba.

Dan, pada percobaannya yang ke delapan, kue tersebut jadi dan ia senang bukan main. Semakin hari, Kinal membuat kue semakin banyak dan tokonya pun kembali mendapatkan pelanggan. Dan nasihat ibunya yang selalu berdenging ditelinga Kinal adalah “Yang pasti, warisan ilmu akan jauh lebih baik daripada warisan harta. Karena warisan ilmu bisa mendatangkan harta barokah yang mengalir, sedangkan warisan harta—mungkin hanya bisa mendatangkan perselisihan dan permusuhan atas nama hawa nafsu.”

Dan itu akan ia pegang teguh selamanya.

Diposkan pada Uncategorized

Buruk Sangka

Di sebuah pantai yang indah, hiduplah beberapa keluarga yang hidup di sepanjang pinggiran pantai. Para bapak yang sudah berkeluarga dan bujang yang belum menikah mayoritas bekerja sebagai nelayan. Dan sebagian lainnya bekerja sebagai petani rumuput laut. Pantai itu juga sering menjadi obyek wisata karena keindahannya.

Hingga suatu hari, seorang bujang diantara mereka yang baru pulang melaut bernama Godie menemukan sebuah botol bening berisi sebuah kertasdi tenagh laut. Tanpa memberitahu siapapun, Godie membawa botol misterius itu ke rumahnya.

Ia buka perlahan tutup botolnya yang kuat hingga tak ada air yang dapat masuk. Perlahan ia keluarkan gulungan kertas yang ada di dalam botol. Perlahan ia amati kertas lusuh itu. Ia terkejut dan matanya begitu terbelalak melihat apa yang ia genggam saat itu.

“Hah? Ini peta harta karun?” Godie teriak terlalu keras karena histeris. Kemudian menutup mulutnya kembali Karena takut yang lain dengar.

“Disini tertulis…. “ Alisnya mengerut. “Apa?” ia gemetaran. “Harta karun itu ada di ujung tepi pantai dekat tebing di sebelah timur? Jika benar… aku punya rencana untuk harta tersebut. Semoga, keadaannya bisa berubah.”

Dengan semangatnya ia bergegas dari rumahnya menuju lokasi yang ada di peta. Dengan gagahnya ia menmbawa sekop, peta tersebut, dan peralatan lain yang mungkin ia butuhhkan. Keluar dari rumahnya, ia berjalan cepat-cepat seperti dikejar anjing pincang—ingin lari, tapi takut yang lain curiga.

“Godie, mau kemana kau?” sahut Gata yang sedang membawa puluhan ikan dalam keranjang menuju tempat penampungan.

“Ada urusan, Ta!” Godie tetap berjalan lantang menuju timur pantai dengan tangan kanan dan kiri yang penuh dengan peralatan.

Gata dan para nelayan bujang lainnya hanya termengu melihat tingkah Godie. Karena penasaran, Gata mengikutinya beberapa langkah dibelakang. Langkahnya terhenti ketika ia melihat kertas jatuh dan tergeletak di pantai.

“Apa ini?” Gata memperhatikan.

Setalah tahu apa sebenarnya kertas itu dan kembali melihat Godie yang sudah jauh berjalan dan semakin kecil terlihat dari pandangannya, ia mengerti apa yang akan dilakukan Godie.

“Teman-teman!” Gata berlari menuju teman-temannya yang sedang sibuk mengurus ikan hasil tangkapan.

“Ini! Baca ini! Huh… Hah…” Napasnya terengah karena kaget dan berlari.

“Apa ini?” tanya Yada.

“Ini peta harta karun? Benar?” timpal Denis.

“Begitulah. Lihat teman kita yang satu itu!” gata menunjuk Godie yang berjalan semakin jauh dan terlihat kecil. “Teman kita yang satu itu ingin menang sendiri sepertinya.” Gata tertawa sinis. “Bagaimana jika kita bekerja sama untuk mengambil harta itu secepatnya? Nanti hasilnya kita bagi rata! Bagaimana?”

“Setuju!” Semua bersorak.

Para nelayan itu mengambil alat-alat dan pergi ke tempat yang dituju Godie menggunakan gerobak beroda yang dapat bergerak dengan tarikan kuda—namun bukan delman.

Tinggal beberapa meter lagi Godie sampai. Tiba-tiba terdnegar suara pekikan dan hentakan kaki kuda.

“Hei teman! Rupanya kau ingin menang sendiri, ya?” teraik Gata.

Godie membalikkan badan. “Apa maksud kalian?”

“Huh!” Yada meludah. “Munafik kau! Kau ingin memakan harta karun itu sendiri, kan?”

“Kenapa…” kalimat Godie terhenti.

“Maksudmu ini?” Gata mengayunkan peta yang ia pegang.

Godie kaget. ‘mengapa peta itu ada ditangan mereka?’ pikirnya. Yang ia takutkan adalah mereka menggunakan uang tersebut bukan pada tempatnya, melainkan pada hal yang negative.

“Tapi, kalian sa…” kalimat Godie terpotong karena Gata, Yada dan Denis menyerbu tempat yang sudah bertanda (X) menggunakan batu yang tersusun rapi.

Melihat mereka sudah mulai menggali, Godie hanya menghela napas dan pasrah. Jika benar disana ada harta karun, ia takut mereka akan menggunakannya untuk hal negative.

“Padahal aku berniat menggunakan harta itu untuk pantai dan para nelayan lain,” Godie lirih. “Tapi…”

“Ada apa ini? Kenapa mereka menggali pasir?” tanya segerombolan anak muda yang tengah berlibur di pantai tersebut kepada Godie yang diam termengu melihat teman-temannya menggali pasir.

“Mereka sedang menggali harta karun—katanya.”

“Apa? Harta karun?” tanya salah satu perempuan diantara mereka.

“Ya. Aku menemukan sebuah botol berisi peta harta karun yang ada di pantai ini di tengah laut tadi pagi.” Tutur Godie kepada para pemuda pemudi itu.

“Huahahahahaha.” Semua anak muda itu tertawa.

“Kenapa kalian tertawa?” Godie bingung melihatnya.

“Boleh kami lihat petanya?”

“Ini.” Godie memberikan peta tersebut yang tergeletak di tanah karena Gata membuangnya setelah menemukan tempat itu.

“Huahahahahaha.” Tertawa para pemuda dan pemudi itu semakin keras.

“Begini, sebenarnya kemarin itu saya,” menunjuk dirinya “dan teman-teman saya,” menunjuk teman-temannya “bermain bajak laut dan berpura-pura mencari harta karun. Seusai permainan, kami membuang peta bohongan tersebut kelaut. Begitu jelasnya.” Jelasnya dengan selangan tawa diikuti teman-temannya.

Sungguh malu Gata, Yada dan Denis mendengar hal tersebut. Mereka berdiam diri, saling menatap dan tertunduk malu. Terkadang, harta itu bisa membuat manusia lupa diri, lupa teman, lupa segalanya dan membuatnya gelap mata karena keserakahan tanpa memikirkan akibatnya.  Jadi, sebesar apapun uang yan kita punya, pikikanlah hal yang positif penggunaan uang tersebut. Bukan mendahulukan hawa nafsu yang memperbudak diri sendiri.Image

Diposkan pada Uncategorized

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa (day 1 : Pahlawan)

Hari itu, Irman mengajar di kelas VIII-A. Diantara puluhan muridnya, ada satu yang membuatnya bertanya-tanya “mengapa Desi selalu terlihat lelah, tak bersemangat, dan seperti tidak pernah tidur tiap malam?”

“Desi, sini nak! “

“Ya, pak?”

“Kalau boleh tahu, apa kamu ada masalah keluarga?”

“Sebenarnya, setelah ayah saya meninggal, saya menjadi kuli angkat barang di pasar dini hari sebagai tambahan dana saya sekola.”

“Begitu kah?” Irman termengu.

“Ya.”

Keesokan harinya, Desi datang dengan seragam kusut agak kusam. Ia duduk di bangkunya, namun terlihat sebuah bingkisan tergeletak diatasnya. “Apa ini?”

Saat ia membukanya, ternyata sebuah seragam sekolah dan uang tunai yang sangat membantunya. Dan didalamnya tertulis “jangan menyerah, nak! Semangat sekolah dan jangan lesu lagi!”

Ia pun tahu siapa pengirimnya “Terimakasih, pak.” Desi meneteskan air mata terharu karena ia tahu, Pak Irman bernasib sama sepertinya, tak berlebih harta. Itulah guru, pahlawan tanpa tanda jasa.